Misi: Mengembangkan Relasi dengan Tuhan Dalam Doa

Hari ke-28, Renungan Bulan Misi
Rabu, 28 Oktober 2020
Pesta : St. Simon dan Yudas

Bacaan : Ef. 2:19-22
Injil : Luk. 6:12-19

“Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah.” (Luk. 6:12)

Pada Audiensi di Vatikan tanggal 27 Mei 2020, Bapa Paus Fransiskus mengatakan bahwa, ketika sebuah doa autentik (asli), doa itu “membebaskan diri dari naluri menuju kekerasan”. Doa yang autentik adalah “tatapan yang diarahkan kepada Allah, sehingga DIA dapat kembali merawat hati manusia”. Doa menanam hamparan bunga kelahiran baru di berbagai tempat, di mana kebencian manusia hanya mampu menabur padang kekeringan. (Vatican News, Pope at Audience: Prayer cultivates flowers of rebirth).

Bukan hanya kita, bahkan Yesus pun berdoa. Setelah pengajaran-Nya atau pelayanan-Nya, Yesus selalu menyingkir, mencari tempat yang sunyi, dan berdoa kepada Bapa-Nya. Doa adalah sumber kekuatan Yesus, momen di mana Ia berhenti dari segala kegiatan-Nya, untuk berjumpa secara khusus dan intim, berelasi dengan Allah Bapa. Kita pun sama, kita hendaknya pun tahu untuk berhenti sejenak, menyediakan waktu khusus bersama Bapa kita. Dan bukan hanya memberikan waktu sisa.

Doa mengheningkan hati. Dan seperti yang dikatakan Bapa Suci, doa juga membebaskan diri kita dari naluri kekerasan. Saat kita datang kepada Tuhan untuk berdoa, kita membuka dan mempersembahkan diri, memberikan kesempatan kepada Tuhan untuk masuk merawat hati kita. Ia akan membalut hati yang terluka, menyiram hati yang telah meranggas, membebaskan hati yang terpenjara dosa, melembutkan hati yang mengeras karena ditumbuhi akar kepahitan, bahkan menghidupkan kembali hati yang telah mati. Tuhan akan merawat hati kita.

Seperti halnya Yesus, kita hendaknya menyingkir setelah melakukan aktivitas duniawi kita, dan mencari Bapa. Itu bisa kita lakukan di dalam kamar, sendirian atau juga bersama keluarga, dalam doa dan ibadat harian. Namun, baiklah kita sadari bahwa doa bukan melulu berisi kata-kata, permintaan atau lafalan verbal. Terkadang kita cukup duduk diam, tanpa suara, dengan mata tertutup namun hati terbuka lebar, hanya terfokus pada-Nya. Biarkan Ia yang berbicara. Biarkan Ia menjamah hati kita. Dan seperti Maria saudari Marta yang duduk di kaki Tuhan, kita pun mengambil sikap batin yang sama, memilih bagian yang terbaik, mendengarkan-Nya…

Ada saat untuk berdoa pribadi, ada saat untuk berdoa bersama-sama. Kita adalah bagian dari Umat Allah. Gereja merupakan kumpulan Umat Allah. Tanpa Umat Allah, Gereja hanyalah bangunan kosong. Untuk itu kita juga harus selalu ingat untuk berkumpul bersama, dan berdoa bersama di Gereja. Relasi kepada Tuhan juga kita bangun dalam relasi kita dengan sesama. Dalam ibadat bersama, kita saling menguatkan iman, persaudaraan dan persatuan. Kita memerlukan Gereja, seperti halnya saudara muslim kita memerlukan Masjid. Rumah-rumah ibadah harus dipandang sebagai tempat-tempat suci, karena di sanalah tempat perjumpaan antara Umat Allah dan Allah Sang Pencipta.

Dalam dokumen Persaudaraan Manusia, tertulis dengan jelas pentingnya untuk menjaga keberadaan rumah-rumah ibadah: Perlindungan tempat-tempat ibadah – Sinagoga, Gereja dan, Masjid – adalah kewajiban yang dijamin oleh agama, nilai-nilai kemanusiaan, hukum dan perjanjian internasional (art. 31).

Misi kita hari ini: memperbaiki relasi dengan Tuhan dengan meluangkan waktu untuk tekun berdoa setiap hari. (BIL)

(Angel – Biro Nasional Karya Kepausan Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Partisipasi kaum awam: Semoga dengan keutamaan sakramen baptis, para awam, terutama kaum perempuan, dapat semakin ikut berpartisipasi dalam berbagai bidang tanggung jawab gerejawi. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Berbahasa lembut: Semoga umat Katolik mau mengutamakan bahasa yang lemah lembut sebagai upaya menciptakan persahabatan dan persaudaraan di tengah kemelut komunikasi media sosial yang cenderung pedas, mengancam, dan merusak dewasa ini. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami mempersembahkan kaum muda kami agar terus menerus belajar membela keadilan bagi siapa pun. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s