Mau Jadi Penghuni Surga?

Renungan Harian Misioner
Sabtu Biasa, 15 Agustus 2020
P. S. Tarsisius
Yeh. 18:1-10,13b,30-32; Mzm. 51:12-13,14-15,18-19; Mat. 19:13-15

Dalam Kitab Suci, Yesus kerap menjadikan anak-anak kecil sebagai contoh spesial, seperti pada bacaan hari ini, “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku. Sebab orang-orang seperti merekalah yang empunya Kerajaan Surga.” Bagaimana mungkin anak-anak kecil yang lemah, tidak tahu banyak hal, bahkan barangkali belum memiliki pemahaman mengenai Tuhan, agama dan hukum-hukumnya, sudah langsung dinyatakan sebagai “yang empunya Kerajaan Surga”? Apakah posisi ekslusif, tiket bebas parkir ini diberikan Yesus langsung kepada anak-anak kecil hanya karena sentimen pribadi Yesus pada mereka? Harusnya tidak, Tuhan kita bukan Tuhan yang sentimental dan subyektif. Pasti ada alasan-alasan kuat dibalik penokohan anak-anak kecil oleh Yesus sebagai pemilik Kerajaan Surga.

Apa karateristik khusus yang ada pada anak-anak kecil? Banyak. Namun mari kita coba lihat bersama pada dua poin utamanya saja. Pertama, anak-anak identik dengan kepolosan. John Locke seorang filsuf Inggris, dengan teorinya yang terkenal Tabula Rasa (latin: kertas kosong/bersih), mengatakan bahwa jiwa anak yang baru lahir masih bersih seperti kertas putih yang belum ditulisi. Putih, bersih, kosong: murni. Belum ada warna, belum ada tulisan apapun. Kedua, dalam teori Psikoanalisis Sosial, Karen D. Horney, seorang psikoanalisis Jerman, mengemukakan bahwa ada 5 tahapan perkembangan anak. Tahapan pertama, yaitu Infancy, merupakan periode dari kelahiran hingga usia dua puluh empat bulan. Pada masa ini ditandai dengan ketergantungan penuh anak pada orang tuanya. Ini adalah karateristik kedua dari anak-anak: ketergantungan.

Yesus katakan, “Sebab orang-orang seperti merekalah yang empunya Kerajaan Surga.” Mau memiliki surga? Jadilah orang-orang seperti anak-anak: polos dan tergantung. Sebenarnya karateristik ini dulu juga ada pada diri kita semua yang pernah menjadi “anak-anak”. Namun, sejalan waktu, bertumbuh dan hidup dalam dunia, karateristik itu pun pudar, tak menyisakan bekas di dalam diri kita. Kita bukan lagi kertas putih, kita telah penuh dengan coretan dan warna. Kemudian kita juga diajarkan dan sering kali dituntut baik oleh pihak lain maupun situasi untuk menjadi individu-individu yang independen, kuat, tidak membutuhkan orang lain. Semakin mapan kehidupan kita, semakin kita merasa aman, karena lepas dari ketergantungan pada sekitar.

Apa yang Tuhan inginkan berbeda dengan apa yang manusia inginkan. Untuk menjadi salah satu dari yang “empunya Kerajaan Surga”, kita dituntut kembali menjadi kertas kosong, putih dan bersih, yang rela dan siap ditulis. Kita harus mampu mengosongkan diri, membersihkan agenda-agenda pribadi dan rupa-rupa keinginan dalam usaha mempersilahkan Tuhan bergerak dan berkarya sebebas-bebas-Nya dalam hidup kita, sesuai kehendak-Nya.

Tuhan juga ingin kita bergantung hanya pada-Nya, pada pemeliharaan-Nya semata. Bukan ‘bersikap masa-bodoh’ sebaliknya bersikap ‘berani’ untuk meninggalkan pribadi independen dan menjadi pribadi yang bergantung sepenuhnya pada-Nya, meskipun kita tak pernah dapat mengetahui apa yang direncanakan-Nya untuk diri kita. Cukup percaya saja.

Di zaman dulu – di abad pertama – anak kecil belum dianggap orang. Hal ini pun masih terjadi di abad ke-20 ini. Masih ada orang-orang yang meremehkan, bahkan memperlakukan anak kecil semena-mena karena mereka makhluk yang lemah. Namun bagi Tuhan, nilai manusia bukanlah ditentukan oleh manusia. Dialah yang memilih dan menentukan. Dan bagi-Nya, keutamaan bukanlah soal kehebatan, kepandaian atau kekuatan yang dielu-elukan dunia, sebaliknya keutamaan adalah kepolosan diri dan percaya penuh pada-Nya.

(Angel – Karya Kepausan Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Kesejahteraan dalam dunia maritim: Semoga semua orang yang bekerja dan hidup dari laut, yaitu pelaut, nelayan beserta keluarganya, dan para petugas yang menjaga laut, senantiasa dikaruniai keselamatan dan kesejahteraan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Kerukunan bangsa: Semoga sebagai tindakan nyata dalam menjalin kebersamaan dan kerukunan bangsa, Gereja membuka diri terhadap kebudayaan dan mau menggalakkan aneka ragam kegiatan seni lokal. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami memercayakan usaha kami dalam bernegara supaya terwujudlah keadilan bagi setiap warga negara. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s