Lex Talionis

Renungan Harian Misioner
Senin, 15 Juni 2020
P. S. Vitus, Modestus dan Kresensia
1Raj. 21:1-16; Mzm. 5:2-3,5-6,7; Mat. 5:38-42

Lex Talonis atau “mata ganti mata, gigi ganti gigi” merupakan salah satu hukum yang sangat terkenal dalam Perjanjian Lama. Hukum ini mengatakan bahwa orang yang telah melukai orang lain harus diganjar dengan hukuman yang sama, atau si korban harus menerima ganti rugi yang sama.

Lex Talionis memang terdengar sangat “mengerikan” untuk telinga kita zaman ini. Namun, ketika kita melihat sejarah masa lalu, itu justru merupakan hukum yang terbaik untuk zamannya. Beberapa alasan yang mendasarinya adalah: Pertama, karena hukum ini dapat membatasi tindakan balas dendam yang berlebihan yang dapat merugikan orang lain yang tidak bersalah, atau bahkan menimbulkan peperangan antar suku, mengingat bangsa Israel pada waktu itu terdiri banyak suku. Kedua, Hukum ini bukan dimaksudkan untuk secara perorangan membalas dendam terhadap orang yang dianggap bersalah, melainkan untuk pertimbangan para hakim dalam menangani perkara, supaya keputusan yang dibuat mereka benar-benar adil dan bijaksana. Ketiga, Adanya hukum Lex Talionis tidak berarti bahwa bangsa Israel tidak mengenal hukum kasih. Dalam praktik, mereka yang bersalah tidak dihukum dengan “lex talionis”, melainkan diganti dengan hukuman lain, seperti membayar denda atau hukuman sosial lain yang lebih manusiawi. Dalam Kitab Imamat dikatakan: “Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri…” (Im. 19:18). Hal senada juga tercatat dalam Kitab Amsal: “Janganlah berkata ‘sebagaimana ia memperlakukan aku, demikianlah kuperlakukan dia’. Aku membalas orang menurut perbuatannya.” (Ams. 19:24).

Kehadiran Yesus di dunia ini bukan dimaksudkan untuk menghapus Hukum Taurat, melainkan menyempurnakannya dengan Hukum Kasih. Dalam Kitab Suci, Hukum Kasih ini diekspresikan dengan berbagai ungkapan yang lebih positif, yaitu: Pertama, Perbuatan baik: “Tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan dengan kebaikan” (Rom. 12:17, 1 Tes. 5:15). Kedua, Pengampunan: “Hendaklah kamu saling mengampuni, sebagaimana Allah mengampuni kamu” (Ef. 4:32). Ketiga, Kemurahan hati: “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati” (Luk. 6:36). Keempat, Berdoa: “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat. 5:44).

Teladan yang begitu indah telah menjadi lembaran sejarah, ketika Paus Yohanes Paulus II mengampuni Mehmet Ali Agca yang menembaknya. Buah pengampunan menjadi nyata ketika Ali Agca mengatakan: ”Penembakan itu merupakan takdir dan takdir pula dia selamat. Saya senang dia tidak mati”. Demikan pula, ketika Paus Yohanes Paulus II menerima gelar menjadi salah seorang kudus, dengan nada terbata-bata dia mengatakan: “Dia seperti kakak bagi saya. Ketika dia wafat, saya merasa salah satu kakak atau kawan karib saya telah pergi”. Paus Fransiskus juga menekankan hal yang sama pada tahun kerahiman: “Pengampunan adalah tindakan tertinggi kasih Allah dalam menjumpai umat-Nya.” Ketika ajalnya telah tiba, Saulus berdoa: “Tuhan jangan tangguhkan dosa ini kepada mereka” (Kis. 7:60). Akhirnya, kita dapat mengenang kembali doa Yesus yang sangat mengharukan ketika berada di salib: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk. 23:34).

(RP. Anton Rosari, SVD – Imam Keuskupan Bogor)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Menempuh Jalan Hati: Semoga saudara-saudara kita yang sedang menderita bisa menemukan jalan hidup yang mengantar mereka untuk dapat disentuh oleh Hati Kudus Yesus. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Para petani: Semoga pemerintah dan pihak-pihak yang berwenang, berkehendak kuat untuk membantu dan berpihak pada kelangsungan dan kesejahteraan hidup para petani. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami menggabungkan diri dengan Hati Yesus yang Mahakudus agar dari lubuk hati yang terdalam atau sungguh-sungguh mengusahakan keadilan bagi seluruh bangsa kami. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s