Misi: Beragama untuk Bersaudara dan Berdoa, Bukan untuk Bersandiwara

Hari ke-11, Renungan Bulan Misi
Minggu, 11 Oktober 2020
Peringatan : B. Elias a Succursu Nieves, St. Yohanes XXIII

Bacaan : Flp. 4:12-14, 19-20
Injil : Mat. 22:1-14

“Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus, dimuliakanlah Allah dan Bapa kita selama-lamanya! Amin.” (Flp. 4: 19-20)

Beragama itu sudah ada sejak dulu, jauh sebelum Indonesia menjadi sebuah negara. Nenek moyang kita telah mengajarkan tentang bagaimana sikap saling menghargai dan menghormati. Sejak dulu, kita sudah saling menghargai dalam keberagaman. Baik itu dalam kehidupan keluarga, maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Agama menjadi sarana seseorang untuk mengenal Sang Penciptanya, dengan jalan mendekatkan diri melalui doa dan ritual yang diyakini setiap agama. Agama pada dasarnya berbentuk persekutuan, membangun persaudaraan, saling mengenal, mengasihi, menolong, mengembangkan bakat talenta, dan melakukan kegiatan amal bakti sebagai buah dari doa itu.

Rasul Paulus dalam suratnya kepada Jemaat Filipi memberikan kesaksian bagaimana hidup dalam Tuhan. Paulus selalu bersukacita karena mendapatkan kekuatan dari Allah. Ia mengatakan: “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberikan kekuatan kepadaku” (Flp. 4:13). Pengenalan akan Kristus, menyatukan dirinya dalam kasih dan doa. Doa menjadi perwujudan yang autentik di hadapan Allah, menyadari jati diri kita dengan segala kelemahan yang kita miliki. Dalam doa, kita tidak boleh bersandiwara, karena Allah Mahatahu. Allah mengerti apa yang kita pikirkan dan apa yang kita perbuat.

Injil hari ini Yesus menceritakan perumpamaan seorang raja yang mengadakan pesta pernikahan untuk putranya. Untuk pesta itu, ia menawarkan banyak undangan. Undangan yang sangat berharga yang ditawarkan secara cuma-cuma kepada para undangan terpilih. Namun, para undangan tidak datang, karena rupa-rupa alasan. Yesus sering melukiskan Kerajaan Allah dengan suatu perjamuan pernikahan. Kerajaan Allah ditawarkan kepada siapa saja, tetapi sering kali kita manusia tidak menghiraukan dan tidak menanggapinya secara sungguh-sungguh karena rupa-rupa alasan. Kita sering kali menolak undangan Tuhan, menolak untuk tinggal di dalam-Nya. Pembaptisan merupakan sarana utama untuk masuk dalam persekutuan dengan Allah. Pembaptisan menjadikan kita anak-anak Allah dan tinggal dalam persekutuan cinta-Nya.

Agama yang kita yakini, adalah sebuah sarana agar kita lebih mengenal kasih Allah, membangun persaudaraan dengan sesama. Melalui doa yang kita panjatkan bersama ataupun pribadi memampukan kita menjadi pribadi yang jujur, tidak munafik, tidak bersandiwara. Paus Fransiskus dalam dokumen Persaudaraan Manusia menuliskan: “Kami menyerukan kepada semua pihak untuk berhenti menggunakan agama untuk menghasut (orang) kepada kebencian, kekerasan, ekstremisme dan fanatisme buta, dan untuk menahan diri dari menggunakan nama Allah untuk membenarkan tindakan pembunuhan, pengasingan, terorisme, dan penindasan” (art. 24).

Berdoa bukan bersandiwara. Bersandiwara dengan sesama manusia mungkin sudah biasa dilakukan oleh seseorang, tetapi bersandiwara dengan Tuhan, berarti penuh kepura-puraan, berusaha menipu atau mengelabui-Nya. Ketika kita menipu Tuhan, kita telah menipu diri kita sendiri. Di hadapan Tuhan, kita tak mungkin bersandiwara, walaupun kenyataannya masih ada banyak orang melakukan hal tersebut. Namun, kita sebagai orang beriman, dipanggil untuk jujur di hadapan-Nya, dan melalui agama membangun persaudaraan, serta doa yang sejati. Doa yang benar akan memberdayakan manusia untuk bersikap realistis di tengah kemajemukan, berziarah bersama di dunia, toleran dan menghargai kekuatan serta mau memahami kelemahan sesama.

Misi kita hari ini: semakin beragama berarti semakin bersaudara. Bukan sebaliknya semakin beragama justru membuat perkara kebencian serta kekerasan.

(Sr. Yohana Halimah – Biro Nasional Karya Kepausan Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Partisipasi kaum awam: Semoga dengan keutamaan sakramen baptis, para awam, terutama kaum perempuan, dapat semakin ikut berpartisipasi dalam berbagai bidang tanggung jawab gerejawi. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Berbahasa lembut: Semoga umat Katolik mau mengutamakan bahasa yang lemah lembut sebagai upaya menciptakan persahabatan dan persaudaraan di tengah kemelut komunikasi media sosial yang cenderung pedas, mengancam, dan merusak dewasa ini. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami mempersembahkan kaum muda kami agar terus menerus belajar membela keadilan bagi siapa pun. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s