Ikut Yesus, Berisiko?

Renungan Harian Misioner
Rabu , 30 September 2020
P. S. Hieronimus

Ayb. 9:1-12,14-16; Mzm. 88:10bc-11,12-13,14-15; Luk. 9:57-62

Yesus adalah seorang pribadi yang sangat mengesankan, penuh kuasa baik dalam perkataan maupun perbuatan. Tidak heran jika banyak orang mengikuti-Nya ke mana pun Ia pergi. Namun pada saat yang tepat, Ia mewahyukan diri-Nya, bahwa untuk mencapai kemuliaan, Ia harus menanggung banyak penderitaan dan bahkan sampai wafat di salib.

Berkali-kali Yesus telah memberitahukan berbagai risiko yang akan terjadi pada diri mereka yang hendak mengikuti-Nya.

1. “Serigala mempunyai liang, dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya”.

Sudah sejak awal hidup-Nya, Yesus tidak mempunyai tempat yang layak. Ia dilahirkan di sebuah kandang hewan. Tidak lama kemudian Ia harus diungsikan ke Mesir sampai situasi reda. Demikian pula ketika meninggalkan Nasaret, Ia bukan seorang yang “sedenter”, yang selalu tinggal di tempat, melainkan menjadi seorang “homo viator”, manusia yang selalu berada dalam perjalanan. Ia selalu berkeliling untuk mewartakan kabar gembira dan selalu berbuat baik. Memang sangat mulia apa yang diperbuat-Nya. Namun cara pandang masyarakat pada waktu itu yang masih mengedepankan masa depan yang mapan, belum siap menerima gaya hidup seperti ini.

Karena itu, kepada figur pertama yang mengatakan: “Aku akan mengikuti Engkau ke mana pun Engkau pergi”, Yesus menegaskan bahwa menjadi murid-Nya berarti hidup seperti Dia, menjadi orang asing di mana-mana, ditolak di mana-mana, ikut serta dalam penderitaan dan bahkan kematian. St. Lukas mencatat bahwa Yesus telah mengatakan hal ini sebanyak tiga kali (Luk. 9: 22-21, 43b-45, dan 18: 31-34). Menjadi murid-Nya berarti benar-benar mempunyai komitmen untuk hidup deperti Dia yang memercayakan diri sepenuhnya kepada penyelenggaraan ilahi.

2. “Biarlah orang mati menguburkan orang mati, tetapi engkau, pergilah, dan wartakanlah Kerjaan Allah di mana-mana”.

Pada masa itu menguburkan orang mati merupakan sebuah keharusan: “Anakku, hendaklah bercucuran air matamu karena orang yang meninggal, dan hendaklah meratap seperti orang yang bersengsara. Uruslah jenazahnya sebagaimana pantas baginya, dan janganlah melalaikan penguburannya” (Sir. 38:16). Karena itu normal sekali ketika figur kedua ini mengatakan: “Izinkanlah aku pergi dahulu, menguburkan bapaku”, ketika Yesus berkata: “Ikutlah Aku”.

Memang, apa yang dikatakan oleh Yesus terdengar tidak manusiawi dan bahkan “anti sosial”. Namun apa yang dikehendaki Yesus semakin jelas bahwa pewartaan tentang Kerajaan Allah adalah sebuah “prioritas” yang tidak bisa ditunda, bahkan mengatasi tanggung jawab terhadap keluarga. Prioritas tidak berarti tidak menghormati orang tua.

3. “Setiap orang yang siap membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”

Itulah tuntutan Yesus kepada figur ketiga yang mengatakan: “Aku akan mengikuti Engkau, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku”.

Dalam Perjanjian Lama, Elisa memohon ijin sebelum mengikuti Elia: “Biarkanlah aku mencium ayahku dan ibuku dahulu, lalu aku akan mengikuti engkau,” dan Elia menjawab: “Baiklah, pulang dahulu, dan ingatlah apa yang telah kuperbuat kepadamu” (1 Raj. 19:20).

Jawaban Yesus kepada orang itu terdengar tidak manusiawi dan bahkan bertentangan dengan tradisi pemuridan saat itu. St. Lukas hendak menekankan bahwa Yesus adalah Elia baru yang membawa era dan hukum baru yang mengatasi Hukum Perjanjian Lama. Demikian pula halnya dengan St. Matius. Baginya, Yesus adalah Musa baru yang membawa peyempurnaan pada hukum yang lama. Sekali lagi, prioritas dalam menjadi murid Yesus adalah mewartakan Kerajaan Allah.

Menarik sekali bahwa Yesus menjawab permintaan ketiga orang tersebut dengan gaya bahasa hiperbola yang membuat orang berpikir dua atau tiga kali. Ia ingin melihat sejauh mana komitment dari mereka yang ingin mengikuti-Nya ke manapun Ia pergi.

Persyaratan dalam mengikuti Yesus begitu radikal dan merupakan sesuatu yang baru saat itu, yang kelihatan mustahil. Namun Gereja telah mencatat dalam kalender liturgi bahwa telah ada sekian banyak orang yang mengikuti Dia sesuai dengan apa yang diharapkan-Nya. Mereka adalah orang-orang yang berkomitmen: “Lord, Your life is my life, Your mission is my mission, and Your destiny is my destiny”.

(RP. Anton Rosari, SVD – Imam Keuskupan Bogor)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Hormat terhadap sumber daya alam: Semoga semua sumber daya bumi ini tidak dikuras dan dirampas dengan serakah, tetapi dibagikan dengan adil, disertai rasa syukur dan penghargaan terhadap alam. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Menciptakan udara bersih: Semoga dalam partisipasi untuk menciptakan udara bersih, keluarga-keluarga Katolik berinisiatif menjalankan sumbangan yang sederhana dengan menghijaukan lingkungannya masing-masing. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami mempersembahkan tekad kami untuk mendaraskan upaya keadilan kami pada Sang Sabda sendiri. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s