Lakukan Perbuatan Baik Atas Dasar Cinta

Renungan Harian Misioner
Rabu Adven II, 09 Desember 2020
P. S. Yohanes Didaci Cuauhtlatoatzin

Yes. 40:25-31; Mzm. 103:1-2,3-4,8,10; Mat. 11:28-30

Apakah Anda pernah mengalami beban dalam hidup Anda? Banyak orang mengalami beban dalam hidup, entah itu berkaitan dengan urusan keluarga, pekerjaan, maupun tanggung jawab yang diterima. Beban itu bisa secara fisik maupun secara mental yang seringkali menghalangi kita untuk mengalami kebahagiaan dalam hidup. Saat mengalami beban dalam hidup, banyak orang merasa putus asa dan tanpa harapan. Mereka berpikir tidak ada kebahagiaan dalam hidup ini. Namun, Yesus dalam bacaan Injil meneguhkan kita: “Marilah kepada-Ku semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu” (Mat. 11:28). Sabda Yesus ini menjadi penghiburan bagi kita semua, ketika hidup ini melelahkan dan memberatkan, khususnya ketika dunia sedang berjuang melawan dengan pandemi Covid-19.

Yesus juga mengajak kita untuk memikul kuk-Nya. “Pikullah kuk yang Kupasang, dan belajarlah pada-Ku” (Mat. 11:29). Kuk itu selalu membebani dan semua orang ingin menghindarinya. Apa yang dimaksudkan Yesus dengan kuk yang ditawarkan kepada kita? Jelas bahwa Yesus memaksudkan kuk itu sebagai kuk cinta. Bagi Yesus, memikul kuk itu mudah, karena sikap Yesus terhadap iman dan agama, dan semua yang dilakukan-Nya bukanlah suatu kewajiban bagi-Nya melainkan sebuah ungkapan cinta. Yesus menerima dan memikul “salib” yang diberikan Bapa-Nya dengan gembira dan penuh cinta, karena apa yang Ia lakukan adalah tanda cinta Allah kepada manusia. Itu adalah tanda kasih! Kasih membuat pengorbanan itu menyenangkan dan mudah. Kita dapat menemukan itu dalam realitas hidup kita, begitu banyak orang melakukan pekerjaan yang tidak mudah, memberikan bantuan kepada orang lain dengan totalitas diri dan penuh pengorbanan, karena tindakannya merupakan ungkapan cintanya. Ketika kita memikul salib dan menjalankan tugas kita dengan sikap cinta seperti yang dilakukan oleh Yesus, tindakan kita itu menjadi kurang melelahkan dan lebih bermanfaat dan memuaskan, mengetahui bahwa kita telah memberikan hidup kita kepada orang lain dan membuat perbedaan dalam hidup mereka. Karya cinta selalu melibatkan pengorbanan dan rasa sakit. Ketika kita melakukan perbuatan baik atas dasar cinta, maka jenis pekerjaan yang kita lakukan itu membebaskan dan memberdayakan. Tanpa rasa cinta, semua yang dilakukan sebagai beban dan terasa berat. Dengan ini, kita memahami dengan mudah apa yang dimaksudkan Yesus, “Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.” (Mat. 11:30).

Pertanyaan bagi kita, mengapa kita seringkali merasa tidak sanggup memikul salib hidup kita? Mungkin karena kita kekurangan kasih dan mendapati diri kita tidak mampu memikul beban kita seperti cara Yesus memikul salib. Kita terlalu fokus pada pengalaman masa lalu kita yang buruk, atau dosa-dosa kita dan merasa tidak sanggup untuk hidup lebih baik. Namun, kita tidak perlu berkecil hati, Tuhan tahu keterbatasan dan ketidakmampuan kita untuk memikul salib-salib dalam hidup ini. Menyadari ketidakmampuan kita untuk memikul salib, Dia mengutus Yesus untuk menguatkan kita, memikul salib bersama-Nya. Karenanya, kita dipanggil untuk datang kepada Yesus! Dia menjadi sumber kekuatan kita untuk memikul beban hidup kita. Namun Yesus juga menuntut kita untuk belajar kerendahan hati dari-Nya, “belajarlah daripada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan” (Mat. 11:29b). Di hadapan Tuhan, kita perlu mengakui keterbatasan kita dengan penuh kerendahan hati. Kita tidak seperti Tuhan yang sanggup melaksanakan semuanya dengan kekuatan-Nya sendiri. Kita membutuhkan Tuhan untuk memberi kita kekuatan mengatasi keterbatasan kita, sebagaimana diserukan nabi Yesaya, “Dia memberi kekuatan kepada yang lelah, dan menambah semangat kepada yang tidak berdaya. Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu, dan teruna-teruna jatuh dan tersandung, tetapi orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru…mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.” (Yes. 40:29-31).

Pada masa adven ini, hendaklah kita menanggalkan semua kenangan yang menyakitkan dan kesedihan pada masa lalu kita, bahkan dosa-dosa kita. Kita belajar untuk melepaskan dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan dengan gembira, sehingga hati kita menjadi lebih ringan dan kita pun menjadi lebih siap untuk memikul salib sebagai tanda kasih kita kepada Tuhan dan sesama.

(RP. Gabriel Joseph, CSsR – Imam di Manila)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Hidup doa: Semoga hubungan pribadi kita dengan Yesus Kristus diperkaya oleh Sada Allah dan hidup doa. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Berhati-hati terhadap konsumerisme: Semoga keluarga-keluarga Katolik diberanikan dalam membatasi konsumsinya hanya pada barang-barang yang memang diperlukan, sehingga rela membagikan sebagian miliknya pada mereka yang lebih membutuhkan. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami menggabungkan diri dengan Keluarga Kudus Nasaret untuk menggapai keadilan dengan Sang Sahabat, ialah Yesus Kristus, Tuhan kami. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s