Misionaris: Antara Penyalur Berkat vs Penyalur Fitnah

Renungan Harian Misioner
Senin, 14 Desember 2020
P. S. Yohanes dr Salib

Bil. 24:2-7,15-17a; Mzm. 25:4bc-5ab,6-7c,8-9; Mat. 21:23-27

Renungan Misioner dari Yung-Fo,

Para sahabat misioner yang terkasih: Shalom!

Pada hari ini, kita menyatukan diri dengan Gereja yang satu, kudus, Katolik, dan yang apostolik, untuk merayakan “peringatan wajib” Santo Yohanes dari Salib. Dia seorang imam dari Ordo Karmel, dengan gelar ”Pujangga Gereja” karena kekayaan rohani yang diwariskannya, bukan hanya kepada Ordonya tetapi kepada seluruh Gereja. Karyanya dalam bentuk buku antara lain: Mendaki Gunung Karmel, Malam Gelap, Madah Rohani, dan Nyala Cinta Yang Hidup.

Selain dipertemukan dengan Santo Yohanes dari Salib, yang hidup pada abad ke 16 (lahir pada 24 Juni 1542), Firman Tuhan membawa kita menyelam ke kedalaman Karya Penyelamatan Allah, menjumpai Bileam bin Beor di masa PL, dan dengan para imam kepala berikut pemuka-pemuka bangsa Yahudi, yang hidup se-zaman dengan Tuhan kita Yesus Kristus. Dari para tokoh alkitabiah inilah kita akan menarik sejumlah poin untuk permenungan kita hari ini.

1. Penyalur Berkat Allah
Bileam bin Beor adalah orang yang dipanggil oleh Balak bin Zipor, raja Moab, dan diberi tugas untuk mengutuki bangsa Israel (Bil. 22:2-6. 36-41). Sekalipun demikian, oleh karena campur-tangan Tuhan melalui malaikat-Nya (Bil. 22:21-35), Bileam akhirnya memilih untuk mendengarkan dan melaksanakan Firman Tuhan (Bil. 24:3. 15), dan menolak untuk memenuhi keinginan Balak bin Zipor yang memintanya untuk mengutuki bangsa Israel (Bil. 23:4-24).

Tuhan Allah yang dipanggil Bileam, Dialah yang menaruh Firman-Nya ke dalam mulut Bileam, sehingga kutuk yang disiapkan untuk memenuhi permintaan raja Moab “hilang lenyap dari mulut Bileam”, dan sebagai gantinya, Firman Tuhanlah yang memenuhi mulut Bileam ini, (Bil. 23:4). Di depan raja Moab, Balak bin Zipor, Bileam dengan berani menegaskan bahwa dirinya berada di bawah perintah Tuhan, untuk memberkati bangsa Israel (Bil. 23:20).

Dari Bileam ini kita menemukan potret ideal seorang utusan Tuhan, dengan ciri yang menonjol: patuh-setia sepenuhnya kepada perintah dan rancangan Tuhan (Bil. 24:3. 15), dan menolak untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Allah (Bil. 24:12-13). Dan, oleh kuasa Roh Allah, kutuk yang semula diharapkan raja Moab atas bangsa Israel, berubah menjadi berkat (Bil. 24:2-9).

Perjumpaan kita dengan Bileam bin Beor mengingatkan kita, bahwa: demi kebaikan umat Pilihan-Nya, Allah berkuasa mengubah “kutukan” menjadi “berkat”. Dan bahwa dari mulut seseorang yang mempersembahkan korban kepada Tuhan dan menyerukan nama-Nya, telah ditentukan-Nya untuk menyampaikan kata-kata berkat, sehingga kata-kata kutukan dan hal-hal yg jahat tidak boleh keluar dari mulutnya.

2. Penghalang Berkat Allah
Bileam bin Beor adalah orang asing, tidak termasuk dalam bilangan bangsa Israel (Bil. 22:5), tetapi Tuhan Allah menjadikan dia sebagai seorang utusan, untuk menyampaikan doa berkat bagi bangsa Israel. Nah, bagaimana dengan sesama orang-orang Israel sendiri? Apakah mereka saling menyampaikan kata-kata berkat, satu kepada yang lain? Mari kita jumpai para imam-imam kepala dan para tua-tua bangsa Yahudi, yang dihadirkan kepada kita dalam bacaan Injil hari ini (Mat. 21:23-27).

Para tua-tua bangsa Yahudi berikut para imam kepala adalah mereka yang bertanggung-jawab atas kehidupan rohani bangsa Israel. Namun di dalam Firman Tuhan hari ini, mereka menunjukkan diri sebagai orang-orang yang tidak layak untuk tugas itu. Terutama ketika mereka mempersoalkan kewenangan Yesus sehubungan dengan karya belas-kasih dan pengajaran-Nya bagi umat Israel.

Dalam hubungan dengan Yesus, mereka seharusnya berperan seperti Yohanes Pembaptis dan muridnya, Andreas, yang mempertemukan orang-orang dengan Yesus (Yoh. 1:29-34. 40-42). Namun di dalam banyak perjumpaan dengan Yesus, para imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi ini malah berusaha supaya orang menjauh dari Yesus, karena menganggap bahwa Yesus bekerja dengan kuasa penghulu setan (Mat. 9:32-34). Tindakan menjauhkan orang-orang dari Yesus dengan fitnah sekeji itu, menjadi indikasi yang jelas bahwa mereka yang seharusnya menjadi penyalur berkat kepada sesama bangsa Israel, mereka gagal, dan malah menjadi penyalur fitnah.

3. Misionaris: Penyalur Berkat bukannya Penyalur Fitnah
Para sahabat misioner yang terkasih, ada pesan yang tegas dan jelas bagi kita dan bagi siapapun yang mengemban tugas sebagai misionaris Kerajaan Allah. Misionaris atau para pewarta Kabar Gembira tentang Kerajaan Allah adalah orang-orang dengan kualitas hidup seperti Bileam bin Beir dalam bacaan pertama hari ini. Tugas misionaris adalah menyalurkan berkat Allah kepada umat Pilihan-Nya. Seorang misionaris harus menjauhkan diri dari tutur-kata ujaran kebencian dan fitnah, seperti yang sering ditampilkan oleh para imam kepala, tua-tua bangsa Yahudi, para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Seorang misionaris, bukan hanya seorang yang sekedar berbicara, melainkan seorang pelaksana Firman Allah yang diwartakannya. Kritik Yesus kepada para ahli Taurat dan Kaum Farisi, mengingatkan kita bahwa cara hidup seorang misionaris harus sejalan dengan isi pewartaannya (Mat. 23:1-3). Semoga kita menjaga sikap dan tutur-kata serta tindakan kita, sehingga layak menyambut Tuhan Yesus Kristus yang sedang mendatangi kita hari-hari ini. Amin! (RMG).

(RD. Marcel Gabriel – Imam Keuskupan Pangkalpinang)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Hidup doa: Semoga hubungan pribadi kita dengan Yesus Kristus diperkaya oleh Sada Allah dan hidup doa. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Berhati-hati terhadap konsumerisme: Semoga keluarga-keluarga Katolik diberanikan dalam membatasi konsumsinya hanya pada barang-barang yang memang diperlukan, sehingga rela membagikan sebagian miliknya pada mereka yang lebih membutuhkan. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami menggabungkan diri dengan Keluarga Kudus Nasaret untuk menggapai keadilan dengan Sang Sahabat, ialah Yesus Kristus, Tuhan kami. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s