Kebahagiaan Sejati Hadiah dari Relasi dengan Allah

Renungan Harian Misioner
Senin, 08 Juni 2020
P. S. William
1Raj. 17:1-6; Mzm. 121:1-2,3-4,5-6,7-8; Mat. 5:1-12

Saat ini kita berhadapan dengan sebuah situasi yang cukup kontradiktif, ada yang bilang aman-aman saja walau keadaannya tidak 100% begitu, ada yang bilang baik-baik saja walau tidak semua seperti yang diharapkan. Kondisi normal pun sudah beralih menjadi ‘new normal’ yang sama sekali berbeda baik maksud dan tujuannya. Begitu pula Sabda Bahagia yang diajarkan Yesus hari ini. Sebuah ajaran dasar nilai-nilai Kristiani yang mengajak kita mengarahkan diri kepada panggilan Tuhan pada keselamatan yang ditawarkan-Nya, sungguh terasa banyak kontradiksi di dalamnya.

Kita juga ingat ada slogan yang begini bunyinya: “kecil bahagia, muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga!” Slogan ini bertolak belakang dengan Yesus yang justru mengajarkan bahwa surga hanyalah kepunyaan orang berbahagia karena miskin di hadapan Allah. Dunia sekarang ini juga mengajarkan bahwa ketika rasa duka hadir dalam hidup kita, maka penghiburan dapat diperoleh lewat film, musik, teman, dll tanpa kehadiran Tuhan di dalamnya. Lebih lagi kita juga melihat bahwa orang yang menguasai dunia (bumi) hanyalah orang-orang yang punya kuasa dengan karakter keras, bukan yang lemah lembut. Beberapa bahkan tidak segan untuk membiarkan kerusuhan, penganiayaan dan fitnah terjadi demi mempertahankan kekuasaan yang (menurutnya) membawa kebahagiaan bagi dirinya (bdk. Mat. 5: 3-6, 9-11).

Dua tokoh dalam bacaan pertama hari ini, mewakili kedua hal yang kontradiktif itu: Ahab, raja Israel yang menghalalkan segala cara yang jahat di mata Tuhan untuk mempertahankan kekuasaan dan kebahagiaannya, serta Elia yang sebaliknya dengan segala keterbatasannya beroleh kebahagiaan dalam hadirat Allah. Elia mungkin juga penuh dengan pertanyaan di dalam benaknya saat Tuhan memintanya pergi bersembunyi di tepi sungai Kerit tanpa membawa apa-apa. Tapi karena kerinduannya akan kebenaran Tuhan, ia pun pergi dan akhirnya dipuaskan karena pemeliharaan Tuhan sang Penjaga nyawanya. Elia beroleh pertolongan dari Tuhan sehingga ia tidak mengalami celaka akibat kelaparan dan kehausan, sebab Tuhan mengirim makanan lewat cara yang aneh, yaitu kiriman daging yang dibawa oleh burung gagak pemangsa mayat! Ia tidak khawatir akan menjadi sakit karena teriknya matahari di siang hari atau dinginnya udara di malam hari, sebaliknya ia dapat merasakan bahwa Tuhan tidak pernah lelap tertidur dalam menjaganya, sampai akhirnya Elia diperintahkan keluar dari tempat peziarahan rohaninya itu (lih 1 Raj. 16:29-34; 17:1-6, Mzm. 121:1-8).

Pengalaman Elia mengajar kita untuk meneladani spiritualitas Kristiani yang terkandung dalam Sabda Bahagia. Seperti Elia kita harus menyadari bahwa sekalipun kita berada dalam keadaan yang sulit, Allah tetap memelihara kita dengan cara yang tidak pernah kita duga. Tuhan hanya membutuhkan hati kita yang terarah kepada-Nya dan tanpa henti membangun relasi dengan-Nya, serta mencari kebenaran-Nya. Dan kalau karena kebenaran itu kita mengalami penganiayaan, serta dicela bahkan difitnah dalam kehidupan di dunia ini, tetaplah menjadi pembawa damai yang murah hati kepada siapa saja, sebab itulah yang dilakukan anak-anak Allah.

Bangunlah relasi dengan Allah sejak kita masih tinggal di bumi ini, tetap berdoa dan bersukacita senantiasa, sebab upah yang besar akan kita beroleh di sorga, yaitu boleh berhadapan muka dengan muka dengan Allah. Itulah kebahagiaan sejati yang merupakan hadiah dari relasi kita dengan-Nya. (ek)

(Antonius Ekahananta – Awam Katolik Pengajar Misi Evangelisasi)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Menempuh Jalan Hati: Semoga saudara-saudara kita yang sedang menderita bisa menemukan jalan hidup yang mengantar mereka untuk dapat disentuh oleh Hati Kudus Yesus. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Para petani: Semoga pemerintah dan pihak-pihak yang berwenang, berkehendak kuat untuk membantu dan berpihak pada kelangsungan dan kesejahteraan hidup para petani. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami menggabungkan diri dengan Hati Yesus yang Mahakudus agar dari lubuk hati yang terdalam atau sungguh-sungguh mengusahakan keadilan bagi seluruh bangsa kami. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s