Menjadi Manusia Yang Ekaristis

Renungan Harian Misioner
Rabu, 02 Desember 2020
P. S. Bibiana

Yes. 25:6-10a; Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6; Mat. 15:29-37

Penggandaan roti untuk kedua kalinya ini dilakukan karena Yesus peduli kepada mereka yang sudah 3 hari mengikuti Dia dan belum berkesempatan makan. Dibandingkan dengan kisah pertama (14:13-21), maka kisah kedua ini lebih memberi penekanan pada belas kasih Yesus. Hati Yesus tergerak oleh belas kasih kepada orang lumpuh, orang timpang, orang buta, orang bisu dan orang-orang dengan berbagai penderitaan lainnya, dan Ia menyembuhkan mereka. Penderitaan-penderitaan inilah yang membuat manusia memiliki hambatan untuk berelasi dengan Allah. Penderitaan itu membuat mereka tidak dapat menghayati kepenuhan hidup, mereka tidak bisa menjadi dirinya sendiri sebagai gambaran Allah yang hidup. Untuk itulah mereka datang agar disembuhkan dari ketuliannya mendengar Firman dan mampu mengungkapkan Sabda Allah kepada sesamanya. Mereka jadi mampu berdiri tegak kembali karena disembuhkan dari ketimpangannya, dan mampu berjalan untuk memberitakan Firman-Nya. Mereka terbebas dari kebutaannya sehingga dalam terang iman, mereka dimampukan menghayati hidup sebagai anak Allah dan saudari-saudara bagi sesamanya. Inilah janji Allah yang digenapi dengan kehadiran-Nya di tengah-tengah umat-Nya: keselamatan bagi umat Tuhan di mana mata orang-orang buta akan dicelikkan, telinga orang-orang tuli akan dibuka, orang-orang lumpuh akan melompat seperti rusa dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai (Yes. 35:5-6).

Yesus juga menawarkan sikap belas kasih dan rencana-Nya untuk memberi makan orang-orang itu kepada murid-murid-Nya dengan mengulangi pemberian roti yang sudah pernah dilakukan-Nya. Dia melakukan hal itu karena Dialah Gembala yang menjamin bahwa kita tidak akan kekurangan. Dia akan menyediakan hidangan bagaikan perjamuan dengan masakan yang bergemuk dan bersumsum, dengan anggur tua yang disaring endapannya. Namun sebagaimana para murid, kita juga berulang-kali mencoba melemparkan tanggung jawab untuk berbelas kasih itu kepada orang lain, enggan merepotkan diri untuk menolong orang yang kita rasa bukan kelompok kita. Tapi dengan bertanya “Berapa roti ada padamu?” Yesus mengingatkan bahwa jalan keluar dari penderitaan harus berasal dari ke-‘tujuh roti dan ikan-ikan’ yang kita miliki, yang artinya: dengan menyerahkan seluruh kepunyaan kita kepada Yesus, untuk disyukuri, diberkati, dipecah-pecahkan dan kemudian dibagi-bagikan kepada orang banyak supaya mereka makan sampai kenyang, sampai mereka pun mencapai kesempurnaan untuk mengasihi seperti Bapa (Mzm. 23:1, 5a; Yes. 25:6; Mat. 5:48; 15:33-37).

Pemberian roti (sekali lagi) itu juga menunjukkan bahwa: kita, bukan hanya satu kali saja, melainkan setiap hari membutuhkan belas kasih Allah yang menyembuhkan kita dari segala derita. Sama seperti para murid, kita yang meski berulang-ulang merayakan perjamuan Ekaristi dan menyantap Roti, masih saja susah menerapkan belas kasih Yesus; kita masih seperti yang dikatakan Paulus: “makan dan minum tanpa mengakui Tubuh Tuhan” (1Kor. 11:29). Tetapi Tuhan itu panjang sabar, dan setiap hari Dia kembali memberi Roti kepada kita. Dia memang Guru yang terus mengulangi pengajaran-Nya lewat makanan Firman-Nya, yang perlahan tapi pasti akan menyembuhkan kita. Sebagai orang beriman, dengan mengenangkan Tubuh-Nya yang dianugerahkan-Nya kepada kita, mengenang belas kasih-Nya dan terus-menerus memakan Roti ini, dapat membawa kita sampai pada kepenuhan hidup yang ekaristis, suatu kehidupan yang mewujud dalam ucapan syukur serta menjadi anugerah bagi sesama dan kemuliaan Bapa. (ek)

(Antonius Ekahananta – Awam Katolik Pengajar Misi Evangelisasi)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Hidup doa: Semoga hubungan pribadi kita dengan Yesus Kristus diperkaya oleh Sada Allah dan hidup doa. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Berhati-hati terhadap konsumerisme: Semoga keluarga-keluarga Katolik diberanikan dalam membatasi konsumsinya hanya pada barang-barang yang memang diperlukan, sehingga rela membagikan sebagian miliknya pada mereka yang lebih membutuhkan. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami menggabungkan diri dengan Keluarga Kudus Nasaret untuk menggapai keadilan dengan Sang Sahabat, ialah Yesus Kristus, Tuhan kami. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s