Meratapi Ketidakadilan Seperti Kristus

Renungan Harian Misioner
Kamis, 19 November 2020

Why. 5:1-10; Mzm. 149:1-2,3-4,5-6a,9b; Luk. 19:41-44

Waktu kecil saya belum mengerti mengapa ibu saya sesekali meneteskan air mata ketika saya dengan keras kepala tidak mematuhi nasihatnya. Di kemudian hari, seiring perjalanan waktu, saya menyadari makna tangisan itu. Beliau sedih semata-mata bukan karena saya ‘bandel’, tetapi karena saya ‘merugikan diri sendiri’ dengan menolak nasihatnya. Mengalami sesuatu yang buruk akibat menolak ajakan yang baik merupakan hal yang menyedihkan.

Hal yang serupa terjadi dalam kisah Injil hari ini. Yesus meratapi kota Yerusalem. Bukan semata-mata karena Ia ditolak di kota suci itu, namun karena manusia menolak tawaran keselamatan dari Allah. Dan kita tahu selanjutnya apa yang terjadi atas kota Yerusalem yang diluluhlantakkan. Penolakan atas tawaran keselamatan Allah berujung pada musibah dan malapetaka. Bukan karena hukuman tetapi karena manusia sendiri yang memilih jalan kehancuran dan tidak mau diselamatkan.

Yerusalem merupakan simbol ‘rumah Allah’, kota suci, karena di sanalah terdapat Tabut Perjanjian. Namun kita tahu, bahwa ‘bait Allah’ sejatinya adalah hati kita sendiri. Ratapan Yesus atas kota Yerusalem menggambarkan pula ratapan-Nya atas diri kita masing-masing ketika kita menolak Yesus memasuki hati kita. Ketika kita menolak tawaran keselamatan Allah yang terwujud dalam Kristus. Ketika kita menolak untuk dicintai dan mencintai sesama kita.

Sebab jika Allah adalah kasih, penolakan yang paling nyata terwujud dalam sikap acuh terhadap penderitaan sesama, ketidakadilan sosial, pengabaian nilai-nilai luhur kemanusiaan, dan eksploitasi berlebihan atas lingkungan hidup demi kepentingan pribadi. Di hadapan semua situasi tersebut Yesus meratap dan menangis. Namun kasih Allah selalu lebih besar. Kita akan melihat puncak cinta sejati Allah tersebut dalam peristiwa salib Yesus di Kalvari.

Marilah hari ini dengan rendah hati kita turut bersama Yesus meratapi dan menangisi segala bentuk ketidakadilan, kebencian, dan perpecahan di lingkungan kita. Marilah kita memohon bimbingan Roh Kudus pula, agar ditengah situasi ‘penolakan’ tersebut, kita tetap mampu menghadirkan karya keselamatan Allah. Walau dengan tindakan sesederhana senyuman dan sapaan kepedulian, kita turut serta meneladan Kristus menjadi misionaris Kasih Allah di dunia. Tuhan memberkati kita.

(Br. Kornelius Glossanto, SX – Missionaris Xaverian)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Intelegensi artifisial: Semoga kemajuan teknologi robotik dan intelegensi artifisial dapat dikendalikan demi tujuannya yang luhur, yakni melayani dan mengabdi manusia serta kemanusiaan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Para ayah: Semoga para ayah tetap menginsyafi kewibawaan dan kebijaksanaannya sebagai kepala keluarga di tengah arus sosial yang menggerus kehidupan keluarga zaman ini. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami persembahkan seluruh umat di Keuskupan kami untuk bersedia menjadi pejuang keadilan di setiap tempat tinggal dan karyanya. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s