Mengakui Kebutaan Supaya Beroleh Terang Kebenaran

Renungan Harian Misioner
Senin, 16 November 2020
P. S. Margarita dr Skotlandia, S. Gertrudis

Why. 1:1-4; 2:1-5a; Mzm. 1:1-2,3,4,6; Luk. 18:35-43

Seperti para murid dan orang-orang yang menegor si buta, kita seringkali tidak mau membuka mata dan melihat sinar kemuliaan Tuhan dalam diri Yesus yang kita ikuti. Kita masih seperti para murid yang berada dalam kegelapan pencarian kemuliaan yang fana untuk kepuasan diri kita sendiri. Kita hanya mau melihat bayangan-bayangan kekhawatiran dan ketakutan yang kita bentuk menjadi keinginan-keinginan yang dapat menghancurkan jati diri kita. Ketakutan yang membuat kita tidak berani membuka mata, untuk melihat ke dalam diri sendiri serta menemukan wajah Allah sebagaimana diri kita diciptakan serupa dengan-Nya. Ketakutan yang justru membuat kita hanya duduk di pinggir jalan menuju kota Yerikho, dan mengemis layaknya orang yang tersisihkan seperti: orang fasik, orang berdosa dan kumpulan pencemooh. Mengaku pengikut Kristus tetapi tidak mengikuti Yesus yang berjalan ke Yerusalem menapaki jalan-Nya, kebenaran-Nya dan hidup-Nya yang kekal.

Keinginan yang salah juga menimbulkan prasangka yang menganggap segala pekerjaan dan pelayanan kita di dalam Gereja dirasa lebih berarti dibandingkan dengan sesama lainnya. Jerih payah dan ketekunan kita menimbulkan ketidaksabaran kita terhadap mereka yang dianggap sebagai murid yang kurang benar. Dan sekalipun berusaha tetap sabar dan tidak mengenal lelah untuk mempertobatkan mereka, sesungguhnya kita lupa bahwa kita tidak melakukan semuanya itu lagi karena kasih, tetapi lebih karena ingin memuaskan diri sendiri. Hanya jika kita dapat melihat Kasih Allah yang tanpa batas yang terlahir dalam diri Putera-Nya, Yesus, mampu melihat kenyataan sebagaimana adanya tanpa diwarnai ketakutan atau prasangka. Kita sendiri harus lebih dulu bertobat, agar dapat bersaksi tentang firman Allah dan tentang kesaksian yang diberikan oleh Yesus Kristus, supaya kita mampu menunjukkan kepada sesama kita keselamatan yang kita lihat dan alami (Why. 1:1-2; 2:2-5).

Menyadari hal ini, satu-satunya jalan adalah mengikuti teladan si buta, yang tidak melihat tetapi dapat menangkap makna yang tidak kelihatan dengan mata. Pertobatan dimulai dengan mendengarkan Yesus yang sedang lewat, menyerukan nama-Nya, memohon agar kegelapan kita digantikan dengan terang. Karena pembebasan yang dilakukan sang Mesias, seketika kita akan melihat Sang Terang itu sendiri berdiri di hadapan kita. Kita hanya mampu menengadah ke atas, bertelut memandang-Nya, menemukan wajah Allah serta mulai mengerti seperti apa sebenarnya terang wajah kita ketika diciptakan oleh-Nya. Kita memiliki pandangan baru tentang diri kita, sesama kita dan dunia, pandangan baru bahwa segalanya berasal dan bersumber dari belas kasih kekal Allah, yang adalah semua di dalam semua. Mata yang baru memberi hati yang baru pula dan akan membentuk manusia baru yang mengenali dirinya sendiri sebagai anak-anak terang, bukan anak kegelapan. Dan seperti kesaksian Yesus ketika pertama kali Ia mengumandangkan perutusan-Nya, kita sekarang menjadi bangsa yang telah melihat Terang yang bangkit dan mengikut Yesus sambil memuliakan Allah (1Kor. 15:28; 1Tes. 5:5; Mat. 4:16).

Maka, kita perlu lebih dulu mengakui bahwa diri kita buta, dan keinginan akan terang sebagai awal iman kita. Iman itulah telinga yang mendengarkan, hati yang berseru, mulut yang memohon, mata yang melihat dan kaki yang mengikuti Tuhan. Selanjutnya kita harus bertumbuh dalam Firman yang terus direnungkan, agar berbuah pada waktunya dan berhasil menapaki jalan kebenaran menuju keselamatan. (ek)

(Antonius Ekahananta – Awam Katolik Pengajar Misi Evangelisasi)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Intelegensi artifisial: Semoga kemajuan teknologi robotik dan intelegensi artifisial dapat dikendalikan demi tujuannya yang luhur, yakni melayani dan mengabdi manusia serta kemanusiaan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Para ayah: Semoga para ayah tetap menginsyafi kewibawaan dan kebijaksanaannya sebagai kepala keluarga di tengah arus sosial yang menggerus kehidupan keluarga zaman ini. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami persembahkan seluruh umat di Keuskupan kami untuk bersedia menjadi pejuang keadilan di setiap tempat tinggal dan karyanya. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s