Misionaris Mendamaikan Manusia dengan Allah

Renungan Harian Misioner
Senin Biasa XVI, 20 Juli 2020
P. S. Apolinaris
Mi. 6:1-4,6-8; Mzm. 50:5-6,8-9,16bc-17,21,23; Mat. 12:38-42

Renungan Misioner dari Yung-Fo

Para sahabat misioner yang terkasih: Selamat jumpa kembali, Shalom dari Pangkalpinang! Membawa manusia hidup dalam damai-sejahtera dengan Allah dan sesama merupakan tugas perutusan semua orang pilihan Allah. Dalam Bacaan Pertama Firman Tuhan mempertemukan kita dengan orang pilihan Allah, yakni Nabi Mikah; dan Nabi Yunus yang masa tugasnya ada di dalam Perjanjian Lama, namun tugas perutusan Yunus berikut buah-buahnya diangkat kembali oleh Yesus dalam Bacaan Injil. Kita ikuti warta perdamaian dengan Allah yang diperjuangkan oleh orang-orang pilihan-Nya ini!

1. Buah-buah iman & kerinduan terbesar Allah
Pewartaan Nabi Mikha menempatkan umat Allah Perjanjian Lama dengan Allah sebagai pihak-pihak yang berperkara di pengadilan. Allah berperkara melawan kota-kota (Mi. 1:1 – 2:13); Allah berperkara melawan para pemimpin (Mi. 3:1 – 5:15); dan Allah berperkara melawan umat-Nya (Mi. 6:1 – 7:20). Firman Tuhan dalam Bacaan Pertama hari ini termasuk bagian ketiga: Allah berperkara dengan umat-Nya!

Dalam perkara ini, Mikha mewartakan bahwa Allah tidak menghendaki kurban atau persembahan di Bait Allah, sebagai tataran seremonial atau upacara belaka tanpa makna. Yang dikehendaki-Nya adalah IMAN yang membuahkan keadilan dan kasih kepada sesama manusia serta ketaatan kepada Allah. Inilah kerinduan hati Allah yang terdalam: iman umat-Nya bukan sekedar upacara keagamaan atau seremonial saja, melainkan iman yang hidup, yang membawa dampak positif baik dalam hubungan antara manusia dengan sesamanya maupun dalam hubungan antara manusia dengan diri-Nya!

Iman yang benar kepada Allah harus membuahkan kebaikan, belas-kasih, keadilan, dan kerendahan hati. Kita akan dapat menyenangkan hati Allah dengan mengupayakan hal-hal ini di tempat kerja kita, di dalam keluarga, jemaat, dan di dalam hubungan kita di masyarakat!

2. Nabi Yunus & Permintaan orang Farisi
Di dalam pewartaan Yesus ada juga semacam “perkara: antara orang-orang Farisi (mewakili para pemimpin agama Yahudi) dengan Yesus”. Para pemimpin agama ini, termasuk para tua-tua, orang-orang Saduki dan ahli Taurat sering berbeda pendapat dengan Yesus hingga meningkat menjadi permusuhan dari sisi orang Farisi terhadap Yesus. Ketika mereka meminta tanda, Yesus menyebut mereka sebagai “angkatan yang jahat.” Motivasi permintaan tanda bukan demi iman namun sekedar mencobai/menguji Yesus (Mat. 16:1). Menjawab mereka Yesus tidak memberikan tanda yang baru, tetapi membuka mata mereka untuk belajar dari tanda Nabi Yunus dalam tugas-perutusan ke Niniwe.

3. Maksud Tanda & Pewartaan
Tanda Yunus berikut perutusannya juga muncul dalam konteks ketika para penduduk kota Niniwe sedang berperkara dengan Allah. Sebagai kota terbesar di Kerajaan Asyur, Niniwe dikenal sebagai kota yang “jahat” karena penduduknya hidup dalam permusuhan dengan Allah. Karena belas-kasih Allah, Yunus diutus ke kota itu untuk mendamaikan penduduk kota dengan Allah. Yunus awalnya menolak tugas yang diberikan Allah, namun kemudian tunduk kepada Allah dan berangkat ke Niniwe. Pengalamannya selama tiga hari tiga malam di dalam perut ikan, menjadi tanda sekaligus undangan bagi orang-orang di zaman Yesus.

Tanda Yunus diungkap untuk menunjukkan bahwa situasi di mana orang-orang Niniwe berada dalam permusuhan dengan Allah di zaman Yunus, demikian juga orang-orang di zaman Yesus berada di dalam permusuhan dengan Allah, dan kepada mereka bukan Yunus yang dihadirkan, melainkan Putera Allah sendiri. Namun, mereka “tidak menerima Yesus,” dan karena itu, perdamaian dengan Allah yang dibawa Yesus tidak berlaku untuk mereka. Orang-orang Niniwe yang bertobat setelah menerima warta perdamaian Yunus, akan bangkit dan menghukum orang-orang di zaman Yesus, karena sekalipun warta perdamaian ditawarkan kepada mereka oleh utusan Allah yang lebih besar dari Yunus maupun Salomo, mereka tidak tertarik untuk menerimanya. Orang-orang Farisi, para ahli Taurat, orang tua-tua dan orang Saduki menjadi contoh, bahwa iman yang hanya menonjolkan aspek seremonial dan theatrical tidak membuahkan keselamatan. Undangan untuk berdamai dengan Allah, yang disuarakan oleh para nabi, oleh Yesus dan selanjutnya oleh para misionaris, tidak selalu diterima. Padahal Yesus mengharapkan penerimaan dan pertobatan sebagaimana para penduduk Niniwe lakukan.

Maka, ada dua pilihan yang perlu segera kita sikapi: (a) sebagai umat yang mendapat kesempatan untuk menerima warta perdamaian Allah, pilihan kita adalah: bersikap kooperatif seperti orang-orang Niniwe yang menyambut warta perdamaian Yunus lalu bertobat, atau bersikeras hidup dalam permusuhan dengan Allah seperti yang ditunjukkan oleh para ahli Taurat dan kelompok yang sejalan dengan mereka. (b) Sebagai misionaris yang mendapat tugas perutusan menyampaikan warta perdamaian Allah kepada umat manusia, pilihan kita adalah: lari dari tugas perutusan, seperti Yunus di awal (Yun. 1:1-17), atau menyerah dan tunduk kepada rancangan perdamaian Tuhan, untuk terus menerima dan menyuarakan warta perdamaian itu – Yunus pada tahap lanjut kenabiannya (Yun. 3:1-10). Selamat merenung dan tentukan pilihan saudara. Tuhan Yesus memberkati (RMG).

(RD. Marcel Gabriel – Imam Keuskupan Pangkalpinang)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Keutuhan keluarga: Semoga keluarga-keluarga pada zaman ini tidak merasa sendirian karena senantiasa dapat menemukan cinta, penghargaan dan bimbingan yang mereka perlukan demi terjaganya keutuhan keluarga. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Sumber daya manusia: Semoga dalam rangka peningkatan sumber daya manusia yang dicanangkan pemerintah, lembaga-lembaga pendidikan Katolik, menemukan sarana-sarana untuk menyiapkan peserta didik dalam menghadapi tantangan zaman milenial. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami mohon berkat bagi para pelayan pendidikan kami untuk membantu terwujudnya pendidikan keadilan dalam setiap tingkatnya. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s