Cinta untuk Rumah-Mu Menghanguskan Aku

Renungan Harian Misioner
Senin, 09 November 2020
Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran

Yeh. 47:1-2,8-9,12; Mzm. 46:2-3,5-6,8-9; 1Kor. 3:9b-11,16-17; Yoh. 2:13-22

Sebelum kita merefleksikan lebih jauh soal peristiwa Yesus mengusir para pedagang dan penukar uang dari Bait Suci, maka penting kita melihat sejarah kisah ini. Bagi orang Yahudi hari raya Paskah merupakan hari raya yang besar. Pada hari raya itu, semua laki-laki dewasa Yahudi yang berusia 13 tahun wajib berziarah ke Yerusalem. Upacara utama dalam hari raya Paskah adalah upacara kurban anak domba dan perjamuan Paskah dalam keluarga-keluarga. Selain kurban, para peziarah juga diwajibkan untuk membayar pajak ke Bait Suci. Mata uang yang hanya boleh dipakai adalah mata uang Yerasalem yaitu mata uang Tyria. Dua kewajiban ini menjadi kesulitan bagi orang-orang yang berasal dari luar Yerusalem. Perjalanan yang jauh membuat mereka sulit untuk membawa hewan kurban sendiri, begitu pun dengan uang pajak, karena mereka memiliki mata uang berbeda yang tidak berlaku di Bait Suci. Atas dasar kesulitan ini, maka sesungguhnya bukanlah suatu kesalahan bila ada para pedagang hewan (domba/kambing, merpati) dan para penukar uang ada di sana. Kehadiran mereka akan sangat membantu para peziarah.

Pertanyaannya adalah, bila kehadiran para pedagang dan penukar uang sungguh-sungguh membantu para peziarah agar dapat melaksanakan ibadah di Bait Suci, lantas mengapa Yesus marah?

Yesus mengetahui adanya ketidakjujuran dan ketidakadilan dalam praktik tersebut dan para pemuka agama ada di balik itu. Hal ini nampak jelas dalam ungkapan Yesus sebagaimana diceritakan oleh penginjil Sinoptik: “Rumah-Ku disebut rumah doa. Tetapi kamu jadikan sebagai sarang penyamun”. Ada praktik bisnis yakni meraup keuntungan dengan tameng demi ibadah keagamaan.

Kisah ini diceritakan oleh penginjil Yohanes pada awal karya Yesus, berbeda dengan injil Sinoptik yang meletakkannya pada akhir karya Yesus. Di sisi lain penginjil Yohanes juga mengulas lebih panjang dan mengungkapkannya secara lebih bebas soal kejadian tersebut. Gambaran sisi kemanusiaan Yesus (marah) terlihat lebih tajam dalam kisah ini. Sebagai pembandingnya dalam injil Matius diceritakan demikian: “Ia membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati…” (Mat. 21:12), sedangkan dalam injil Yohanes diceritakan demikian: “Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya. Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu buat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.” (Yoh. 2:15-16).

Pertanyaannya masih sama, mengapa Yesus begitu marah? Jawabannya bisa kita temukan dalam teks tersebut, yaitu pada ayat ke 17: “Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku”. Yesus sangat mencintai Bapa-Nya. Dan ini yang tidak dimiliki oleh para pemuka agama Yahudi juga para pedagang tersebut. Mereka seolah-olah tampak sibuk membantu penyelenggaraan ibadat di Bait Suci, namun mereka tidak memiliki kasih terhadap Allah dan sesama.

Hal seperti ini sering kali kita temukan dalam kehidupan bersama, tidak sedikit para pemuka agama atau orang yang seringkali terlibat dalam kehidupan menggereja berlaku demikian. Bertindak atas nama demi kepentingan keagamaan namun di balik itu ada maksud mencari keuntungan.

Hal berikut yang lebih menarik lagi adalah soal arti dari Bait Suci itu sendiri. Selain merujuk pada bangunan, Yesus juga menyatakan bahwa Tubuh-Nya adalah Bait Suci itu sendiri. “Rombaklah Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikan-Nya kembali”. Apa yang dikatakan oleh Yesus ini, kemudian baru dipahami oleh para murid-Nya setelah peristiwa kebangkitan-Nya. Tentang tubuh sebagai Bait Allah, juga dinyatakan oleh rasul Paulus kepada jemaat Korintus. Demikian bunyinya: “Tidak tahukah kamu bahwa kamu adalah Bait Allah, dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu. Jika ada orang yang membinasakan Bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab, Bait Allah adalah kudus, dan Bait Allah itu ialah kamu” ( 1Kor. 3:16-17).

Tubuh kita adalah Bait Allah. Tempat Allah berdiam. Namun tidak semua orang menyadarinya. Harga diri “diperdagangkan”. Bahkan membuatnya menjadi begitu murah. Sebagaimana Yesus mengusir para pedagang dan penukar uang karena mereka tidak menghargai kesucian dan kekudusan Bait Allah. Begitu pun dengan diri kita. Bila kita tidak mampu menghargai kekudusan diri kita, maka Tuhan pun akan menghukum kita.

Pada tanggal 9 November ini, Gereja merayakan pesta peringatan pemberkatan Gereja Basilika Lateran. Dengan pesta ini marilah kita sadari persekutuan hidup beriman kita dengan merenungkan dua hal:
• Gereja adalah tempat di mana orang ingin mengalami perjumpaan secara langsung dengan Tuhan. Jangan pernah menghalangi niat sesama (umat) kita untuk mengalami sukacita itu lewat tuntutan finansial dengan tameng demi kepentingan ibadah.
• Berkat sakramen Baptis, tubuh kita telah disucikan. Dan kita telah diangkat menjadi anak-anak Allah. Umat pilihan Allah. Marilah kita berjuang menjaga kesucian diri kita, dan tidak merusaknya dengan hal-hal yang tidak benar.

(RD. Stefanus Si – Imam Keuskupan Weetebula)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Intelegensi artifisial: Semoga kemajuan teknologi robotik dan intelegensi artifisial dapat dikendalikan demi tujuannya yang luhur, yakni melayani dan mengabdi manusia serta kemanusiaan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Para ayah: Semoga para ayah tetap menginsyafi kewibawaan dan kebijaksanaannya sebagai kepala keluarga di tengah arus sosial yang menggerus kehidupan keluarga zaman ini. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami persembahkan seluruh umat di Keuskupan kami untuk bersedia menjadi pejuang keadilan di setiap tempat tinggal dan karyanya. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s