Orang Buta Tak Dapat Menuntun Orang Buta

Renungan Harian Misioner
Jumat, 11 September 2020
P. S. Protus dan Hyasintus

1Kor. 9:16-19,22b-27; Mzm. 84:3,4,5-6,12; Luk. 6:39-42

Suatu ketika saya diperiksa oleh seorang dokter spesialis tenggorokan karena mengalami radang tonsilitis akut. Dokter itu berkata kepada saya bahwa bapak harus kurangi merokok karena tidak baik untuk kesehatan, makanan yang pedas dan hindari stres agar penyakit ini tidak sering kambuh. Saya katakann kepada dokternya bahwa saya tidak merokok dan tidak suka makanan pedas. Dalam hati saya sempat berpikir apakah dokter ini tidak bisa tahu secara langsung apakah seorang pasien sering merokok atau tidak. Lalu bagaimana mungkin dokter ini memberikan saya nasihat untuk menghindari rokok karena tidak baik untuk kesehatan sedangkan nafasnya sendiri berbau asap rokok dan ia sesekali batuk? Benar dugaan saya, saya melihat dokter tersebut merokok di luar ruangan setelah memeriksa saya.

Pengalaman di atas setidaknya membantu saya untuk memahami perkataan Yesus dalam Injil hari ini, “Mungkinkah seorang buta membimbing orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lubang?” Orang buta adalah orang yang memiliki kondisi di mana penglihatannya sepenuhnya menghilang karena matanya rusak. Tentu dia tidak akan dapat berjalan dengan baik lebih-lebih jika ia juga harus menuntun sesamanya yang buta. Terlepas dari kondisi buta secara fisik, saya memaknai perkataan Yesus ini tidak semata-mata dalam konteks tersebut. Lebih dalam dari itu bahwa cara kita mengubah orang lain dalam artian menuntun orang lain ke jalan yang benar pertama-tama adalah memulainya dari diri sendiri. Dapat dikatakan bahwa perkataan ini adalah kecaman bagi mereka yang mengajarkan ajaran tetapi tidak melakukannya sebagaimana pernah dikatakan Yesus ketika mengecam orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, “Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melalukannya” (Mat. 23:3).

Saya menerima masukan dokter untuk tidak merokok walaupun terbersit di dalam hati untuk menolaknya karena sang pemberi nasihat pun justru perokok berat. Di banyak slogan lewat iklan dan kampanye pun seruan untuk tidak korupsi gencar dilakukan oleh para pejabat namun kenyataannya merekalah yang menghidupi budaya korupsi. Atau lebih parah lagi banyak yang berkhotbah di atas mimbar agar saling mengasihi dan mengampuni satu sama lain tetapi kenyataannya bahkan dalam satu rumah pun mereka tidak saling berbicara dan tidak lagi mau makan bersama di satu meja makan. Apakah pengajaran mereka efektif? Bagaimana bisa efektif jika umat pada akhirnya ikut nyinyir “mereka saja tidak saling berbicara bagaimana mungkin mengajarkan kita tentang ‘Cinta Kasih’”?

Efektifnya suatu ajaran pertama-tama bukan dengan perkataan saja melainkan dengan perbuatan sebagai keteladanan yang bisa dicontoh. Yesus menuntun kita agar pengenalan kita tentang Allah sungguh-sungguh bukan semata-mata di bibir saja atau sekadar pemenuhan ritual-ritual ibadat dan persembahan kita tetapi lebih dari itu bahwa kita melaksanakannya dengan sungguh-sungguh dalam kehidupan kita. Jika kita selalu memulainya dari diri kita sendiri maka kita tidak akan selalu jatuh pada godaan untuk sering melihat kesalahan orang lain sebagaimana teguran Yesus di ayat selanjutnya, “Mengapakah engkau melihat selumbar dalam mata saudaramu, sedangkan balok dalam matamu sendiri tidak kauketahui? Bagaimana mungkin engkau berkata kepada saudaramu, ‘saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar dalam matamu’, padahal balok dalam matamu tidak kaulihat?” (Luk. 6:41-42b).

Dengan sering memulainya dari diri sendiri maka kita akan punya kebiasaan untuk introspeksi diri. Cara yang terbaik memberi kesaksian dan keteladanan sebagai Murid Yesus yang sejati adalah perkataan dan perbuatannya selalu selaras. Tuhan memberkati kita.

(RD. Hendrik Palimbo – Dosen STIKPAR Toraja, Keuskupan Agung Makassar)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Hormat terhadap sumber daya alam: Semoga semua sumber daya bumi ini tidak dikuras dan dirampas dengan serakah, tetapi dibagikan dengan adil, disertai rasa syukur dan penghargaan terhadap alam. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Menciptakan udara bersih: Semoga dalam partisipasi untuk menciptakan udara bersih, keluarga-keluarga Katolik berinisiatif menjalankan sumbangan yang sederhana dengan menghijaukan lingkungannya masing-masing. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami mempersembahkan tekad kami untuk mendaraskan upaya keadilan kami pada Sang Sabda sendiri. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s