Talentamu Bukan Sekedar Untuk Disimpan!

Renungan Harian Misioner
Minggu Biasa XXXIII, 15 November 2020

Ams. 31:10-13,19-20,30-31; Mzm. 128:1-2,3,4-5; 1Tes. 5:1-6; Mat. 25:14-30 (Mat. 25:14-15,19-21)

Di akhir masa karya-Nya di dunia ini, sebelum “pergi ke luar negeri” (ay. 14), Yesus mempercayakan “talenta” kepada para pengikut-Nya. Talenta adalah mata uang bernilai ratusan juta rupiah. Konon, upah pekerja di Palestina zaman itu adalah 1 dinar/hari. Satu talenta = 6000 dinar. Jadi, hamba pertama, kedua dan ketiga masing-masing diberi kepercayaan setara dengan upah 100, 40 dan 20 tahun bekerja! Jumlah yang besar ini memperlihatkan nilai tinggi hal yang dipercayakan Yesus kepada para pengikutnya, yaitu: anugerah-anugerah Kerajaan Allah alias Kabar Baik (Injil)! Anugerah bernilai tinggi ini menuntut tanggung jawab dari para pengikut-Nya. Selama Tuhan belum datang, para murid harus berjaga-jaga, dengan cara: bekerja dengan talenta yang sudah diberikan! Setiap orang harus hidup sesuai dengan tuntutan Kerajaan Allah itu dan terlibat dalam mewartakan dan menyebarkan Kabar Baik, sesuai dengan kemampuannya.

Hamba pertama dan kedua melihat hubungan dengan tuan mereka sebagai relasi kepercayaan (bdk. kata “mempercayakan” di ay. 14, 20, 22). Oleh karena itu, mereka bertanggung jawab dan berani mengambil risiko. Merekalah ideal hamba yang baik dan setia, para murid Tuhan yang berkualitas. Di tangan mereka, anugerah Kerajaan Allah menjadi modal kerja nyata di lapangan, bukan hanya di atas kertas atau omongan. Perutusan mereka menjadi subur, sebab anugerah itu terus ditambahkan (ay. 28-29). Mereka terus berbagi dan menularkan cinta. Apa yang diperoleh dari Kristus sungguh dipakai demi kemajuan umat dan kebaikan masyarakat. Mereka kelak akan diberikan kebahagiaan tertinggi dan kekal di hadirat Tuhan (ay. 21 dan 23).

Perhatikan bagaimana hamba ketiga menggambarkan tuannya: “Tuan, aku tahu bahwa Tuan adalah orang yang kejam, yang menuai di tempat di mana Tuan tidak menabur dan memungut dari tempat di mana Tuan tidak menanam” (ay. 24b). Ia mempunyai gambaran yang salah tentang tuannya! Bagaimana mungkin seorang yang telah mempercayakan padanya uang sebesar gaji 20 tahun bekerja dikatakan “kejam” dan sewenang-wenang? Gambaran keliru ini membuat ia melihat hubungan dengan tuannya sebagai relasi penuh ketakutan (ay. 25). Ketakutan membuatnya tidak menghargai kemampuannya lalu mencari jalan aman: menguburkan talenta dalam tanah! Dialah hamba yang takut berupaya, takut berisiko dan tidak mau bertanggung jawab. Di mata tuannya, dia itu hamba yang “jahat dan malas”. Maka dia dihukum secara kejam, sesuai gambarannya sendiri tentang tuannya! Talentanya dialihkan kepada yang lebih bertanggung jawab, dan ia dilemparkan ke dalam kegelapan.

Nasib tragis hamba ketiga ini kiranya menyadarkan Saya dan Anda bahwa: anugerah Tuhan haruslah dipakai sebagai modal kerja untuk mempertaruhkan hidup dan berani mengambil risiko demi tegaknya Kerajaan Allah di dunia ini. Ketakutan berlebihan sering membuat kita puas dengan jalan aman. Kita lalu menjadikan Kabar Baik itu sekedar konsumsi dan kesucian pribadi belaka. Padahal, anugerah dan kepercayaan Tuhan itu terlalu mulia untuk hanya disembunyikan di dalam benak atau terkubur dalam KTP kolom agama saja.

(Hortensius Mandaru – Lembaga Alkitab Indonesia Jakarta)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Intelegensi artifisial: Semoga kemajuan teknologi robotik dan intelegensi artifisial dapat dikendalikan demi tujuannya yang luhur, yakni melayani dan mengabdi manusia serta kemanusiaan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Para ayah: Semoga para ayah tetap menginsyafi kewibawaan dan kebijaksanaannya sebagai kepala keluarga di tengah arus sosial yang menggerus kehidupan keluarga zaman ini. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami persembahkan seluruh umat di Keuskupan kami untuk bersedia menjadi pejuang keadilan di setiap tempat tinggal dan karyanya. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s