Misionaris Teladan “Hidup” Ketekunan Kristus & Kasih Allah

Renungan Harian Misioner
Rabu, 26 Agustus 2020
P. S. Teresia Yornet, S. Zepherinus

2Tes. 3:6-10,16-18; Mzm. 128:1-2,4-5; Mat. 23:27-32

Renungan Harian Misioner dari Yung-Fo, Pangkalpinang

Misionaris: Mengarahkan Manusia pada Kasih Allah & Ketekunan Kristus Lewat Contoh Hidupnya!

Para sahabat misioner yang dikasihi Tuhan Yesus: Shalom! Pewartaan Paulus tentang Kedatangan Kristus, dalam suratnya yang pertama kepada Jemaat di Tesalonika telah mendatangkan kebingungan dan salah paham di antara jemaat. Oleh karena adanya penganiayaan, maka banyak orang di dalam Jemaat Korintus berpikir bahwa kedatangan Kristus akan berlangsung dalam waktu dekat. Pemahaman seperti itu lalu merambat kepada cara hidup. Karena tidak lama lagi Kristus akan datang, maka tidak perlu lagi melakukan berbagai pekerjaan, tetapi berkonsentrasi menantikan kedatangan-Nya itu. Karena itulah Paulus menuliskan suratnya yang kedua ini dengan maksud meluruskan berbagai salah paham yang muncul, dengan ayat kunci “Kiranya Tuhan tetap menunjukkan hatimu kepada kasih Allah, dan kepada ketabahan Kristus” (2Tes. 3:5).

Di dalam praktik hidup beragama yang menimbulkan kebingungan, seperti halnya kasus Jemaat di Tesalonika ini, para misionaris, sebagaimana halnya Rasul Paulus sendiri, menghadirkan dirinya sebagai pribadi yang menuntun orang kepada kasih yang sejati akan Allah, tetapi juga tidak melupakan kasih terhadap sesama dan tanggung jawab atas kehidupan bersama. Bahwa iman kepada Allah harus menjadi dasar bagi tanggung jawab atas hidup bersama di dalam jemaat dan di dalam masyarakat

1. Mewartakan Injil melalui contoh hidupnya sendiri!
Paulus memberi nasihat supaya orang tetap bekerja, bukan bermalas-malasan. Dan nasihatnya ini dibuktikan dengan contoh hidupnya sendiri. Sambil memberitakan Injil, Paulus dan rombongannya juga bekerja untuk mendapatkan makanan. Mereka tidak membebani jemaat di Tesalonika dengan urusan makan-minum. Diakui bahwa memang ada saatnya untuk beristirahat, namun ketika sudah tiba saatnya untuk bekerja, setiap pengikut Kristus harus melibatkan diri seutuhnya memberikan waktu dan talentanya, melakukan yang terbaik untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri sekaligus memenuhi kebutuhan orang lain.

2. Cara terbaik menantikan kedatangan Kristus!
Kesalahpahaman terhadap warta tentang “saat” kedatangan Kristus, mengakibatkan bahwa sebagian orang menganggap tidak perlu lagi bekerja dan melaksanakan tanggung jawab mereka atas hidup sehari-hari. Cukup berkonsentrasi pada urusan rohani sebagai persiapan menyambut kedatangan Kristus. Dengan tidak bekerja, orang-orang ini menjadi beban bagi jemaat dalam urusan kebutuhan hidup. Mereka membuang waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk membantu sesamanya. Paulus menasihati mereka untuk kembali bekerja. Sebagai pengikut Kristus, kita harus bersiaga menantikan kedatangan Kristus dalam seluruh peristiwa hidup kita. Karena kita tahu bahwa Kristus akan datang kapan saja, maka kita wajib menghayati iman kita setiap saat dalam kehidupan kita. Dalam hal ini, Paulus sejalan dengan Penginjil Matius, yang menuliskan Firman tentang ‘Nasihat untuk berjaga-jaga’ ini, “Berbahagialah hamba yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang” (Mat. 24:46). Jadi, hal menantikan kedatangan Kristus tidak mengecualikan kita dari tugas dan tanggung jawab kita terhadap hidup sehari-hari, baik bagi diri kita sendiri maupun bagi sesama kita.

Paulus menasihati kita untuk tetap menghayati hidup kita secara bertanggung jawab, sekalipun kita harus melewati berbagai kesulitan hidup. Kedatangan Kristus bukan hanya sekedar sebuah “pengajaran” tetapi lebih dari itu, merupakan sebuah janji, yang bukan hanya terkait dengan masa depan, tetapi bahwa penantian tentang kedatangan Kristus di masa depan itu harus mempunyai pengaruh yang positif dalam hidup kita saat ini!

3. Para ahli Taurat dan Pemimpin Agama sebagai contoh kasus!
Oleh karena mengutamakan urusan “menantikan kedatangan Kristus” maka sebagian orang di dalam Jemaat di Tesalonika beranggapan bahwa seolah-olah tidak perlu lagi memerhatikan tugas dan tanggung jawab mereka. Mereka menjauhkan urusan kehidupan beriman dari tanggung jawab atas kehidupan jasmani dan sosial. Iman mereka tidak mempunyai dampak apapun di dalam kehidupan sehari-hari mereka. Kesalahpahaman ini berikut konsekuensinya di dalam praktik hidup di dalam jemaat di Tesalonika, menggemakan kembali kritik Tuhan kita Yesus Kristus terhadap cara hidup dan pewartaan Para Ahli Taurat dan Pemimpin Agama Yahudi.

Cara hidup dan beragama para Ahli Taurat dan Pemimpin Agama Yahudi itu diumpamakan sebagai “kuburan” yang bersih di sebelah luarnya, tetapi penuh kotoran di sebelah dalamnya” (Mat. 23:27). Tampilan fisik mereka yang “seolah-olah suci dan religius” bertolak-belakang dengan kenyataan batiniah mereka, yang penuh dengan kemunafikan dan kedurjanaan, korupsi dan kerakusan (Mat. 23:28).

Menghayati kehidupan Kristiani kita melulu sebagai sebuah “aksi theatrical” adalah seperti hanya mencuci bagian luar dari sebuah piring. Namun, apabila kita “bersih dari dalam” maka tampilan luar kita akan terlihat asli, bukan sebagai suatu kepura-puraan atau sandiwara saja. Demikian, iman kita yang kita hayati dari dalam hati, harus dapat terlihat dalam dampak yang positif dalam relasi kita dengan sesama, lewat sikap dan tutur-kata serta tindakan kita. Dan, marilah kita belajar dari Para Ahli Taurat dan Pemimpin Agama ini, bahwa tidak semua orang yang baik dalam sikap, tutur-kata, dan tindakannya, otomatis adalah orang yang baik dalam hatinya. Semoga kita menjadi orang yang benar secara lahiriah dan batiniah, dan orang yang baik secara rohani dan jasmani. Amin! [RMG].

(RD. Marcel Gabriel – Imam Keuskupan Pangkalpinang)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Kesejahteraan dalam dunia maritim: Semoga semua orang yang bekerja dan hidup dari laut, yaitu pelaut, nelayan beserta keluarganya, dan para petugas yang menjaga laut, senantiasa dikaruniai keselamatan dan kesejahteraan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Kerukunan bangsa: Semoga sebagai tindakan nyata dalam menjalin kebersamaan dan kerukunan bangsa, Gereja membuka diri terhadap kebudayaan dan mau menggalakkan aneka ragam kegiatan seni lokal. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami memercayakan usaha kami dalam bernegara supaya terwujudlah keadilan bagi setiap warga negara. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s