Misi: Beriman untuk Merdeka Berdiri Teguh dalam Tuhan

Hari ke-12, Renungan Bulan Misi
Senin, 12 Oktober 2020
Peringatan : St. Wilfidus; St. Serafinus dari Montegranaro

Bacaan : Gal. 4:22-24,26-27,31 – 5:1
Injil : Luk. 11:29-32

“Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.” (Gal. 5:1)

Apa arti “merdeka” yang sesungguhnya? Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), merdeka berarti: bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya); berdiri sendiri. Seorang hamba atau manusia yang dijajah, tidak dapat bergerak bebas. Ia dibelenggu oleh kekuasaan tuannya atau penjajah. Ia tak memiliki hak untuk memilih apa yang hendak dilakukannya di dalam hidupnya. Dan biasanya ia hanya bisa pasrah menjalani perannya dalam situasi keterbatasan dan penderitaan.

Dalam Galatia kita menemukan kalimat Santo Paulus, “Karena itu, saudara-saudara, kita bukanlah anak-anak hamba perempuan, melainkan anak-anak perempuan merdeka.” Sara, istri Abraham, yang disebut Yerusalem sorgawi adalah perempuan merdeka, dan ialah ibu kita.

Dalam kemerdekaan, seseorang bisa memilih dan selalu punya pilihan. Dan jika seseorang memiliki iman akan Allah serta rahmat kebijaksanaan, tentulah ia akan dapat memilih bukan hanya yang baik, tapi juga yang benar di mata Allah. Apa yang baik dan benar itu? Menjaga, merawat, bukan sebaliknya merusak, membuang atau melenyapkan.

Tuhan menciptakan dunia dan isinya, lalu Ia menciptakan manusia. Dalam tangan manusia lah dunia dan segala isinya dipercayakan-Nya. Mengapa? Karena manusia yang diberi akal budi dan kemerdekaan. Dengan kemerdekaan yang ada dilengkapi dengan akal budi, kita manusia dipanggil untuk menjaga dan merawat ciptaan. Alam dan segala isinya, tapi juga terutama sesama manusia.

Hal dasar yang patut kita ingat adalah bahwa siapapun itu, baik mereka yang kaya maupun miskin, besar maupun kecil, diciptakan Tuhan dengan hak dan martabat yang sama dengan diri kita sendiri. Juga dirahmati dengan kemerdekaan dan akal budi yang sama. Kita bersaudara sebagai manusia ciptaan Allah, tak peduli apapun perbedaan yang ada di antara kita. Kita adalah satu keluarga besar manusia.

Untuk itu, kita harus belajar untuk benar-benar memandang dan menerima siapapun, orang yang berbeda bangsa, budaya, agama maupun warna kulit, bahasa, ras, sebagai keluarga besar manusia. Dan jika dalam kemerdekaan yang kita miliki itu, kita menggunakan akal budi serta teguh berdiri dengan iman menjawab panggilan Tuhan pada kita untuk menjaga dan merawat saudara-saudari manusia kita, maka kita akan mampu menjadi orang-orang yang menebarkan nilai-nilai cinta kasih, dan kebaikan. Dengan demikian perdamaian dunia akan dapat terwujud.

Perbedaan dikehendaki dan diizinkan Allah ada, jika tidak, kita semua akan diciptakan sama, satu dengan yang lainnya. Tapi perbedaan janganlah kemudian kita jadikan tolak ukur untuk memisahkan manusia, mana yang lebih baik, mana yang lebih hebat. Allah menginginkan kita tumbuh bersama dalam perbedaan. Perbedaan memperkaya, kiasannya seperti puja sera, di satu tempat terdapat bermacam-macam jenis makanan dari berbagai daerah. Atau pelangi, warna-warni yang selalu muncul bersama-sama sebagai satu kesatuan. Kesatuan dan kebersamaan dari perbedaan itulah yang membuat pelangi menjadi indah dan bernilai.

Menjadi pribadi yang merdeka dituntut bukan hanya sekedar kata, tetapi perilaku merdeka. Kemerdekaan diaktualisasikan dengan memerdekakan orang lain juga, bukan sebaliknya dengan menindas atau meniadakan yang lain. Ingat, kita meminta hak kita dengan memerhatikan dan menjaga hak orang lain.

Seperti yang tertulis dalam dokumen Persaudaraan Insani: “Dalam nama Allah yang telah menciptakan semua manusia setara dalam hak, kewajiban dan martabat, dan yang memanggil mereka untuk hidup bersama sebagai saudara, untuk memenuhi bumi dan menyebarkan nilai-nilai kebaikan, cinta dan kedamaian” (art. 4)

Misi kita hari ini: masuk dalam rencana dan kehendak Tuhan untuk menjadi pribadi yang merdeka, beriman secara penuh, percaya kepada rencana-Nya. (BIL)

(Angel – Biro Nasional Karya Kepausan Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Partisipasi kaum awam: Semoga dengan keutamaan sakramen baptis, para awam, terutama kaum perempuan, dapat semakin ikut berpartisipasi dalam berbagai bidang tanggung jawab gerejawi. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Berbahasa lembut: Semoga umat Katolik mau mengutamakan bahasa yang lemah lembut sebagai upaya menciptakan persahabatan dan persaudaraan di tengah kemelut komunikasi media sosial yang cenderung pedas, mengancam, dan merusak dewasa ini. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami mempersembahkan kaum muda kami agar terus menerus belajar membela keadilan bagi siapa pun. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s