Misi: Membangun Budaya Ramah & Dialog

Hari ke-26, Renungan Bulan Misi
Senin, 26 Oktober 2020
Peringatan : St. Lucianus dan St. Marcianus

Bacaan : Ef. 4:32 – 5:8
Injil : Luk. 13:10-17

“Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” (Ef. 4:32)

Apakah sulit menjadi orang yang ramah? Seharusnya tidak. Tetapi hanya jika kita berhadapan dengan orang yang ramah juga. Lalu bagaimana jika kita berhadapan dengan orang yang tidak ramah, kasar dan tidak memiliki sopan santun? Biasanya akan menjadi tantangan yang berat untuk bisa terus menjaga kondisi kita tetap ramah dan tenang, baik secara perilaku maupun secara batin. Biasanya kita akan tersulut, terbakar lalu ikut terseret jatuh dalam ketidakramahan dan kekasaran yang serupa tanpa kita sadari. Ini sebenarnya hukum balas dendam, bukan hukum cinta kasih dan pengampunan yang Yesus ajarkan kepada kita.

Ajaran Tuhan memang tidak mudah, tapi bukan tidak dapat dilakukan oleh siapapun yang sungguh-sungguh mau mengikuti-Nya. Kita hanya butuh berfokus pada satu cerminan saja, Yesus Kristus. Ia telah dihina, disiksa, disalibkan oleh manusia, tetapi Ia tidak mendendam, sebaliknya Ia mengampuni dan bahkan mengurbankan Diri-Nya demi menyelamatkan karena besarnya cinta yang Ia miliki untuk manusia.

Tuhan menginginkan manusia hidup bersama dalam kasih mesra, saling mencintai, bekerjasama, dan saling mengampuni. Namun kenyataannya, terjadi banyak sekali konflik antara manusia. Konflik-konflik yang dipicu oleh perbedaan, baik perbedaan sepele yang lahir dari pikiran dan rasa setiap pribadi, hingga ke perbedaan penting mengenai keyakinan dan prinsip-prinsip kehidupan. Kita tidak mungkin menjadi sama, atau mengharapkan semua orang sepemikiran dan seperasaan dengan kita. Lalu bagaimana menyikapi perbedaan-perbedaan ini agar tidak menjadi konflik yang berujung pada perpecahan? Dialog!

Dikatakan seperti ini dalam dokumen Persaudaraan Manusia: Dialog, pengertian dan penyebaran budaya toleransi, penerimaan orang lain dan hidup bersama secara damai akan memberikan sumbangan penting untuk mengurangi banyak masalah ekonomi, sosial, politik dan lingkungan hidup yang menjadi beban berat sebagian besar umat manusia (art. 29).

Dialog adalah sebuah kegiatan yang dilakukan oleh lebih dari satu orang dan sifatnya timbal balik. Artinya, tidak dimonopoli atau didominasi oleh satu pihak saja. Ada relasi yang dibangun, ada komunikasi yang berjalan. Dan untuk itu fungsi mulut haruslah seimbang dengan fungsi telinga. Begitupun fungsi otak dengan fungsi hati. Perlu bernalar tetapi juga perlu berempati. Ada waktu untuk berbicara, mengemukakan pendapat dan pikiran, tetapi juga ada waktu untuk diam mendengarkan, siap menerima dan merasakan.

Dialog hanya bisa berjalan dengan baik kalau kedua belah pihak atau semua pihak yang terlibat memiliki sikap ramah, seorang terhadap yang lain. Dan bagian “mengampuni” juga penting. Sering kali dalam dialog ada salah kata/ucapan, salah penafsiran, salah penyampaian, dan salah penerimaan. Untuk semua itu diperlukan adanya hati yang terbuka dan lapang untuk mengampuni sehingga dialog tidak terputus dan bisa terus berlanjut.

Sikap ramah tamah, sopan santun dan dialog tidak dapat begitu saja mengakar dalam kehidupan bermasyarakat. Harus ada yang memulainya, membiasakannya sehingga terbentuk menjadi sebuah budaya. Karena itu mari kita mulai dari diri kita sendiri, dalam keluarga dan lingkungan sekitar kita. Biasakan ramah kepada siapa saja yang kita temui, berperilaku sopan dalam segala situasi dan mengutamakan dialog di mana pun juga, menghadapi siapa pun juga (anak kecil-orang tua, karyawan-pimpinan, dll). Dengan begitu kita akan menjadi salah satu pelopor perubahan untuk dunia yang lebih baik, seperti yang diinginkan Tuhan, di mana semua orang dapat hidup bersama dan saling mencintai.

Konflik mendatangkan banyak masalah sementara dialog, toleransi, penerimaan terhadap orang lain dan perdamaian dapat mengurangi banyak masalah dalam hidup kita.

Misi kita hari ini: menjadikan budaya ramah tamah, sopan santun dan dialog sebagai ciri Kristianitas kita terhadap sesama. (BIL)

(Angel – Biro Nasional Karya Kepausan Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Partisipasi kaum awam: Semoga dengan keutamaan sakramen baptis, para awam, terutama kaum perempuan, dapat semakin ikut berpartisipasi dalam berbagai bidang tanggung jawab gerejawi. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Berbahasa lembut: Semoga umat Katolik mau mengutamakan bahasa yang lemah lembut sebagai upaya menciptakan persahabatan dan persaudaraan di tengah kemelut komunikasi media sosial yang cenderung pedas, mengancam, dan merusak dewasa ini. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami mempersembahkan kaum muda kami agar terus menerus belajar membela keadilan bagi siapa pun. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s