Allahku Relasional atau Fungsional?

Renungan Harian Misioner
Sabtu Biasa XIII, 4 Juli 2020
P. S. Elizabeth dr Portugal
Am. 9:11-15; Mzm. 85:9,11-12,13-14; Mat. 9:14-17

Nubuat Nabi Amos pada waktu bangsa Israel berada dalam berbagai krisis yang luar biasa kiranya dapat dipandang sebagai nubuatan yang berlaku pada masa sekarang ini. Di tengah-tengah situasi seperti itu, Tuhan menyatakan bahwa Ia akan mengubahkan banyak orang untuk dijadikan pekerja-pekerja-Nya yang menghadirkan ketenteraman dan kesejahteraan seperti pada zaman Daud, serta membawa damai bagi semua bangsa yang adalah milik Allah. Suasana Kerajaan Allah yang dijanjikan adalah suasana yang berlimpah dengan kemakmuran, dan Allah akan menempatkan umat pilihan-Nya untuk mendiami kehidupan baru bersama-Nya dalam kerajaan yang didirikan-Nya (Am. 9:11-15).

Di dunia yang kita hidupi sekarang ini ada orang-orang yang sudah lama berkecimpung dalam dunia keagamaan mereka. Sebagian dari mereka mungkin merasa diri mereka sudah menjadi pakar dalam hal keagamaan, sudah menjalankan kehidupan sesuai dengan ajaran-ajaran agama mereka. Mereka juga mungkin merasa gaya hidup merekalah yang paling benar sehingga mereka menilai kelompok yang tidak hidup sesuai dengan pandangan dan patokan-patokan yang mereka buat, sebagai orang-orang yang kurang baik (Mat. 9:14).

Dalam sejarah Gereja, tindakan berpuasa adalah bagian dari ibadah yang berkaitan dengan tingkah-laku tobat. Suatu tindakan olah batin yang mengalihkan diri dari hal-hal yang sifatnya gembira dan foya-foya kepada suasana prihatin untuk mempersiapkan diri dalam kerinduan pada suatu hal yang akan datang kemudian, seperti pada masa Prapaskah menantikan keselamatan dalam diri Yesus. Atau ketika kita mempersiapkan diri untuk melakukan suatu tugas khusus dalam Nama Tuhan (Mat. 17:21; Kis 13:2).

Orang Farisi membanggakan puasa yang mereka lakukan dan menyerang murid-murid Yesus yang kelihatannya tidak berpuasa, padahal para murid justru melakukan perintah Tuhan dengan benar ketika tetap berpuasa namun tidak memperlihatkan muka muram (Luk. 18:12; Mat. 6:16-18). Dan orang Farisi senang sekali kalau puasa mereka mendapat pujian. Sikap ini menjadikan Tuhan sebagai Tuhan yang fungsional bagi mereka: kalau melakukan ajaran-Nya, maka mendapat imbalan. Pandangan di mana orang seakan-akan melakukan transaksi bisnis dengan Tuhan. Sayangnya masih banyak orang yang setuju dengan pandangan ini.

Sebaliknya, Yesus mengajarkan bagaimana seharusnya orang yang mengalami hidup baru di dalam-Nya lewat perumpamaan kain baru dan anggur baru yang menggambarkan cara berpikir dan gaya hidup yang baru dalam nama-Nya. Pertobatan adalah suatu proses, dan setiap orang memerlukan waktu untuk dapat sungguh-sungguh membangun relasi dengan-Nya dan berubah menjadi serupa dengan Kristus serta kehendak-Nya. Kalau kita mau menjadi umat pilihan-Nya yang bersama-sama membangun Kerajaan Allah di dunia ini, kita harus meninggalkan semua pemahaman agama dan sikap hidup yang lama lalu menerima Kristus dan hidup dalam kebenaran-Nya. Tradisi menggereja, berdoa, membaca Firman, berpuasa dan semua kebiasaan rohani lainnya tetap diperlukan, namun menjadi sia-sia kalau tidak bertujuan membangun relasi dengan Tuhan Yesus (Mat. 9:16-17). Allah merindukan kita membangun relasi dengan-Nya karena ia adalah Allah yang relasional.

Keselamatan dimulai dengan sikap takut akan Tuhan agar kita dapat setia pada perintah-Nya dan keadilan Tuhan akan melimpahi kita dengan segala kebaikan bagi seluruh bumi. Dengan membangun relasi yang intim dengan-Nya, maka Ia akan berjalan di depan kita, membuka jalan agar kita dapat mengenal Dia, memahami rencana-Nya dan membangun Kerajaan sesuai kehendak-Nya. Relasi inilah yang merupakan sukacita hidup bersama dengan-Nya! (Mzm. 85:10,12-14; Mat. 9:15). (ek)

(Antonius Ekahananta – Awam Katolik Pengajar Misi Evangelisasi)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Keutuhan keluarga: Semoga keluarga-keluarga pada zaman ini tidak merasa sendirian karena senantiasa dapat menemukan cinta, penghargaan dan bimbingan yang mereka perlukan demi terjaganya keutuhan keluarga. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Sumber daya manusia: Semoga dalam rangka peningkatan sumber daya manusia yang dicanangkan pemerintah, lembaga-lembaga pendidikan Katolik, menemukan sarana-sarana untuk menyiapkan peserta didik dalam menghadapi tantangan zaman milenial. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami mohon berkat bagi para pelayan pendidikan kami untuk membantu terwujudnya pendidikan keadilan dalam setiap tingkatnya. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s