Memikul Salib: Jalan Kesuksesan dan Kemenangan Iman

Renungan Harian Misioner
Sabtu, 18 Juli 2020
P. S. Frederik dr Utrecth
Mi. 2:1-5; Mzm. 10:1-2,3-4,7-8,14; Mat. 12:14-21

Manusia rindu untuk mencapai kesuksesan dan kemenangan di dalam hidup. Kesuksesan itu memiliki banyak bentuk: kesuksesan ekonomi, politik, sosial, pendidkan, popularitas, kehidupan beragama maupun kesuksesan dalam iman dan lain sebagainya. Jika berbicara mengenai konteks kesuksesan hidup beriman, pertanyaannya yang umumnya muncul adalah bagaimana cara kita mencapai kesuksesan dan kemenangan dalam hidup kita? Di dalam hidup setiap orang, pasti ada momen-momen tertentu, yang dapat kita sebut sebagai kunci atau titik balik, momen menentukan di mana seluruh hidup seseorang bergantung.

Konflik yang memuncak, yang terjadi antara orang-orang Farisi dan Yesus merupakan suatu peristiwa dan krisis yang menentukan. Para pemimpin agama menjadi iri hati terhadap Yesus. Mereka senantiasa berprasangka buruk terhadap Yesus. Di mata mereka, apa pun yang Yesus kerjakan dan katakan tidak ada yang benar. Mengapa? Karena rasa iri, prasangka dan benci menyelimuti hati dan pikiran mereka. Hal-hal tersebut yang mendorong mereka untuk bersekongkol, tidak semata-mata untuk melawan Yesus tetapi bahkan untuk melenyapkan Dia.

Yesus menghadapi tantangan yang ada dengan keberanian dan kehendak yang kuat untuk melaksanakan kehendak Bapa-Nya. Yesus memang menghindari dari bahaya pembunuhan, tetapi Ia tidak menghindari dari tugas perutusan-Nya, yakni melakukan kehendak Bapa-Nya. Situasi krisis yang ada malah dimanfaatkan oleh Yesus untuk mengajarkan para murid-Nya sebuah pelajaran yang amat penting mengenai jalan Allah untuk menjadi sukses dan menang. Hanya ada satu jalan untuk mengalami kemuliaan dalam kerajaan Allah. Jalan melalui salib. Salib itu adalah penderitaan dan penghinaan yang Yesus pikul demi keselamatan kita. Sebagai murid-murid Yesus, kita pun dipanggil untuk memanggul salib kita setiap hari. Memanggul salib berarti mati terhadap dosa, egoisme, kecemburuan, kesombongan, perselisihan dan kebencian. Kita semua dipanggil untuk meletakkan hidup kita dalam pelayanan yang rendah hati dan mengasihi satu sama lain, sebagaimana teladan Yesus sendiri.

Penginjil Matius mengutip apa yang diwartakan Nabi Yesaya mengenai Hamba Yang Menderita sebagai penjelasan akan cara Yesus, Sang Mesias menggenapi perutusan-Nya. Yesus tidak menggunakan kekuatan yang menghancurkan, sebaliknya Ia menggunakan cinta dan pelayanan yang penuh dengan pengorbanan (Yes. 42:1-4). Nubuat Yesaya tergenapi dalam diri Yesus. Sang Mesias memilih untuk “bertahkta” di salib dan mengenakan mahkota duri, disalibkan sebagai Tuhan dan Raja kita (Yoh. 19:9; Flp. 2:11). Itulah jalan kesuksesan dan kemenangan yang ditempuh oleh Yesus untuk menyatakan cinta dan belaskasih Allah yang begitu besar kepada dunia dan kepada setiap kita: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16).

Yesus mati untuk semua orang baik Yahudi maupun bukan Yahudi, termasuk setiap dari kita juga. Ramalan ini telah ada berabad-abad sebelumnya, bahwa Mesias akan membawa keadilan bagi orang-orang bukan Yahudi. Sementara orang Yunani berpikir bahwa, keadilan mencakup pemberian kepada Tuhan dan kepada sesama apa yang menjadi haknya. Yesus mengajarkan para murid-Nya untuk memberi Allah bukan hanya hak-Nya, melainkan mencintai-Nya tanpa syarat sebagaimana Ia mencintai kita tanpa syarat.

Yesus membawa keadilan Kerajaan Allah dengan cinta dan belaskasih Ilahi. Yesus memberi harapan, keberanian, dan kekuatan untuk bertahan dalam situasi-situasi yang penuh cobaan. Oleh karena itu tidak ada cobaan, kekurangan, dan kelemahan yang dapat menghalangi kita dari belaskasih dan pertolongan yang Yesus akan berikan kepada setiap orang yang memohonkannya. Rahmat-Nya selalu cukup untuk kita setiap saat, setiap situasi dan setiap tantangan yang kita hadapi. Jadi, saat kita menghadapi cobaan-cobaan dan kesulitan-kesulitan, apakah kita akan mengandalkan pertolongan dan rahmat Allah?

(RP. Silvester Nusa, CSsR – Dosen STKIP Weetebula, NTT)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Keutuhan keluarga: Semoga keluarga-keluarga pada zaman ini tidak merasa sendirian karena senantiasa dapat menemukan cinta, penghargaan dan bimbingan yang mereka perlukan demi terjaganya keutuhan keluarga. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Sumber daya manusia: Semoga dalam rangka peningkatan sumber daya manusia yang dicanangkan pemerintah, lembaga-lembaga pendidikan Katolik, menemukan sarana-sarana untuk menyiapkan peserta didik dalam menghadapi tantangan zaman milenial. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami mohon berkat bagi para pelayan pendidikan kami untuk membantu terwujudnya pendidikan keadilan dalam setiap tingkatnya. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s