MISIONARIS : Manusia Rohani Pembagi Kasih Allah Kepada Umat Manusia

Renungan Harian Misioner
Rabu, 02 September 2020
P. Para Martir dr Paris dan Korea

1Kor. 3:1-9; Mzm. 33:12-13,14-15,20-21; Luk. 4:38-44

Renungan Harian Misioner dari Yung-Fo, Pangkalpinang

Para sahabat misioner yang terkasih: Selamat datang dalam Bulan Kitab Suci Nasional hari kedua. Mengacu kepada tema BKSN, “MEWARTAKAN KABAR BAIK DI TENGAH KRISIS IMAN & KRISIS IDENTITAS,” pertanyaan menarik untuk kita adalah “Apa Kabar Baik yang kita tawarkan kepada dunia dan umat manusia, yang berada dalam situasi sulit karena Pandemi Covid-19 ini?” Mengacu kepada Firman Tuhan hari ini, dua hal dapat diangkat sebagai pokok pewartaan untuk menjawab. Pertama, kepada dunia dan umat manusia yang sedang dilanda aneka krisis, semua kita yang telah menerima Yesus harus menghadirkan diri sebagai “manusia rohani.” Kedua, sebagai manusia rohani tugas kita adalah menghadirkan Yesus plus Injil-Nya berikut kuasa penyembuhan-Nya kepada semua orang!

A. Manusia rohani dengan kasih sebagai karakternya!
Dalam suratnya yang pertama kepada Jemaat di Korintus, Paulus mengecam “perpecahan” yang terjadi di dalam jemaat dan langsung menegaskan: jikalau seseorang atau suatu jemaat dikuasai oleh “iri hati dan perselisihan”, maka mereka sesungguhnya adalah manusia duniawi, masih jauh dari kehidupan Kristiani yang dewasa dan sehat. Tanda-tanda jemaat masih dikuasai oleh cara hidup duniawi ialah bahwa mereka bertengkar satu sama lain seperti kanak-kanak, mereka membiarkan perpecahan terjadi di antara mereka, mereka masih hidup menurut keinginan manusiawi mereka sendiri dan belum hidup sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah (1Kor. 3 : 4).

Terhadap situasi duniawi yang menguasai dan menggerogoti para anggota Jemaat, Paulus menegaskan yang dibutuhkan jemaat adalah hidup sebagai “manusia rohani”. Manusia rohani adalah manusia yang memberikan diri untuk sepenuhnya hidup menurut kehendak Allah. Tantangannya adalah “keinginan dunia-manusiawi” yang harus diarahkan sedemikian rupa, sehingga tidak menghalangi atau mengganggu seseorang untuk dapat hidup menurut kehendak Allah. Ketika kehidupan jemaat dikuasai oleh iri hati dan perselisihan dan perpecahan, mereka bukan hanya gagal untuk menghidupi kehendak Allah, tetapi juga gagal dalam “menghadirkan” jati diri Allah yang satu di dalam Tritunggal itu (Bdk. “Doa Yesus untuk murid-murid-Nya,” dalam Yoh. 17:9-26 khususnya ayat 11 dan 21-23 ‘supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu.’). Hidup sebagai manusia rohani adalah hidup di dalam kasih, mengikuti kasih antar pribadi yang terjadi di dalam Tritunggal (Yoh. 17:26). Iri hati, perselisihan dan perpecahan merupakan hal-hal yang bertolak-belakang dengan kasih itu!

Melalui pesan di atas, Paulus sebagai “seorang misionaris perintis sekaligus pendiri Jemaat di Korintus” ingin menanamkan ke dalam hati Jemaat “semangat kesatuan & persatuan” yang pertama-tama harus terjadi di antara para pemimpin Jemaat. Sebab perpecahan dan perselisihan tidak jarang merupakan “efek” dari cara kerja para peminmpin jemaat itu sendiri (1Kor. 3:4). Paulus menegaskan bahwa semua pemimpin jemaat sama-sama mempunyai peran dalam kehidupan jemaat, namun mereka semua mengambil-bagian di dalam karya Allah yang memberi hidup dan pertumbuhan kepada jemaat tersebut (1Kor 3:6-9).

Menarik benang merah antara pewartaan Paulus ini dengan tema BKSN Tahun 2020 ini, kita dapat mencatat bahwa ketika para pemimpin dan anggota jemaat dikuasai oleh iri hati, perselisihan, dan perpecahan, maka mereka sudah gagal untuk mewartakan “kabar baik” dan menambah daftar pada krisis iman serta identitas. Sebaliknya ketika para pemimpin dan anggota jemaat dikuasai oleh semangat kasih yang merukunkan dan mempersatukan itu (menjadi ‘manusia rohani’), semangat kasih itulah yang dapat mereka tawarkan sebagai kabar baik kepada dunia yang sedang dilanda krisis seperti sekarang ini, sebab kasih itu adalah Allah sendiri (1Yoh. 4:8.16).

B. Menawarkan Kasih Allah kepada dunia dan umat manusia
Menjadi manusia rohani berarti hidup di dalam kasih yang merukunkan dan mempersatukan, jauh dari iri hati, perselisihan dan perpecahan. Hidup di dalam kasih yang merukunkan dan mempersatukan inilah yang dapat kita tawarkan kepada dunia dan umat manusia, yang saat ini sedang dilanda oleh berbagai krisis, termasuk krisis karena merebaknya pandemi Covid-19 saat ini.

Sesungguhnya “menawarkan kasih yang merukunkan dan mempersatukan ini” dalam Bahasa Injil Lukas hari ini, adalah menghadirkan Yesus berikut Injil-Nya dan kuasa penyembuhan-Nya. Dalam Lukas 4:38-44 kita menemukan bahwa berbagai unsur kasih yang digambarkan oleh Paulus, “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu” (1Kor. 13:4-7). Kasih semacam ini hadir di dalam hidup karya-karya Tuhan kita Yesus Kristus. Yang dilakukan oleh Tuhan kita Yesus Kristus inilah jawaban atas pertanyaan kita ketika membuka permenungan ini, “Apa Kabar Baik yang kita tawarkan kepada dunia dan umat manusia, yang berada dalam situasi sulit karena Pandemi Covid-19 ini?”

C. Aksi Nyata kita sebagai misionaris dewasa ini
Aksi Nyata kita sebagai misionaris di dalam dunia yang sedang dilanda krisis adalah menghadirkan kepedulian dan kasih, sebagaimana yang dilakukan Yesus ketika Dia menyembuhkan ibu mertua Simon Petrus (Luk. 4:38-39), dan orang-orang dari berbagai sakit-penyakit serta belenggu roh jahat (Luk. 4:40-41). Injil-Nya harus Dia wartakan kepada semua orang (Luk. 4:42-44). Dan sebagaimana Yesus mengarahkan pewartaan kasih-Nya berikut Injil-Nya serta kuasa penyembuhan-Nya kepada semua orang, demikian hendaknya kita tidak menolak seorangpun di dalam tugas-perutusan kita. Tidak terkecuali juga mereka yang memusuhi kita (Mat. 5:44). Semoga Tuhan kita Yesus Kristus menguatkan kita untuk terus-menerus mewartakan kasih-Nya kepada dunia dan umat manusia. Amin [PMG].

(RD. Marcel Gabriel – Imam Keuskupan Pangkalpinang)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Hormat terhadap sumber daya alam: Semoga semua sumber daya bumi ini tidak dikuras dan dirampas dengan serakah, tetapi dibagikan dengan adil, disertai rasa syukur dan penghargaan terhadap alam. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Menciptakan udara bersih: Semoga dalam partisipasi untuk menciptakan udara bersih, keluarga-keluarga katolik berinisiatif menjalankan sumbangan yang sederhana dengan menghijaukan lingkungannya masing-masing. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami mempersembahkan tekad kami untuk mendaraskan upaya keadilan kami pada Sang Sabda sendiri. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s