Kerendahan Hati Bermantolkan Pietas

Renungan Harian Misioner
Rabu, 17 Juni 2020
P. S. Gregorius Barbarigo
2Raj. 2:1,6-14; Mzm. 31:20,21,24; Mat. 6:1-6,16-18

Misi: Meningkatkan kualitas kesalehan karena pengalaman indah akan kemuliaan dan keagungan Allah yang mengatasi dan melampaui popularitas diri manusia.

Menelusuri kisah dalam 2 Raj. 2:1.6-14, kita diajak untuk belajar dari Elia dan Elisa.

Elia menyadari bahwa kuasa serta peran kenabiannya adalah pemberian dan kepunyaan Allah. Ia tidak memiliki hak apapun untuk menggunakan kuasa Allah demi ketersohoran, pujian dan nama besarnya. Maka, Elia menurunkan kuasa kenabiannya kepada Elisa. Dengan demikian, perutusan kenabian yang ada padanya berkelanjutan, agar Allah semakin dikenal dan dimuliakan oleh setiap makhluk.

Dalam kerendahan hati dan ketaatan iman, Elia menyerahkan dirinya ke dalam otoritas dan kemuliaan Allah. Dan oleh keagungan dan kebesaran Allah, Elia terangkat ke surga dengan menggunakan kereta berapi.

Sementara Kuasa Kenabian telah berada pada Elisa, maka Elisapun menggunakan kuasa itu untuk menyeberangi sungai Yordan, dan mewartakan kemuliaan Allah serta keselamatan umat Israel. Elia dan Elisa tidak menggunakan kuasa Allah untuk ketenaran mereka.

Sementara Yesus dalam Injil Mat. 6:1-6, 16-18 pada hari ini, mengajak kita untuk meningkatkan kesalehan kita melalui Beramal, Berdoa, dan Berpuasa “dalam” dan “demi” kasih, kemurahan hati, keagungan dan kemuliaan Allah; serta keselamatan kita, bukan demi kehormatan dan nama besar kita. Beramal, Berdoa, dan Berpuasa, merupakan wujud penyembahan yang disatukan dalam bingkai kesalehan. Marilah kita memandang bingkai Kesalahen ini melalui tiga dimensi.

  1. Beramal, bertujuan untuk menghadirkan dan melanjutkan ketergugahan, serta kemurahan hati Allah pada penderitaan dan kesulitan umat-Nya. Nilai terdalam dari bersedekah adalah ibadat korban dan kurban serta tindakan iman dalam kesenyapan batin tanpa kata. Namun frekuensi serta getar gelombangnya menghantar pengharapan dan sukacita bagi orang lain, sementara tidak ada ruang bagi yang beramal untuk mencari popularitas diri dan pujian. Dengan kata lain bersedekah memiliki gaung kasih Allah dan letupan ingkar diri bagi yang beramal.
  2. Berdoa bermula dari dorongan nurani dan kerinduan yang kuat untuk hadir di hadapan Allah, sambil mengungkapkan pujian, dan syukur kepada-Nya seraya memohon apa yang menjadi kerinduan, kebutuhan dan kepentingan kita, yang harus selaras dengan kehendak dan keputusan Allah. Berdoa bukan momen istimewa untuk mencari pujian publik, dan meraih nama besar, melainkan tindakan iman yang diselubungi kerendahan hati untuk menata relasi yang baik dengan Allah melalui Yesus Kristus. Berdoa sebagai cara membangun komunikasi dan dialog keselamatan dengan Allah, tanpa mencari ruang dan waktu untuk menemukan panggung kehormatan.
  3. Berpuasa merupakan pengolahan diri dalam kesenyapan dan keheningan batin yang mengacu pada sukacita rohani dan kerendahan hati untuk:
    • menemukan kerapuhan diri yang sedang ditata ulang dan dipulihkan Allah.
    • mencapai integritas diri, kenikmatan dan kekokohan iman.

Maka berpuasa bukan suatu pentas rohani yang dipertontonkan untuk meraih sanjungan. Berpuasa merupakan aksi batin untuk menimba kesegaran dan kesejukan rohani dari kelimpahan kasih Allah yang memancar dan mengalir bagaikan sungai.

Tiga bentuk PIETAS ini menjadi kebutuhan serta kewajiban iman, namun Yesus mendesak kita agar PIETAS ini tidak menjadi aksi rohani dan iman untuk meraih popularitas diri, pujian dan kehormatan.

Ketika Beramal, Berdoa, dan Berpuasa dilaksanakan dengan kekuatan kasih, kemurahan hati, kerendahan hati dan ingkar diri maka ketiga aksi kesalehan ini dapat dilaksanakan kapan dan di mana saja tanpa mengharapkan upah pujian. Amin.

(RP. Hiasintus Ikun, CMF – Dirdios KKI Keuskupan Palangkaraya)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Menempuh Jalan Hati: Semoga saudara-saudara kita yang sedang menderita bisa menemukan jalan hidup yang mengantar mereka untuk dapat disentuh oleh Hati Kudus Yesus. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Para petani: Semoga pemerintah dan pihak-pihak yang berwenang, berkehendak kuat untuk membantu dan berpihak pada kelangsungan dan kesejahteraan hidup para petani. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami menggabungkan diri dengan Hati Yesus yang Mahakudus agar dari lubuk hati yang terdalam atau sungguh-sungguh mengusahakan keadilan bagi seluruh bangsa kami. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s