Misi: Mempromosikan Perdamaian sebagai Bukti Iman akan Allah

Hari ke-18 Minggu Misi Sedunia ke-94
Minggu, 18 Oktober 2020
Peringatan : St. Lukas, Pengarang Injil

Bacaan : Yes. 45:1,4-6
Injil : Mat. 22:15-21

“Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah.” (Yes. 45:5)

Sampai saat ini, di banyak daerah di dunia masih terjadi peperangan. Dan sebagian di antaranya disebabkan oleh perbedaan keyakinan. Bahkan meskipun negara kita telah menjadi negara merdeka sejak tahun 1945, kita pun belum benar-benar telepas dari konflik karena keyakinan. Banyak orang yang masih sibuk meneriakkan kebenaran yang diyakini mereka, bahwa mereka adalah orang-orang benar yang memiliki iman dan Allah yang benar. Semoga kita bukan salah satu di antara mereka.

Tapi bagaimana dengan apa yang tertulis di dalam kitab Yesaya? Di sana Tuhan menyatakan dengan lantang bahwa Ia adalah satu-satunya Allah dan tidak ada Allah lain. Tuhan siapa yang berbicara dalam kitab Yesaya? Tuhan kita! Allah kita! Lalu apakah ini berarti bahwa kita harus menolak dengan keras segala keyakinan yang lain yang tidak sejalan dengan keyakinan kita? Mari kita lihat bersama apa yang disepakati dan ditulis di dalam Dokumen Persaudaraan Manusia. Paus menegaskan bahwa “iman kepada Allah mempersatukan dan tidak memecah belah. Iman itu mendekatkan kita, kendatipun ada berbagai macam perbedaan, dan menjauhkan kita dari permusuhan dan kebencian” (Pengantar).

Ketika kita beriman teguh pada Allah yang kita percayai hanya satu-satunya Allah, itu berarti kita akan taat dan setia pada-Nya. Di dalam ketaatan dan kesetiaan itu, kita memenuhi panggilan dan tugas yang diberikan-Nya kepada kita. Apa itu? Memberitakan Injil (Kabar Gembira) kepada semua bangsa. Yang kita beritakan adalah kabar gembira, sukacita. Bukan pertentangan atau pertikaian karena mengklaim bahwa kitalah yang memiliki Allah yang benar. Tidak ada sukacita dalam peperangan dan konflik. Dan tidak akan terwujud persatuan dan perdamaian jika kita tidak memiliki sukacita untuk dibagikan kepada sesama kita.

Kita tidak perlu meneriakkan kebenaran iman kita. Yang kita perlu lakukan adalah mengaplikasikan iman tersebut ke dalam sikap dan perilaku nyata sehari-hari. Menjadi seorang Katolik yang memiliki belas kasih dan membawa damai di mana pun kita berada.

Lalu bagaimana jika pihak lain yang berbeda keyakinan yang melakukan hal-hal negatif, menghina dan melecehkan agama serta Tuhan kita melalui kata-kata, sikap dan perbuatan mereka? Jika itu terjadi, kita harus selalu ingat untuk mengendalikan diri dan mengampuni serta berbelas kasih. Mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan. Dan, Tuhan tidak butuh untuk kita bela. Yang Ia inginkan dari kita adalah ketaatan dan kesetiaan menjalankan panggilan yang telah Ia berikan. Mewartakan Kabar Gembira (Sukacita). Apa yang kita wartakan? Yesus, Allah Tuhan kita yang satu, karena Dialah Kabar Gembira itu, Dialah Sukacita itu. Dia datang ke dunia mengorbankan nyawa-Nya untuk menawarkan keselamatan kepada semua orang tanpa terkecuali. Dan pewartaan kita hanya dapat berhasil jika kita sungguh-sungguh memiliki hati yang tulus bersukacita.

Misi kita hari ini: selalu mempromosikan perdamaian dan persatuan di mana pun kita berada. (BIL)

(Angel – Biro Nasional Karya Kapausan Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Partisipasi kaum awam: Semoga dengan keutamaan sakramen baptis, para awam, terutama kaum perempuan, dapat semakin ikut berpartisipasi dalam berbagai bidang tanggung jawab gerejawi. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Berbahasa lembut: Semoga umat Katolik mau mengutamakan bahasa yang lemah lembut sebagai upaya menciptakan persahabatan dan persaudaraan di tengah kemelut komunikasi media sosial yang cenderung pedas, mengancam, dan merusak dewasa ini. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami mempersembahkan kaum muda kami agar terus menerus belajar membela keadilan bagi siapa pun. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s