“Firman-Ku Tak Akan Kembali Sia-Sia”

Renungan Harian Misioner
Minggu Biasa XV, 12 Juli 2020
Yes. 55:10-11; Mzm. 65:10abcd,10e-11,12-13,14; Rm. 8:18-23; Mat. 13:1-23 (panjang) atau Mat. 13:1-9 (pendek)

Tuhan memang pandai bercerita. Pendengar-Nya tidak perlu belajar dari kamus dan buku. Cukuplah mengamati alam dan merenungi peristiwa sehari-hari. Petani, tanah dan benih menjadi bahan ilustrasi. Meskipun diberi judul si Penabur (ay. 18), perumpamaan ini sebenarnya lebih berfokus pada nasib benih di empat jenis tempat benih itu jatuh. Arti perumpamaan ini dijelaskan oleh Yesus sendiri (ay. 18-23), maka tidak perlu lagi dirinci. “Benih” adalah Firman/pemberitaan tentang Kerajaan Allah, pelbagai jenis tanah menunjuk pada kualitas tanggapan orang-orang yang mendengar pemberitaan Firman Allah itu.

Kalau berfokus pada nasib benih yang ditaburkan, maka beberapa pokok segera mencuat. Pertama, perhatian kita diarahkan pada kegagalan. Bayangkan, ada tiga cerpen tentang benih yang gagal, dan hanya satu yang berhasil. Jadi, ¾ gagal, hanya ¼ berhasil. Konon hal itu wajar dan biasa terjadi dalam dunia pertanian di Palestina. Kedua, jangan dilupakan bahwa proses alamiah ‘benih yg ditanam, bertumbuh dan berbuah’ ini sering dipakai juga sebagai metafor untuk misteri dan mukjizat kehidupan/kebangkitan (bdk. 1Kor. 15:35-38). Ketiga, angka 100 kali lipat adalah angka panenan yang baik, tetapi tidak luar-biasa, sebab panenan yang sukses sering mencapai 400 kali lipat. Benih yang berhasil itu memperlihatkan panenan yang wajar, biasa dan normal. Perumpamaan ini sebenarnya ditata agar pendengar/pembaca mengharapkan hasil yang berlimpah di akhir, sebagai simbol karya Allah yang kuat-kuasa. Tetapi di akhir cerita ternyata hasilnya biasa-biasa saja, seperti yang terjadi setiap hari di tanah pertanian Palestina yang kering dan bebatuan! Keempat, sebagaimana sudah dikatakan di atas, perumpamaan ini berfokus pada benih, khususnya tentang nasib benih-benih yang ditaburkan. Jadi, dalam perumpamaan ini saling berkaitan tiga unsur dominan: kegagalan, mukjizat dan keseharian.

Bagi saya, pesan perumpamaan ini cukup jelas. Pertama, dalam kegagalan dan keseharian, ada mukjizat karya Allah! Mukjizat dan karya Allah janganlah aku cari dalam hal-hal yang luar-biasa dan hasil/sukses yang hebat. Kedua, kegagalan adalah bagian dari proses untuk berhasil. Mukjizat terjadi kalau kegagalan-kegagalan itu kuubah menjadi keberhasilan, dan itu terjadi dalam pengalaman hidup sehari-hari yang biasa. Ketiga, dalam Kerajaan Allah yang diwartakan dan diwujudkan oleh Yesus, kegagalan-kegagalan tidak pertama-tama menjadi sorotan norma-norma moral, melainkan ditempatkan dalam rangka proses panen. Kerajaan Allah tidak berfokus pada kesempurnaan moral ala Hukum Taurat ataupun panen yang berkelimpahan ala visi apokaliptik, tetapi pada ketekunan dalam pergulatan hidup harian, untuk mengubah kegagalan menjadi kesuksesan! Keempat, perumpamaan tentang ‘benih’ adalah perumpamaan tentang Kerajaan Allah. Kerajaan Allah yang diwartakan oleh Yesus (dan selanjutnya oleh setiap pengikut-Nya) adalah realitas sederhana, kecil, tetapi serentak sebuah potensi untuk berkembang dan berhasil. Seperti yang dialami Yesus, pemberitaan saya dan Anda juga menghadapi pelbagai sikap manusia. Meski banyak kegagalan dan penolakan, namun pasti ada yang menerima, sesuai janji-Nya dalam bacaan pertama: “Firman-Ku tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia…” (Yes. 55:11)

(Hortensio Mandaru – Lembaga Alkitab Indonesia Jakarta)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Keutuhan keluarga: Semoga keluarga-keluarga pada zaman ini tidak merasa sendirian karena senantiasa dapat menemukan cinta, penghargaan dan bimbingan yang mereka perlukan demi terjaganya keutuhan keluarga. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Sumber daya manusia: Semoga dalam rangka peningkatan sumber daya manusia yang dicanangkan pemerintah, lembaga-lembaga pendidikan Katolik, menemukan sarana-sarana untuk menyiapkan peserta didik dalam menghadapi tantangan zaman milenial. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami mohon berkat bagi para pelayan pendidikan kami untuk membantu terwujudnya pendidikan keadilan dalam setiap tingkatnya. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s