Belajar Mengabdi Seperti Nabi Elia

Renungan Harian Misioner
Selasa, 16 Juni 2020
P. S. Yulita dann S. Cyriacus
1Raj. 21:17-29; Mzm. 51:3-4,5-6a,11,16; Mat. 5:43-48

Sahabat-sahabat Tuhan ytk! Salam jumpa lagi di Selasa III bulan Juni melalui Ulasan Biblis Spiritual (UBS) ini. Injil hari ini menyoroti topik pengampunan, sebagai bagian dari Khotbah Yesus di Bukit. Di tengah pesimisme sulitnya memahami dan melaksanakan ajaran pengampunan Yesus itu, mari kita belajar dari kisah Nabi Elia dan Ahab di bacaan pertama hari ini dan kemarin.

Kisah Elia dan Ahab tersebut bermula dari kerakusan Ahab mau merampas kebun anggur Nabot, dan karena Nabot menolak maka Izebel, istri Ahab mulai ‘bertindak’. Izebel menciptkan isu palsu dan sensitif bahwa Nabot telah mengutuk Allah dan raja. Dengan dua saksi palsu yang dihadirkan, Izebel berhasil memprovokasi massa sehingga merajam Nabot dengan batu hingga mati. Dan impian busuk Ahab merampas kebun Nabot pun terwujud padahal dengan cara jahat. Apakah kisah ini hanya terjadi ribuan tahun silam, atau masih ada Nabot yang lain di zaman ini karena karakter Ahab-Izebel itu masih ada juga?

Mengapa Ahab berbuat demikian? Karena sikap tidak puas dengan apa yang sudah ada padanya menumbuhkan kerakusan dalam dirinya. Tetapi sebenarnya akar pertama dan terutama dari semuanya ini yakni karena Ahab telah meninggalkan Allah, dan mengikuti Izebel istrinya menyembah berhala Baal sehingga mereka hidup menurut jalan-jalan duniawi (bdk 1Raja 17). Bermula dari kesesatan iman (Tuhan bukan lagi menjadi penuntun hidupnya), disusul kerakusan akan harta orang lain (menghidupkan impian duniawi dalam diri), dimuluskan oleh strategi jahat istri yang bertentangan dengan jalan Tuhan (memakai cara-cara kotor), berakhir dengan pertumpahan darah orang yang tidak bersalah.

Apakah dalam situasi seperti ini Ahab dan Izebel harus diampuni seperti Injil hari ini? Jawaban dari kita tentu pro kontra berdasarkan situasi batin kita. Di sinilah kita dituntut menerapkan ajaran Yesus yang diterapkan oleh Nabi Elia di mana dia harus mengampuni Ahab dan Izebel. Bila kita menghadapi situasi demikian dengan ‘prinsip balas dendam’ maka kita seperti Elia yang awalnya menghendaki ‘gigi ganti gigi’. Namun Tuhan justru menyuruh Elia mengampuni mereka. Di sini Nabi Elia diajar Tuhan untuk berkarya seturut kehendak Tuhan bukan berdasarkan emosi manusiawinya.

Tindakan mengampuni demikian sebagaimana diajarkan Yesus, hanya bisa terjadi kalau kita menjadikan Tuhan sebagai pengontrol diri kita dan melibatkan-Nya dalam perjuangan ini sehingga rahmat dan kuasa-Nya yang memampukan kita. Karena dalam situasi demikian bila sisi manusiawi dan prinsip ‘gigi ganti gigi’ lebih kuat, maka orang akan lebih memilih balas dendam yang jelas memperumit situasi. Hanya ketika kita berpegang teguh pada keyakinan bahwa mengikuti jalan Tuhan lebih baik, maka kita akan memilih tidak balas dendam. Hanya ketika Roh-Nya diberi ruang yang lebih luas dalam diri kita sehingga menguasai dan mengontrol kita, maka kita bisa dimampukan untuk mengampuni dengan ikhlas. Pengampunan Paus Yohanes Paulus II kepada Ali Aqha yang mencoba membuhnya turut menjadi testimoni akan kebenaran ajaran Yesus ini.

Selamat menghayatinya, Tuhan memberkati.

(RP. John Masneno, SVD – Sekretaris Eksekutif Pusat Spiritualitas Sumur Yakub Indo – Leste)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Menempuh Jalan Hati: Semoga saudara-saudara kita yang sedang menderita bisa menemukan jalan hidup yang mengantar mereka untuk dapat disentuh oleh Hati Kudus Yesus. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Para petani: Semoga pemerintah dan pihak-pihak yang berwenang, berkehendak kuat untuk membantu dan berpihak pada kelangsungan dan kesejahteraan hidup para petani. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami menggabungkan diri dengan Hati Yesus yang Mahakudus agar dari lubuk hati yang terdalam atau sungguh-sungguh mengusahakan keadilan bagi seluruh bangsa kami. Kami mohon…

Amin

One thought on “Belajar Mengabdi Seperti Nabi Elia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s