Melayani Tuhan Karena Kasih atau Karena Upah?

Renungan Harian Misioner
Rabu, 19 Agustus 2020
P. S. Yohanes Eudes
Yeh. 34:1-11; Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6; Mat. 20:1-16a Yeh 34: 1-11

Yehezkiel hidup pada zaman di mana hidup keagamaan sungguh memilukan. Beberapa penggal kalimat ini kiranya menjadi alasannya: “Yang lemah tidak kalian kuatkan, yang sakit tidak kalian obati, yang luka tidak kalian balut, yang tersesat tidak kalian bawa pulang, yang hilang tidak kalian cari, melainkan mereka kalian injak-injak dengan kekerasan dan kekejaman.” Mereka bagai domba yang dinikmati susunya, dipakai bulunya untuk membuat pakaian dan disembelih untuk makanan para gembala mereka. Ini semua terjadi karena pelayanan bagi Tuhan menjadi sarana untuk mencari keuntungan pribadi. Karena itu Allah bersabda: “Sungguh, Aku sendirilah yang akan memperhatikan domba-domba-Ku dan mencari mereka”.

Memperhatikan “domba-domba” dan mencari yang hilang merupakan misi Yesus di dunia ini. Berkali kali Yesus menegur para ahli Taurat dan orang-orang Farisi dengan sangat keras. Itu terjadi karena mereka tidak memperhatikan domba-domba dan tidak mencari yang hilang. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya (Mat. 23:4). Bait Suci pun mereka pakai sebagai ajang untuk mencari keuntungan kelompok mereka, sehingga Yesus mengusir pada pedangang yang berjualan di dalamnya (Mat. 21:12).

Perumpamaan tentang para penggarap kebun anggur sebenarnya merupakan sebuah teguran bagi mereka yang tidak memperhatikan dan mencari yang hilang. Menarik sekali bahwa perumpamaan tersebut didahului oleh pertanyaan Petrus: “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh? (Mat. 19:27). Dari pertanyaan tersebut tampak sekali bahwa ternyata para murid Yesus sendiri pada saat itu masih dikuasai oleh “roh farisi”.

Apa yang hendak diajarkan Yesus kepada para murid adalah bahwa setiap orang yang bekerja bagi Tuhan akan mendapat upahnya. Namun upah itu diberikan sesuai dengan kasih karunia-Nya demi perkembangan Kerajaan-Nya. Paulus meyakinkan kita semua bahwa ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Ada rupa-rupa pelayanan tetapi satu Tuhan dan ada berbagai macam perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang (1 Kor. 12: 4-6).

Perumpamaan tentang penggarap kebun anggur juga merupakan suatu pengajaran bahwa terlalu “fokus” pada upah yang akan diterima merupakan awal dari segala kekecewaan dan iri hati dalam melayani Tuhan, seperti terungkap dalam bacaan Injil: “Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari?” Sekali lagi, Paulus merupakan sebuah teladan dalam pelayanan bagi Tuhan. Dengan penuh keyakinan ia mangatakan bahwa: “Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil” (1 Kor. 9:18).

Perumpamaan ini mengajar kita semua bahwa para pekerja di kebun anggur Tuhan seharusnya mempunyai hati yang sama dengan hati Yesus, yang selalu haus akan jiwa-jiwa untuk dicari dan diselamatkan. Mereka bekerja bukan berdasarkan upah melainkan karena kasih yang besar kepada Tuhan.

Akhirnya marilah kita mengenang kisah mereka yang telah melayani Tuhan tanpa mengenal lelah: Daniel melayani Tuhan selama tujuh puluh tahun; Musa melayani Tuhan selama sembilan puluh tahun; Abraham melayani Tuhan selama seratus tahun; Henokh melayani Tuhan selama tiga ratus tahun. Sekaranglah saatnya bagi kita untuk melayani Tuhan! Kita tidak bertanya: “Apa yang akan saya dapatkan dari pelayanan ini?” melainkan bersyukur: “Ya Tuhan , betapa indahnya bekerja di kebun anggur-Mu”.

(RP. Anton Rosari, SVD – Imam Keuskupan Bogor)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Kesejahteraan dalam dunia maritim: Semoga semua orang yang bekerja dan hidup dari laut, yaitu pelaut, nelayan beserta keluarganya, dan para petugas yang menjaga laut, senantiasa dikaruniai keselamatan dan kesejahteraan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Kerukunan bangsa: Semoga sebagai tindakan nyata dalam menjalin kebersamaan dan kerukunan bangsa, Gereja membuka diri terhadap kebudayaan dan mau menggalakkan aneka ragam kegiatan seni lokal. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami memercayakan usaha kami dalam bernegara supaya terwujudlah keadilan bagi setiap warga negara. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s