Seberapa Besarkah Imanku?

Renungan Harian Misioner
Sabtu, 27 Juni 2020
P. S. Sirilius dr Aleksandria
Rat. 2:2,10-14,18-19; Mzm. 74:1-2,3-5a,5b-7,20-21; Mat. 8:5-17

Saudara dan saudariku yang dikasihi Tuhan, salam sehat selalu. Suatu hari pada hari Minggu setelah Ekaristi, saya tanpa sengaja berbincang dengan seorang bapak. Beliau adalah seorang pengurus Gereja di stasi tersebut. Saya tahu bahwa bapak ini sebelumnya bukan seorang Katolik dan berasal dari Gereja lain. Saya spontan bertanya kepadanya, “Apa yang membuat bapak tertarik untuk mejadi Katolik?” Bapak itu tersenyum dan berkata, “Pernah sekali dalam sebuah pesta saya hadir dan mengikuti dari jauh seorang pastor memimpin perayaan Ekaristi. Saya mengikuti dengan baik karena bagi saya bentuk atau model Ibadahnya terasa asing. Namun mulai dari awal ibadah sampai selesai saya terkesan pada doa dan kutipan-kutipannya yang diambil dari teks Kitab Suci. Saya terkesan karena bagi saya, susunan ibadatnya tidak dibuat-buat saja tetapi semuanya diambil dari ayat-ayat Kitab Suci”. Saya kemudian bertanya, “Kalimat apa yang berkesan bagi Bapak?” Bapak itu menjawab, “Ketika Pastor mengangkat roti dan umat menjawab, ‘Ya Tuhan saya tidak pantas Tuhan datang kepada saya, tetapi bersabdalah saja maka saya akan sembuh’. Sejak saat itu saya terus memikirkan ibadah orang Katolik (Ekaristi) ini dan saya kemudian memutuskan untuk bergabung”. Saya tertegun dan bertanya-tanya dalam hati, sesederhana itukah bapak ini bisa mencintai Ekaristi, bahkan mungkin lebih daripada saya atau kita yang sudah sering merayakan Ekaristi?

Saudara-saudariku yang dikasihi Tuhan, pengalaman iman saya di atas kurang lebih sama seperti salah satu perikop yang kita dengarkan bersama dalam Injil hari ini, “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku. Katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh” (Mat. 8:8). Mendengar perkataan perwira itu, Yesus heran bahkan menantang murid-murid-Nya dan orang banyak yang mengikuti-Nya dengan berkata, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel…” (Mat. 8:10). Saudara dan saudariku, mungkin saja iman sebesar itu belum Yesus temukan juga di kalangan para murid-Nya. Anggaplah bahwa perkataan Yesus ini kepada murid-murid-Nya adalah juga tantangan bagi kita yang percaya kepada-Nya, sudahkah saya memiliki iman yang besar itu? Bagaimana orang yang belum mengenal betul tentang Yesus atau yang belum pernah bertemu dengan Yesus sebelumnya dan belum mendapat pengajaran dari Yesus justru memiliki iman yang lebih besar dibandingkan orang-orang yang ada di seluruh Israel? Apakah yang dimaksud dengan iman yang ‘besar’ oleh Yesus?

Mari kita mencoba merenungkan lebih dalam kata-kata Yesus ini. Belajar dari Perwira utusan Romawi atau boleh dikatakan sebagai kaki tangan Romawi, kita dapat memahami ternyata iman yang besar yang dimaksudkan oleh Yesus sangatlah sederhana. Pertama, Iman yang besar harus MEMILIKI KASIH. Mengapa saya katakan demikian? Kita bisa membayangkan bagaimana seorang Perwira mau bersusah payah mengusahakan kesembuhan hambanya, bahkan ia sendiri yang pergi mencari Yesus untuk memohon kesembuhan bagi hambanya. Hal ini jarang kita temukan dalam kehidupan nyata. Apalagi tantangan bagi kita yang sudah ‘menjadi bos’ dan memiliki banyak bawahan. Apa yang dilakukan perwira tersebut tidak lain karena didorong oleh kasih di dalam hatinya.

Kedua, untuk memiliki iman yang besar perlu KERENDAHAN HATI. Bila kita sudah merasa besar karena jabatan atau karena uang lalu merasa bisa membeli segalanya, kadang-kadang kita jauh dari keutamaan ‘kerendahan hati’ ini. Perwira ini bisa saja memerintahkan bawahannya pergi kepada Yesus atau merasa ‘siapakah Yesus orang Nasaret itu yang adalah anak tukang kayu, mengapa saya harus datang dan memohon kepada-Nya dengan merendahkan diri?’ Apakah perwira ini tidak ada perasaan malu atau gengsi dengan bawahan-bawahannya ketika berhadapan dengan Yesus? Tentu tidak, bahkan perwira ini memohon langsung kepada Yesus, juga mengakui dirinya bukan siapa-siapa, “sebab aku sendiri seorang bawahan dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit, “Pergi!” maka ia pergi; dan kepada seorang lagi datang, “Datang!”, maka ia datang. Ataupun kepada hambaku, “Kerjakanlah ini!” maka ia mengerjakannya” (Mat. 8:9). Iman yang besar perlu kerendahan hati. Dengan demikian kita selalu merasa tidak ada apa-apanya di hadapan Tuhan selain berpasrah kepada-Nya. Sebab yang ketiga yang perlu dimiliki oleh setiap dari kita yang mau memiliki iman yang besar adalah PASRAH DAN TIDAK KHAWATIR. Perwira ini dengan kasih dan kerendahan hati yang dimilikinya, ia sungguh berpasrah kepada Yesus, “katakan sepatah kata saja maka hambaku itu akan sembuh”. Ia percaya betul akan apa yang bisa dibuat oleh Yesus kepada hambanya sendiri dan tidak khawatir sedikit pun.

Saudara dan saudariku, di masa yang berat ini, di mana dunia dibuat resah dan gelisah akibat pandemi ini, kita perlu memiliki iman yang besar juga. Sekiranya kita memiliki kasih dan kerendahan hati untuk menolong mereka yang menderita tanpa memandang derajat dan terus berpasrah kepada-Nya tanpa khawatir, karena demikianlah orang yang beriman: selalu percaya akan kebaikan dan kuasa dari Tuhan. Amin.

(RD. Hendrik Palimbo – Dosen STIKPAR Toraja, Keuskupan Agung Makassar)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Menempuh Jalan Hati: Semoga saudara-saudara kita yang sedang menderita bisa menemukan jalan hidup yang mengantar mereka untuk dapat disentuh oleh Hati Kudus Yesus. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Para petani: Semoga pemerintah dan pihak-pihak yang berwenang, berkehendak kuat untuk membantu dan berpihak pada kelangsungan dan kesejahteraan hidup para petani. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami menggabungkan diri dengan Hati Yesus yang Mahakudus agar dari lubuk hati yang terdalam atau sungguh-sungguh mengusahakan keadilan bagi seluruh bangsa kami. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s