Hancurnya Kota Yerusalem

Renungan Harian Misioner
Kamis, 26 November 2020
P. S. Yohanes Berchmans

Why. 18:1-2,21-23; 19:1-3,9a; Mzm. 100:2,3,4,5; Luk. 21:20-28

Kota-kota pada zaman dahulu biasanya dikelilingi oleh dinding-dinding tembok batu yang kuat. Para penduduknya merasa aman tinggal di dalamnya. Tetapi, ketika jalur makanan dari luar diputus dan kota itu dikepung oleh musuh maka penduduknya tentu akan gemetar ketakutan. Itulah yang terjadi tahun 586 SM ketika tentara Babilonia mengepung kota Yerusalem dan menghancurkannya.

Hal yang sama terjadi pada tahun 70 M, ketika tentara Romawi menghancurkan kota Yerusalem dan Bait Suci yang ada di dalamnya. Ratusan ribu orang tewas dan puluhan ribu orang ditawan.

Kehancuran Yerusalem sudah jauh hari diramalkan oleh Yesus bahkan juga oleh nabi Yesaya. Itu terjadi karena sudah terlalu banyak keluhan tentang kota ini: “Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari batu orang-orang yang diutus kepadamu” (Mat. 23:31). “Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu” (Luk. 19:42). “Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun” (Luk. 19:46). “Aku menanti supaya dihasilkannya buah anggur yang manis, mengapa yang dihasilkannya hanya buah anggur yang asam…. dinanti-Nya keadilan, tetapi hanya ada kelaliman, dinanti-Nya kebenaran tetapi hanya ada keonaran” (Yes. 5:1-30).

Dalam terang iman, ada beberapa hal yang hendak dikatakan oleh pengarang Injil:

(1) Yesus adalah Nabi
Salah satu ciri kenabian adalah bahwa seseorang dapat mengetahui tanda-tanda jaman dan apa yang dikatakannya terjadi: “Apabila seorang nabi berkata demi nama TUHAN dan perkataannya itu tidak terjadi dan tidak sampai, maka ituah perkataan yang tidak difirmankan TUHAN; dengan terlalu berani nabi itu telah mengatakannya, maka janganlah gentar di hadapannya” (Ul. 18:22). Hancurnya kota Yerusalem menjadi saksi bahwa Yesus adalah benar-benar seorang Nabi karena apa yang dikatakan-Nya terjadi. Kata-kata-Nya perlu didengar.

(2) Gereja adalah Yerusalem Baru
Hancurnya Yerusalem bukan akhir dari segalanya melainkan pertanda sebuah permulaan yang baru, yakni kelahiran Gereja. Gereja adalah Yerusalem baru yang dibangun bukan lagi dengan batu melainkan oleh iman akan sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus Tuhan. Yesus menjadi batu dasar yang kuat, di mana alam maut tidak akan menguasainya

(3) Para Murid Harus Berani Memanggul Salib
Berkali kali Yesus mengatakan hal ini kepada para murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Luk. 9:22-26, 42b-45, 18:31-24). Yesus sendiri telah menjadi teladan dalam kesetiaan memanggul salib. Dengan penuh keberanian Ia tetap berjalan menuju Yerusalem untuk melakukan kehendak Bapa-Nya. Yesus sendiri juga telah memberikan jaminan bahwa para murid tidak akan menghadapi penderitaan seorang diri. Terbukti juga dalam sejarah Gereja, bahwa banyak di antara para murid-Nya yang percaya kepada-Nya telah dengan sukacita menjalani “Yerusaelm Kehidupan” mereka dengan memanggul salibnya, bahkan tidak sedikit dari mereka menjadi martir. Bagi mereka, penjara menjadi bagaikan istana, badai penderitaan menjadi seperti musim semi dan kematian menjadi saat-saat kelahiran kembali.

(RP. Anton Rosari, SVD – Imam Keuskupan Bogor)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Intelegensi artifisial: Semoga kemajuan teknologi robotik dan intelegensi artifisial dapat dikendalikan demi tujuannya yang luhur, yakni melayani dan mengabdi manusia serta kemanusiaan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Para ayah: Semoga para ayah tetap menginsyafi kewibawaan dan kebijaksanaannya sebagai kepala keluarga di tengah arus sosial yang menggerus kehidupan keluarga zaman ini. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami persembahkan seluruh umat di Keuskupan kami untuk bersedia menjadi pejuang keadilan di setiap tempat tinggal dan karyanya. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s