Saksi Kebenaran, Tuhan Senantiasa Menyertaimu

Renungan Harian Misioner
Sabtu, 29 Agustus 2020
Wafatnya S. Yohanes Pembaptis

Yer. 1:17-19; Mzm. 71:1-2,3-4a,5-6ab,15ab,17; Mrk. 6:17-29

Saudara-saudariku yang dikasihi Tuhan, pada hari ini kita diajak untuk belajar dari dua tokoh yang luar biasa dalam Kitab Suci yakni Yeremia dan Yohanes. Meskipun mereka hidup pada zaman yang berbeda namun keduanya memiliki kesamaan yaitu dipanggil untuk menyuarakan pesan kenabian, menyuarakan kebenaran dari Allah yang mengutus mereka. Yeremia dipanggil sejak masa mudanya dan mendapat begitu banyak tantangan dari bangsanya sendiri ketika ia tampil sebagai nabi yang menyuarakan kebenaran Allah untuk membawa bangsa Israel berbalik kepada Allah. Ia ditertawakan oleh bangsanya karena masih sangat muda dan tidak pandai berbicara. Ia dicemooh bahkan diancam untuk dihukum mati, namun Yeremia yang karena kesetiaannya kepada Allah, ia sekalipun tidak gentar dan tetap menyuarakan kebenaran.

Demikian pula Yohanes yang tampil di tengah-tengah bangsanya untuk kembali menyuarakan kebenaran Allah bahkan tidak segan-segan menegur penguasa pada saat itu yaitu Herodes dengan berkata, “Tidak halal engkau mengambil istri saudaramu!”. Karena kata-katanya itu, Herodias yang telah menjadi isteri Herodes menaruh dendam pada Yohanes dan bermaksud membunuh dia. Yohanes tentu tahu sebelum ia mengeluarkan kata-kata tersebut kepada penguasa akan dapat berakibat fatal bagi dirinya bahkan nyawa menjadi taruhannya. Namun, panggilan kenabian dalam dirinya tidak membuatnya gentar untuk tetap menyuarakan kebenaran.

Baik di zaman Yeremia maupun Yohanes, saat ini kita juga dipanggil untuk selalu menyuarakan pesan kenabian yakni kebenaran Allah. Setidaknya dari dua tokoh ini kita bisa belajar dua hal. Pertama, kita belajar dari nabi Yeremia bagaimana selalu percaya pada penyelenggaraan dan pertolongan Tuhan bahkan di masa sulit sekalipun. Kerap kali kita goyah dan berputus asa apalagi ketika datang penolakan dari saudara-saudari kita di lingkungan kerja, organisasi bahkan keluarga sendiri. Ketika kita tampil berbeda misalnya ketika kita memutuskan untuk tetap berada dalam koridor tindakan moral sementara yang lainnya sudah berbelok arah. Kedua, kita mungkin masih meyakini bahwa orang baik yang selalu berlaku jujur, taat pada aturan dan menjadi saksi kebenaran akan disenangi semua orang, sementara dalam kenyataannya tidak demikian yang terjadi. Orang-orang seperti itu, para saksi kebenaran malah dimusuhi, disingkirkan dan berusah untuk dilenyapkan.

Yeremia dimusuhi oleh bangsanya sendiri dan mereka berusaha untuk menghukum mati dirinya. Sementara Yohanes harus kehilangan nyawa, kepalanya dipenggal. Namun, apakah hal itu kemudian membuat kita menjadi takut kepada penguasa yang kejam dan otoriter dan kita lalu tidak berani untuk tampil sebagai saksi kebenaran? Tuhan memang tidak pernah menjanjikan kehidupan serba enak ketika kita tampil untuk menyuarakan kebenaran-Nya. Namun kasih setia-Nya akan senantiasa kekal selamanya mendampingi dan menyertai mereka yang tetap berada di jalan-Nya, sebagaimana Tuhan bersabda kepada Yeremia, “mereka akan memerangi engkau, tetapi tidak akan mengalahkan engkau sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau,”.

Saudara dan saudariku yang dikasihi Tuhan. Kita semua dipanggil ikut serta dalam panggilan kenabian Yeremia dan Yohanes Pembaptis yaitu seruan pertobatan dan saksi kebenaran. Namun tanpa sadar banyak dari kita menutup mata melihat ketidakadilan oleh karena bersembunyi di balik rasa aman dan kenyamanan. Sadar atau tidak sadar banyak dari pengikut Kristus yang tidak lagi mau menyuarakan suara kenabian ini oleh karena sudah berada pada zona nyaman, bahkan malah ikut dalam perbuatan korupsi, kolusi dan nepotisme. Semoga kisah kedua nabi yang luar biasa ini kembali mempertajam suara hati kita yang tidak lain adalah suara Allah untuk berani keluar dari zona nyaman kita dan bisa tampil sebagai saksi kebenaran dalam kehidupan kita sehari-hari. Tuhan menyertai kita. Amin.

(RD. Hendrik Palimbo – Dosen STIKPAR Toraja, Keuskupan Agung Makassar)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Kesejahteraan dalam dunia maritim: Semoga semua orang yang bekerja dan hidup dari laut, yaitu pelaut, nelayan beserta keluarganya, dan para petugas yang menjaga laut, senantiasa dikaruniai keselamatan dan kesejahteraan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Kerukunan bangsa: Semoga sebagai tindakan nyata dalam menjalin kebersamaan dan kerukunan bangsa, Gereja membuka diri terhadap kebudayaan dan mau menggalakkan aneka ragam kegiatan seni lokal. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami memercayakan usaha kami dalam bernegara supaya terwujudlah keadilan bagi setiap warga negara. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s