Awas – Jangan Saling Menghakimi!

Renungan Harian Misioner
Hari Senin, 22 Juni 2020
P. S. Paulinus dr Nola, S. Yohanes Fisher, dan S. Thomas More
2Raj. 17:5-8,13-15a,18; Mzm. 60:3,4-5,12-13; Mat. 7:1-5

Hal yang paling gampang dilakukan oleh setiap manusia adalah melihat kesalahan orang lain ketimbang kesalahannya sendiri. Lebih gampang menilai orang lain daripada introspeksi diri. Kenyataan ini menunjukkan bahwa betapa rapuh dan lemahnya kita dalam membangun relasi yang baik dan harmonis dengan orang lain. Kesenjangan sosial menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidup manusia, bahkan sudah sangat beranakpinak. Saat ini salah satu wadah yang seringkali digunakan untuk mengumbar kebencian dan mempertajam kedisharmonisan adalah media sosial. Namanya cukup berwibawa yakni media sosial. Tetapi nyatanya roh sosialnya lenyap karena lebih banyak orang menggunakan medsos untuk menebarkan virus kebencian, penghinaan, dan berita hoaks. Selain itu selalu ada upaya menjatuhkan kelompok atau golongan tertentu dan mengangkat kelompok dan golongan sendiri. Pertanyaannya adalah mengapa bisa terjadi demikian? Menurut hemat saya, salah satu penyebabnya adalah karena orang terlalu sibuk memerhatikan orang lain dan lupa melihat ke diri sendiri.

Injil yang kita renungkan masih seputar khotbah di bukit dengan pesan moralnya tentang jangan saling menghakimi. Saya mencoba meringkas isi khotbah Yesus tersebut demikian: “Janganlah menghakimi, supaya kalian tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang telah kalian pakai untuk menghakimi orang lain, kalian sendiri akan dihakimi… Mengapa engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui? Bagaimana mungkin engkau dapat berkata kepada saudaramu, biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal di dalam matamu sendiri ada balok? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu sendiri, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk dapat mengeluarkan selumbar dari mata saudaramu.”

Yesus membuka khotbah-Nya ini dengan kalimat perintah dan sifatnya sangat tegas yakni “janganlah menghakimi”. Berhadapan dengan kemunafikan manusia maka Tuhan harus bertindak tegas. Dalam khotbah ini kita dapat melihat bahwa selain mengajar Yesus juga sebenarnya mengritik gaya hidup orang-orang pada zaman-Nya, termasuk juga kita sekarang ini. Tidak dapat dipungkiri bahwa kita sering lebih gampang melihat selumbar (sedikit-kecil) kesalahan pada orang lain ketimbang balok (banyak-besar) kesalahan yang kita sendiri miliki. Kita begitu sibuk mengurusi pribadi orang lain daripada mengurus diri sendiri. Perilaku hidup seperti ini begitu berjamuran di media sosial. Ada banyak kata sindiran berbau penghakiman terhadap orang lain yang menjadi begitu khas dalam media sosial. Tanpa disadari bahwa sesungguhnya dengan perilaku itu, orang sudah memperkenalkan siapa sebenarnya dirinya, “orang munafik”.

Tentang hal ini marilah kita melihat diri kita masing-masing. Kita perlu bercermin diri, seraya bertanya, sudah cukup jujurkah saya? “Saudaraku keluarkanlah dahulu balok dari matamu sendiri, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar dari mata saudaramu.”

(RD. Stefanus Si – Imam Keuskupan Weetebula)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Menempuh Jalan Hati: Semoga saudara-saudara kita yang sedang menderita bisa menemukan jalan hidup yang mengantar mereka untuk dapat disentuh oleh Hati Kudus Yesus. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Para petani: Semoga pemerintah dan pihak-pihak yang berwenang, berkehendak kuat untuk membantu dan berpihak pada kelangsungan dan kesejahteraan hidup para petani. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami menggabungkan diri dengan Hati Yesus yang Mahakudus agar dari lubuk hati yang terdalam atau sungguh-sungguh mengusahakan keadilan bagi seluruh bangsa kami. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s