Hukum Kasih Membawa Pengharapan dan Kehidupan

Renungan Harian Misioner
Jumat, 21 Agustus 2020
P. S. Pius X

Yeh. 37:1-14; Mzm. 107:2-3,4-5,6-7,8-9; Mat. 22:34-40

Misi: Menjadikan hukum dan perintah kasih sebagai tonggak untuk mengalami kebaikan Allah yang memberi pengharapan dan kehidupan baru.

Dunia kita sedang dilanda berbagai persoalan dan kesulitan. Dunia kita boleh dikatakan sedang dikepung ancaman atas hidup jika tidak mau dibilang sedang berada dalam tanda-tanda kematian. Berhadapan dengan realitas ini nubuat Yehezkiel hari ini justru mengajak bangsa Israel dan kita semua untuk melihat bahwa di tengah berbagai beban sosial, ekonomi, politik, moral bahkan religius Allah menghadirkan kekuatan, pemulihan serta kehidupan baru bagi umat-Nya.

Inilah sepenggal nubuat Yehezkiel yang kita dengar hari ini. “Tuhan akan memberi napas pada tulang-tulang yang nyaris mati, memberi urat-urat padanya serta membalut tulang-tulang itu dengan kulit dan memberi napas hidup agar bisa memperoleh hidup lagi” (bdk. Yeh. 37:6).

Melalui berbagai kesulitan yang ada, Allah kemudian memenuhi umat-Nya dengan suatu pemahaman baru bahwa, “Kasih setia-Nya tidak pernah berujung”. Pemahaman, pengalaman, serta pegangan iman ini menjadi kepastian bahwa Allah memberikan pengharapan dan kehidupan baru di penghujung seluruh kisah dan peristiwa yang mengancam dan menakutkan itu.

Karena Allah adalah sumber kasih dan kehidupan maka Yesus menegaskan kepada kaum Farisi dan ahli Taurat bahwa perintah dan hukum kehidupan utama adalah mengasihi Allah dengan segenap hati, dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi. Dan hukum kasih yang kedua adalah mengasihi sesama seperti diri sendiri. Bagi Yesus, hukum kasih merupakan landasan serta kekuatan untuk menata hidup di hadapan Allah dan sesama.

Tindakan riil mencintai Allah berarti: mengikuti seluruh kehendak dan perintah-Nya. Isi perintah kasih kepada Allah terukur dan terbaca dari kerelaan kita memberi diri pada bimbingan Tuhan, masuk dalam kehendak-Nya, membiarkan Tuhan ikut terlibat dalam perjuangan hidup kita, dan pada akhirnya seluruh rangkaian kisah dan peristiwa hidup kita harus menjadi pujian dan sujud-syukur kita pada Tuhan yang memberi pengharapan dan kehidupan baru.

Sementara tindakan kasih kita kepada sesama memiliki ukuran yang seimbang dengan kasih kita terhadap diri sendiri. Maka tindakan karitatif kita, hendaknya bertolak pada kasih yang memberi harapan dan hidup kepada sesama.

Ketika kita meminta Tuhan untuk membawa kita keluar dari derita dan kesulitan kita, pada saat yang sama Tuhan meminta kita agar membantu sesama yang sedang terjepit beban hidup agar mereka pun mengalami kelepasan dan masuk dalam kehidupan baru yakni kehidupan dalam kasih serta kemurahan hati Tuhan.

Dengan kekuatan hukum kasih itu kita hadir bagi sesama yang putus asa agar mereka kembali memiliki harapan, menjadi sahabat bagi mereka yang tersingkir agar mereka kembali membangun persekutuan dengan sesama, memperhatikan mereka yang sakit dan tidak memiliki anggota keluarga agar mereka memperoleh penghiburan dan peneguhan, mendampingi anak-anak terlantar agar mereka memperoleh pengharapan dan masa depan.

Maka hukum kasih menjadi landasan untuk melakukan segala perbuatan yang menghasilkan kebenaran, kebaikan, kejujuran, keadilan, perdamaian, kesejahteraan, kebebasan yang bertanggung jawab, kebahagiaan dan sukacita sejati (kehidupan baru).

Marilah dengan iman kita mengasihi Allah, sekalipun Allah tidak membutuhkan kasih kita, dan kasih kita sama sekali tidak akan menambahkan kesempurnaan kasih-Nya. Namun sangat berguna bagi keselamatan dan kelepasan kita dari dosa. Marilah kita saling mengasihi agar ziarah dunia kita menjadi ziarah: sukacita sejati, kebahagiaan, kebenaran, kebaikan, kejujuran, keadilan dan perdamaian yang menghasilkan kehidupan baru. Amin.

(RP. Hiasintus Ikun, CMF – Dirdios KKI Keuskupan Palangkaraya)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Kesejahteraan dalam dunia maritim: Semoga semua orang yang bekerja dan hidup dari laut, yaitu pelaut, nelayan beserta keluarganya, dan para petugas yang menjaga laut, senantiasa dikaruniai keselamatan dan kesejahteraan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Kerukunan bangsa: Semoga sebagai tindakan nyata dalam menjalin kebersamaan dan kerukunan bangsa, Gereja membuka diri terhadap kebudayaan dan mau menggalakkan aneka ragam kegiatan seni lokal. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami memercayakan usaha kami dalam bernegara supaya terwujudlah keadilan bagi setiap warga negara. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s