ALLAH Selalu Hadir di Keseharian Kita

Renungan Harian Misioner
Rabu, 16 Desember 2020
P. S. Sturmius, S. Teofanu

Yes. 45:6b-8,18,21b-25; Mzm. 85:9ab-10,11-12,13-14; Luk. 7:19-23

Bangsa Yahudi selalu menunggu akan datangnya Mesias yang mereka harapkan untuk menjadi pembawa keselamatan bagi mereka. Mesias yang mereka tunggu harus datang dari garis keturunan Daud yang diharapkan dapat membawa kembali kejayaan bangsa Yahudi. Maka dari latar belakang ini, Yohanes dan pengikutnya terus mendesak dan mau mengetahui dengan pasti, apakah benar Yesus adalah Mesias yang mereka tunggu, ataukah mereka harus menunggu ‘mesias’ yang lain?

Dalam bacaan Injil hari ini, Yohanes mengutus murid-murid-Nya untuk menyampaikan pertanyaan kepada Yesus, “Tuankah yang ditunggu kedatangannya, atau haruskah kami menantikan seorang lain?” Yesus kemudian menjawab pertanyaan para murid Yohanes dengan menyadur sabda kepada nabi Yesaya tentang tanda kehadiran Allah, “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kalian lihat dan kalian dengar: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik”. Menarik sekali jawaban Yesus ini yang mungkin sedikit kontras dengan bacaan pertama di mana Allah berulang-ulang kali menyatakan identitas-Nya dengan seruan “Akulah Tuhan”. Namun jawaban Yesus di sini justru begitu dalam dan penuh makna yang harusnya mudah ditangkap oleh pendengar-Nya bahwa hanya Allah yang sanggup untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib itu. Maka Yesus menutup jawaban-Nya untuk semakin menegaskan dan sekaligus menantang, “Berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku”.

Orang-orang yang hidup di zaman Yesus tidak semua dapat menerima konsep Mesias yang dibawa oleh Yesus di mana Ia hadir justru membawa pembebasan secara rohani dan bukan dalam pemikiran kebanyakan orang-orang sebangsa-Nya yang mendambakan mesias yang hadir untuk membawa kejayaan dan kebangkitan bangsa Yahudi bahkan bila jalan mesias yang ditempuh harus melalui peperangan. Wajarlah sebagian menolak dan tidak dapat menangkap arti kehadiran Allah di tengah-tengah mereka yang hadir dalam pribadi Yesus. Sesungguhnya mengenai kehadiran Allah ini, bagi kita manusia zaman modern justru memiliki tantangan yang lebih berat untuk percaya akan kehadiran-Nya dalam hidup sehari-hari. Kita tidak pernah melihat secara langsung bagaimana Yesus menyembuhkan orang buta, orang tuli, yang sakit kusta dan lumpuh bahkan melihat-Nya membangkitkan orang mati. Bahkan mereka yang melihat secara langsung ada juga yang menolak dan masih tidak percaya. Tetapi berbahagialah kita yang tidak pernah melihat namun percaya. Akan tetapi kepercayaan ini bisa menjadi kosong dan tanpa arti bila dari hari ke hari kita tidak mampu menangkap kehadiran Allah dalam bentuk yang lain. Apalagi di tengah kehidupan modern yang semakin kompleks ini menyangkut kegiatan sosial, dunia kerja, politik, teknologi informasi, keluarga dan sebagainya dapat mengalihkan perhatian kita untuk merasakan kehadiran Allah di setiap aktivitas kita. Akhirnya iman kita akan Yesus Kristus menjadi hampa dan hanya formalitas belaka sekali seminggu untuk datang ke Gereja mengikuti ibadat. Mampukah kita merasakan kehadiran-Nya di tengah kesibukan kita masing-masing?

Setiap pagi saya merasakan kehadiran Allah secara sederhana melalui kasih-Nya dari orang lain. Melalui ibu bagian dapur pastoran yang setiap pagi menyiapkan jus segar dan makanan sehat dengan sangat baik saya maknai sebagai bentuk kehadiran Kasih Allah melalui orang lain. Di kampus tempat saya bekerja, para staf dengan berbagai caranya masing-masing membantu saya meringankan berbagai macam pekerjaan dan beban tanggung jawab juga saya rasakan sebagai bentuk kehadiran Allah. Mari di tengah hidup yang semakin kompleks ini, kita berupaya untuk senantiasa merasakan kehadiran Allah di setiap kehidupan kita masing-masing meski hal itu kita peroleh melalui hal-hal yang sederhana.

(RD. Hendrik Palimbo – Dosen STIKPAR Toraja, Keuskupan Agung Makassar)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Hidup doa: Semoga hubungan pribadi kita dengan Yesus Kristus diperkaya oleh Sada Allah dan hidup doa. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Berhati-hati terhadap konsumerisme: Semoga keluarga-keluarga Katolik diberanikan dalam membatasi konsumsinya hanya pada barang-barang yang memang diperlukan, sehingga rela membagikan sebagian miliknya pada mereka yang lebih membutuhkan. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami menggabungkan diri dengan Keluarga Kudus Nasaret untuk menggapai keadilan dengan Sang Sahabat, ialah Yesus Kristus, Tuhan kami. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s