Menjadi Manusia yang Berbahagia di Hadapan Allah

Renungan Harian Misioner
Minggu, 01 November 2020
HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS

Why. 7:2-4,9-14; Mzm. 24:1-2,3-4ab,5-6; 1Yoh. 3:1-3; Mat. 5:1-12a.

Sabda Bahagia ini mengawali Khotbah Di Bukit (Mat. 5-7). Dalam Khotbah di Bukit, Yesus ditampilkan sebagai Musa Baru yang memberikan Taurat baru. Yesus tampil dengan wibawa dan bagaikan seorang Rabbi duduk menyampaikan ajaran resmi dan mengikat. Ia memulai pemerintahan Allah dan mengajar umat Allah yang baru, yaitu para Murid dan orang banyak (bdk. 4:1-2, 25).

Kata “berbahagialah” dapat juga diterjemahkan dengan “terhormatlah kalian yang…” Masyarakat Palestina abad pertama tertata berdasarkan mentalitas “hormat-malu”. Dalam masyarakat seperti itu, seperti juga sebagian besar masyarakat kita dewasa ini, hidup yang “terhormat” adalah hidup yang kaya, bahagia, berkelimpahan, berpangkat, banyak teman, dll. Kata “berbahagialah” di awal semua sabda ini janganlah dilihat sebagai perintah atau harapan, tetapi pernyataan. Yesus menegaskan bahwa mereka yang mempunyai 8 kualitas diri berikut ini adalah orang-orang yang secara obyektif (bukan perasaan subyektif) memang “berbahagia” atau “terhormat” hidupnya!

Pertama-tama Yesus menyatakan “bahagia/terhormat” mereka yang miskin di hadapan Allah. Artinya: semua orang yang mengandalkan dan bergantung pada Allah dinyatakan “berbahagia” karena mereka boleh menikmati buah pemerintahan Allah yang tengah dihadirkan Yesus. Kelompok kedua yang dinyatakan “bahagia” adalah mereka yang berduka. Artinya: semua orang yang berduka karena disingkirkan dan kehilangan haknya di dunia ini akibat iman mereka, akan dihibur oleh Allah sendiri. Kelompok “berbahagia” yang ketiga adalah mereka yang lemah-lembut. Dalam masyarakat yang penuh dengan pentas dan kontes kehormatan, selalu saja ada konflik dalam rangka kehormatan dan harga-diri. Yesus justru menyebut bahagia orang yang lemah lembut, bukan orang yang mencari konflik dan pertentangan. Mereka itulah yang akan mendapat kehormatan dan kelimpahan dalam bumi yang baru. Sabda bahagia yang keempat ditujukan kepada orang yang lapar dan haus akan kehendak Allah. Artinya: mereka yang sungguh merindukan dan mencari kehendak Allah dalam hidupnya akan berbahagia, karena Allah pasti akan memuaskan kerinduan hati mereka.

Sabda bahagia kelima ditujukan kepada mereka yang berbelas-kasih. Artinya: mereka yang mengasihi dan mengampuni sesamanya, akan juga dikasihi dan diampuni Allah. Sabda bahagia yang keenam ditujukan kepada semua yang suci-hatinya, sebab mereka akan “melihat Allah”, artinya: mengalami kemuliaan Allah dan mengalami kehadiran-Nya. Sabda bahagia yang ketujuh ditujukan kepada mereka yang membawa damai: semua orang yang cinta-damai dan secara aktif membawa damai kepada semua orang, termasuk musuh (bdk. Mat 5:44). Mereka akan diakui sebagai anak-anak Allah di akhir zaman, karena sudah berupaya menghadirkan kedamaian sejati yang hanya berasal dari Allah. Dan yang terakhir, Yesus menyatakan bahagia mereka yang dianiaya karena melakukan kehendak Allah. Meski menderita mereka akan berbahagia karena mereka akan menjadi warga Kerajaan Surga.

Tidak kebetulan teks ini dipakai pada Hari Raya Semua Orang Kudus. Hidup para kudus menjadi bukti dan teladan nyata bahwa tuntutan Sabda Bahagia itu dapat kita praktikkan, bukan sekedar cita-cita luhur yang indah dikhotbahkan saja!

(Hortensius Mandaru – Lembaga Alkitab Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Intelegensi artifisial: Semoga kemajuan teknologi robotik dan intelegensi artifisial dapat dikendalikan demi tujuannya yang luhur, yakni melayani dan mengabdi manusia serta kemanusiaan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Para ayah: Semoga para ayah tetap menginsyafi kewibawaan dan kebijaksanaannya sebagai kepala keluarga di tengah arus sosial yang menggerus kehidupan keluarga zaman ini. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami persembahkan seluruh umat di Keuskupan kami untuk bersedia menjadi pejuang keadilan di setiap tempat tinggal dan karyanya. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s