Misi: Terus Berjuang dan Percaya pada Tuhan

Hari ke-30, Renungan Bulan Misi
Jumat, 30 Oktober 2020
Peringatan : St. Marcellus

Bacaan : Flp. 1:1-11
Injil : Luk. 14:1-6

“Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.” (Flp. 1:6)

Padre Pio di suatu momen ketika merefleksikan hidupnya, mengatakan: “So many gifts, so many grace, so many miracles…”

Hidup adalah pemberian, hadiah dari Tuhan. Hidup bukanlah salib. Jika hidup menjadi salib dan penderitaan semata, mungkin ada yang salah dalam cara kita memandang, menerima dan menjalani kehidupan.

Dalam hidup kita selalu harus berusaha, dan itu kita sebut sebagai perjuangan. Apa yang kita perjuangkan? Macam-macam. Berbeda antara satu orang dengan yang lainnya. Ada yang berjuang untuk mencari nafkah, demi menghidupi keluarga. Ada yang berjuang untuk sembuh dari penyakit. Ada yang berjuang untuk masa depan, dengan tekun belajar, bahkan jatuh bangun dalam dunia usaha. Ada yang berjuang untuk menjaga dan memperbaiki relasi dengan keluarga, sahabat, orang yang dicintai. Dan ada orang-orang yang telah selesai dengan diri mereka sendiri, kemudian menggunakan hidup mereka untuk berjuang bagi kepentingan orang lain. Ya, hidup seharusnya memang berisi perjuangan, bukan sekedar untuk dipeluk erat-erat dan dinikmati sendiri. Karena hidup terlalu berharga jika tidak diperjuangkan hingga tarikan nafas terakhir kita.

Namun, perjuangan tersebut haruslah diikuti dengan sebuah kesadaran bahwa manusia memang memiliki kodrat untuk bekerja dan berusaha, dan manusia juga memiliki keterbatasan dan kelemahan. Kesadaran penuh akan kenyataan itu, dapat menghantar manusia pada ujung perjuangannya, untuk menyerahkan seluruh pekerjaannya itu pada Tuhan. Tuhan yang memulai pekerjaan baik di antara kita, Ia pula yang akan meneruskan dan menyempurnakannya.

Masalah terbesar – yang sebenarnya bukan benar-benar masalah – yang dimiliki manusia adalah terlalu mengkhawatirkan “hal-hal” yang ada di dalam hidupnya. Kekhawatiran itulah yang kemudian menyebabkan manusia menjadi terbeban dan melihat hidupnya sebagai kubangan penderitaan, dan menyebutnya sebagai salib berat. Ia terpusat pada diri dan hidupnya sendiri, lupa akan sekitar, lupa akan situasi dunia, lupa akan kehadiran Tuhan, dan lupa untuk bersukacita.

Jika hidup memang adalah sebuah hadiah, apa reaksi kita menerima kehidupan? Bersukacita! Bergembira! Lalu, hidup itu kita pakai dengan semangat sukacita tersebut untuk kemudian juga bisa membawa sukacita bagi orang lain. Namun, semua itu hanya bisa terjadi jika kita tidak hanya terpusat pada diri dan hidup kita sendiri. Kita tidak hanya berfokus pada kesulitan dan masalah-masalah kita sendiri. Kita tidak berpikir hanya kita seorang yang harus memperjuangkan kehidupan yang ada. Kita mau mengikutsertakan Tuhan dalam hidup kita, serta beriman penuh bahwa Ia akan menolong dan menyelesaikan apa yang tidak mampu kita lakukan.

Padre Pio mengalami banyak kesulitan, masalah, dan juga penderitaan dalam hidupnya. Namun, alih-alih mengeluh, ia mampu melihat dengan jelas ke dalam kehidupannya dan mengakui telah menerima banyak pemberian, rahmat, keajaiban. Hidupnya berlimpah rahmat Tuhan. Mengapa? Karena ia memperlakukan hidupnya benar-benar sebagai anugerah dari Tuhan. Hadiah yang kemudian ia bagi-bagikan kepada sesamanya dengan sukacita!

Hidup adalah anugerah, hal ini juga ditulis dalam dokumen Persaudaraan Manusia: Atas nama kebebasan yang telah Allah berikan kepada semua manusia seraya menciptakan mereka bebas dan mengistimewakan mereka dengan anugerah itu (art. 11).

Kita pun akan dapat menjadi seperti Padre Pio dalam memandang kehidupan kita masing-masing. Mari terus belajar untuk menghargai hidup kita, dengan terus berjuang namun tak pernah lalai mengingat bahwa Tuhan senantiasa menyertai. Percayalah selalu kepada-Nya!

Misi kita hari ini: terus berjuang melakukan karya-karya nyata dan menyerahkan semuanya dalam penyelenggaraan Tuhan. (BIL)

(Angel – Biro Nasional Karya Kepausan Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Partisipasi kaum awam: Semoga dengan keutamaan sakramen baptis, para awam, terutama kaum perempuan, dapat semakin ikut berpartisipasi dalam berbagai bidang tanggung jawab gerejawi. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Berbahasa lembut: Semoga umat Katolik mau mengutamakan bahasa yang lemah lembut sebagai upaya menciptakan persahabatan dan persaudaraan di tengah kemelut komunikasi media sosial yang cenderung pedas, mengancam, dan merusak dewasa ini. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami mempersembahkan kaum muda kami agar terus menerus belajar membela keadilan bagi siapa pun. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s