Berjuang Menjadi Orang Kristiani yang Berintegritas

Renungan Harian Misioner
Sabtu, 13 Juni 2020
P. S. Antonius dari Padua
1Raj. 19:19-21; Mzm. 16:1-2a,5,7-8,9-10; Mat. 5:33-37

Dalam khotbah di bukit (Yoh. 5:33-37), Yesus berbicara mengenai mengangkat sumpah. Pengajaran Yesus mengenai sumpah berpangkal pada Perjanjian Lama, khususnya Kitab Imamat 19:12: “Janganlah kamu bersumpah dusta demi nama-Ku, supaya engkau jangan melanggar kekudusan nama Allahmu”. Larangan Yesus untuk tidak bersumpah merupakan tanggapan terhadap pandangan dan praktik yang salah dari orang-orang Yahudi terkait dengan sumpah. Orang-orang Yahudi berpandangan bahwa tidak semua sumpah adalah absah, bersifat mengikat, dan memiliki bobot yang sama. Semua sumpah bergantung pada tingkat kesakralan dari dasar sumpah yang diucapkan. Apabila sebuah sumpah tidak menyebutkan secara eksplisit nama Allah atau benda sakral tertentu yang dianggap sah, sumpah itu dipandang tidak berbobot dan tidak mengikat. Jika sebuah sumpah menyebut nama Allah, sumpah tersebut absah, berbobot, bersifat mengikat dan wajib dilaksanakan. Atas dasar itu, mereka membenarkan ucapan atau perilaku mereka dengan bersumpah demi langit, bumi, Yerusalem, kepala, emas, dan lain-lain karena sumpah yang demikian tidak bersifat mengikat. Yang dipentingkan oleh orang-orang Yahudi bukan kebenaran suatu ucapan (sesuai realita atau tidak), melainkan konsekuensi dari ucapan itu (mengikat atau tidak).

Berhadapan dengan pandangan yang seperti itu, Tuhan Yesus mengajarkan tentang sumpah dalam konteks Kerajaan Allah. Bagaimana para pengikut-Nya seharusnya menyikapi sumpah? Tuhan Yesus menggunakan dua cara untuk menyampaikan pengajaran-Nya mengenai sumpah, yaitu cara negatif (larangan) dan cara positif (perintah). Pertama, Tuhan Yesus melarang sumpah (ayat 34-36). Para murid dilarang untuk mengucapkan sumpah sama sekali. Tuhan Yesus mengajarkan bahwa segala sesuatu tidak terpisahkan dengan Allah. Tidak ada satu hal terkecil pun di dunia ini yang tidak berada di bawah kekuasaan Allah. Langit adalah takhta-Nya (ayat 34), bumi adalah tumpuan kaki-Nya (ayat 35), dan Yerusalem adalah kota Raja Agung (ayat 36). Sumpah demi apapun sama saja dengan bersumpah demi Allah. Itulah alasan mengapa Tuhan Yesus melarang para murid-Nya supaya mereka tidak boleh bersumpah sama sekali.

Kedua, Tuhan Yesus menuntut integritas hidup dari para murid-Nya (ayat 37). Esensi sebuah sumpah adalah meyakinkan orang lain tentang kebenaran perkataan kita. Maka, yang paling penting sebenarnya adalah kejujuran. Jika “ya”, mereka katakan “ya”, demikian pula jika “tidak”, mereka katakan “tidak”. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat” (ayat 37). Dalam kaitan dengan sumpah, Rasul Yakobus memberi peringatan: “Tetapi yang terutama, saudara-saudara, janganlah kamu bersumpah demi sorga maupun demi bumi atau demi sesuatu yang lain. Jika ya, hendaklah kamu katakan ya, jika tidak hendaklah kamu katakan tidak, supaya kamu jangan kena hukuman” (Yak. 5:12). Risiko dari ketidakjujuran adalah hukuman.

Pengajaran Tuhan Yesus mengenai sumpah kepada para murid-Nya dulu, juga merupakan pengajaran bagi kita sebagai pengikut-Nya pada masa ini. Pandangan dan praktik yang salah terkait dengan sumpah zaman dulu masih terjadi hingga sekarang ini. Kita kadang bersumpah palsu, bahkan bersumpah demi nama Tuhan untuk melindungi kesalahan dan kemunafikan kita.

Ada tiga pesan dari pengajaran Tuhan Yesus untuk kita: Pertama, Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk tidak memutarbalikkan kebenaran dan tidak menambahi maupun mengurangi kebenaran. Jika perkataan kita tidak benar (tidak sesuai kebenaran) maupun tidak tulus (tidak sesuai dengan hati kita), kita sebenarnya sedang membiarkan diri diperdaya oleh si jahat. Kedua, Tuhan Yesus juga menuntut kita untuk menjaga integritas hidup. Integritas kita sebagai orang Krisiani mestinya bisa diandalkan sehingga tidak diperlukan lagi sumpah untuk membuat orang lain percaya kebenaran kata-kata kita. Jika kita selalu mengucapkan segala sesuatu yang benar, kita tidak lagi membutuhkan apapun untuk menguatkan ucapan kita. Integritas hidup kita adalah saksi yang tak terbantahkan dan lebih kuat daripada rumusan sumpah apapun yang ada. Sebaliknya, dengan menambahkan sumpah pada pernyataan kita, kita mengakui bahwa pernyataan kita tidak dapat dipercaya atau kita merendahkan diri kita ke tingkat pendusta, yang mengikuti si jahat. Ketiga, Yesus mengingatkan kita bahwa Allah adalah sumber segala kebenaran. Sabda-Nya adalah kebenaran dan hukum-Nya adalah kebebasan. Kebenaran-Nya membebaskan kita dari ilusi, kebohongan dan kemunafikan. Ketidakjujuran akan mendatangkan hukuman, sedangkan, “kebenaran akan memerdekakan kita” (Yoh. 8:32). Marilah kita berjuang menjadi orang Kristiani yang berintegritas di hadapan Allah dan sesama.

(RP. Silvester Nusa, CSsR – Dosen STKIP Weetebula, NTT)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Menempuh Jalan Hati: Semoga saudara-saudara kita yang sedang menderita bisa menemukan jalan hidup yang mengantar mereka untuk dapat disentuh oleh Hati Kudus Yesus. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Para petani: Semoga pemerintah dan pihak-pihak yang berwenang, berkehendak kuat untuk membantu dan berpihak pada kelangsungan dan kesejahteraan hidup para petani. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami menggabungkan diri dengan Hati Yesus yang Mahakudus agar dari lubuk hati yang terdalam atau sungguh-sungguh mengusahakan keadilan bagi seluruh bangsa kami. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s