Ingat, Kita adalah Anak yang Dibenarkan ALLAH!

Renungan Harian Misioner
Minggu Biasa XXVI, 27 September 2020

Yeh. 18:25-28; Mzm. 25:4bc-5,6-7,8-9; Flp. 2:1-11 (panjang) atau Flp. 2:1-5 (pendek); Mat. 21:28-32

Sejak Yesus mengusir para pedagang dari Bait Allah (21:12-17), konflik-Nya dengan para petinggi Yahudi semakin meninggi. Kuasa dan otoritas Yesus mereka pertanyakan. Yesus balik bertanya tentang otoritas Yohanes Pembaptis. Mereka terjebak dan tidak menjawab (ay. 23-27). Melihat lawan-Nya terpojok, Yesus kini menggiring para petinggi Yahudi itu untuk memvonis diri mereka sendiri. Senjata-Nya sederhana: sebuah cerita!

Inti cerita/perumpamaan tentang “dua anak” ini adalah: siapa yang melakukan kehendak Bapa? (ay. 31). Anak yang kedua menjawab dengan tegas: “tidak mau!” Tetapi kemudian ia menyesal dan pergi bekerja di kebun anggur. Jelas, anak kedua inilah yang melaksanakan kehendak bapanya. Dia simbol semua anak Allah yang taat. Mereka percaya akan Kerajaan Allah yang dihadirkan Yesus dan dipersiapkan oleh Yohanes Pembaptis. Mereka percaya akan Bapa yang maha-baik, yang menghargai kebebasan anak-anak-Nya untuk juga mengatakan “tidak”. Dialah Bapa yang senantiasa sabar terhadap anak-Nya yang memberontak. Dialah Bapa yang selalu memberikan kesempatan bagi anak-anaknya untuk menyesal dan bertobat.

Sebaliknya, si anak pertama menjawab bapanya dengan sangat sopan: “Baik, Bapa.” Tetapi ia tidak pergi bekerja. Ketaatannya hanya tampak dalam perkataan, bukan perbuatan. Sudah sejak awal Yesus mengingatkan pendengar/pembaca bahwa “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga” (7:21). Anak itu memandang bapanya bukan sebagai ayah, tetapi sebagai majikan. Dalam beragama, ia bermental budak, bukan anak. Sulitlah mengatakan “tidak” kepada tuan. Lebih mudah menjadi “yes-man” untuk menyenangkan hati majikan. Dia simbol semua anak Allah yang beriman sebatas kata dan rumusan. Lancar melafal “Aku Percaya”, tetapi terbata melaksanakan cinta. Allah dianggap sebagai tuan bahkan tiran, yang pantang dijawab “tidak”. Padahal Bapa kita menghargai juga anak yang melawan dan memberontak, sebab itu titik-tolak untuk pulang dan bertobat. Bukankah manusia sejak lahirnya harus menghadapi banyak “tidak” untuk mengontrol ego-dirinya? Berkata “tidak” itu sungguh perlu dalam relasi manapun. Bayangkan kalau Saya dan Anda harus selalu mengatakan “iya” kepada anak-anak, pasangan atau atasan/bawahan kita. Berkata “tidak” itu perlu untuk menjadi diri sendiri dan memperlakukan orang lain sebagai orang lain.

Di titik itulah Yesus menjebak para petinggi Yahudi. Mereka praktis menjatuhkan vonis bagi diri sendiri. Tampaknya saja mereka itu golongan yang taat kepada Allah. Tetapi justru merekalah yang paling menolak Yesus dan menutup diri dari Kerajaan Allah yang dihadirkan-Nya. Sebaliknya, kaum yang dianggap pendosa-publik justru Yesus jadikan teladan. Mereka simbol anak-anak yang memberontak, yang mengatakan “tidak”, tetapi akhirnya menyesal dan berobat karena mendengar pewartaan Yohanes, sehingga terbuka menyambut pemerintahan Allah yang dihadirkan Yesus. Pesan Yesus hari ini sungguh mencengangkan: belajarlah dari pelacur dan pemungut cukai! Kita memang harus berubah: dari hamba yang selalu memberi kesan benar menjadi anak yang dibenarkan Allah.

(Hortensio Mandaru – Lembaga Alkitab Indonesia Jakarta)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Hormat terhadap sumber daya alam: Semoga semua sumber daya bumi ini tidak dikuras dan dirampas dengan serakah, tetapi dibagikan dengan adil, disertai rasa syukur dan penghargaan terhadap alam. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Menciptakan udara bersih: Semoga dalam partisipasi untuk menciptakan udara bersih, keluarga-keluarga Katolik berinisiatif menjalankan sumbangan yang sederhana dengan menghijaukan lingkungannya masing-masing. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami mempersembahkan tekad kami untuk mendaraskan upaya keadilan kami pada Sang Sabda sendiri. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s