Tanda Salib – Tanda Umat Kristus

Renungan Harian Misioner
Senin, 14 September 2020
PESTA SALIB SUCI

Bil. 21:4-9; Mzm. 78:1-2,34-35,36-37,38; Flp. 2:6-11; Yoh. 3:13-17

Bagi murid Kristus, penyaliban Yesus merupakan bagian penting dalam Karya Penebusan-Nya, menuju ke Kebangkitan. Oleh sebab itu, salib bagi umat Kristiani bukan sekedar alat penyiksaan, yang menimbulkan peristiwa sedih nostalgia, melainkan Jalan Utama Penebusan, menuju Hidup Baru. Salib mengatasi dahan pohon atau kayu kasar, melainkan “tempat Tubuh (‘Corpus’) Kristus”, yang penting diberi bakti mahatinggi. Oleh sebab itu, “penemuan Salib Suci” dihormati secara khusus. Yang terpenting bukanlah kayu salib sebagai dahan, melainkan “sarana Tubuh Kristus dipersembahkan sebagai tanda Ketaatan Sang Kristus kepada Allah Bapa, dalam penjiwaan Roh Kudus”.

Oleh sebab itu, sudah sejak Paulus, murid-murid Kristus bangga akan salib Tuhan Yesus (Gal. 6:14), bukan ngeri atau takut (Antifon Pembukaan). Ketika Paulus menyebutkan “pohon keselamatan, kehidupan dan kebangkitan”, teringatlah para murid akan peristiwa dalam Perjanjian Lama, ketika “pohon dengan ular” yang membawa keselamatan di tengah ziarah menuju ke Tanah Terjanji.

BACAAN PERTAMA – BILANGAN 21:4-9:
Sebagaimana hidup kita adalah ziarah menuju kepada Allah, demikian pula perjalanan anak-anak Israel menuju Tanah Terjanji adalah ziarah iman. Oleh sebab itu, kesengsaraan dan kelaparan yang mereka alami adalah bagian ziarah. Oleh sebab itu, pengingkarannya, adalah dosa, karena menyangsikan kesetiaan dan janji Allah. Untuk pemuliannya, orang Israel, harus membarui iman kepada Allah dengan menatap ular, yang disampirkan di pucuk Tiang: ular yang diangkat itu menjasi tanda penyelamatan Allah, bila orang Israel mau sungguh beriman. Pengangkatan ular yang membawa keselamatan itu nantinya akan mempralambangkan penyelamatan dengan “Yesus diangkat di Salib”. Begitulah Perjanjian Lama menyatu dengan Perjanjian Baru.

Bagi kita: Sang Tersalib adalah penebus kita.

BACAAN KEDUA – FILIPI 2:6-11:
“Tinggi dan Rendah” digunakan Paulus untuk melukiskan dinamika Penebusan. Surat Filipi memperlihatkan bagaimana Sang Putera meninggalkan surga yang luhur dan tinggi untuk mengosongkan diri, merendah menyatu dengan manusia, guna keselamatan seluruh ciptaan. Namun perendahan Diri Tuhan itu memuncak justru dengan “menaikkan-Nya” dengan “mengangkat Dia untuk disalib”. Seperti, Yes. 45:23 menggambarkan Sang Penebus dibantai bagaikan hamba yang penuh penderitaan, para murid disadarkan pada luhurnya Sang Putera: Dia adalah Putera Allah sendiri.

BACAAN INJIL – YOHANES 3:13-17:
Penginjil Yohanes memperlihatkan, bagaimana percakapan Yesus dengan Nikodemus sudah cukup dini mengajarkan, bagaimana “bila nanti Yesus dinaikkan di salib”, semua orang akan “datang kepada-Nya” untuk dibimbing menuju kepada Allah Bapa. Itulah sebabnya, mengapa Allah memberikan Sang Putera kepada manusia; dan melalui saliblah kita diangkat ke surga. Itulah sebabnya, sejak awal, salib bagi para murid Kristus merupakan “Tanda Terunggul” (‘par excellence’) dari penyelamatan. Dari situ pulalah “Tanda Salib” merupakan tanda umat Kristus: sekali lagi bukan karena kayu dan palangnya, melainkan karena Tubuh/Corpus, yang senantiasa kita hormati melebihi materi dan simbolnya.

BAGI KITA:
Marilah kita menghormati Salib, yang di gedung-gedung, di rumah maupun di kalung, rosario serta ketika kita membuat tanda salib. Setialah membuat tanda salib dengan hormat, dengan atau tanpa air suci; bahkan saling memberi tanda salib. Seyogianya kita senantiasa menghormati salib.

(RP. B.S. Mardiatmadja, SJ – Dosen STF Driyarkara)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s