Gadis Perawan yang Terpilih Mengantar Anak Raja ke Dunia

Renungan Harian Misioner
Minggu Adven IV, 20 Desember 2020

2Sam. 7:1-5,8b-12,14a,16; Mzm. 89:2-3,4-5,27,29; Rm. 16:25-27; Luk. 1:26-38

Masa Adven banyak berbicara tentang dua protagonis: Yohanes Pembaptis dan Maria, si Pendahulu dan sang Ibu. Cerita tentang Yohanes yang dikandung ibu-mandul, langsung diikuti oleh cerita tentang Kristus yang dikandung bunda-perawan. Yang satu dikandung secara insani, meski sang ayah sudah aki-aki. Yang Lain dikandung secara ilahi, tanpa partisipasi seorang laki-laki. Dua-duanya menegaskan inisiatif dan karya Allah. Tetapi karya Allah itu jauh lebih besar dan unik menyangkut Yesus. Ia adalah Anak Allah dan Raja Penyelamat! Jadi, penginjil berfokus pada teologi bukan biologi seperti yang digemari para pembaca kini.

Yesus adalah “Anak Allah yang Mahatinggi”: sebuah gelar bagi Allah yang mengakar pada tradisi umat Israel. Dua kali (ay. 32 dan 35) ini ditegaskan untuk menyatakan bahwa Yesus lebih berkuasa dari para penguasa lainnya. Kaisar Agustus dan Raja Aleksander Agung juga bergelar “Anak Allah”. Keduanya juga dikandung secara ilahi, sebab ibu mereka konon dihamili oleh dewa secara misteri. Yesus jauh melebihi para penguasa hebat ini. Ia dikandung oleh seorang gadis yang masih perawan tanpa berhubungan dengan seorang manusia ataupun dewa. Sang Ibu tetap perawan: sebelum, selama dan setelah mengandung Dia! Jadi, sekali lagi, kehebatan sang Anak menjadi fokus. Teologi tentang sang Anak menjadi perhatian, bukan detil biologis si Ibu.

Sebagaimana dahulu Allah menciptakan manusia pada hari ke-6, sekarang Allah sendiri menjadi manusia pada bulan ke-6 (ay. 26). Kuasa dan daya penciptaan-Nya berkarya dalam dunia, lewat seorang perempuan. Tuhan suka membuat kejutan: Ia tidak memilih ratu atau putri bangsawan di ibukota. Ia memilih gadis desa pinggiran. Seperti biasa, Allah berkarya di luar skema dan perhitungan manusia. Dahulu di awal Penciptaan (Kej. 1:2), kuasa Roh Allah mengawali karya-ciptaan dalam rahim ibu-bumi yang “masih perawan”, demikian juga sekarang: Allah mengawali ciptaan baru dan definitif dalam rahim Maria, sang ibu-perawan. Bukan hanya itu! Allah juga “menaungi” Maria dengan Roh-Nya (ay. 35): Ia sekarang hadir secara baru dan definitif dalam dunia, seperti dahulu Ia hadir di tengah Umat-Nya dalam awan yang menaungi Kemah Pertemuan (Kel. 40:35).

Kehebatan sang Anak langsung juga berkaitan dengan keistimewaan Bunda-Nya. Tidak ada seorang pun manusia yang mendapat privilese seperti dia. Maka, layaklah Gabriel menyalaminya dengan “Bersukacitalah…!” (ay. 28). Terjemahan “Salam” mungkin terlalu ringan dibanding dengan “bersukacita”. Maria memang layak bersuka-cita sebab ia mendapat rahmat Allah yang tak terhingga dan tak terulang, yaitu: mengandung dan melahirkan Sang Raja yang akan memerintah selamanya. Ini tentu memenuhi nubuat nabi Natan (2Sam. 7:13-16). Tetapi kini tidak ada lagi suksesi, sebab Raja baru akan memerintah secara abadi. Maria, dengan demikian, menjadi model bagi Saya dan Anda. Marilah kita menyambut sang Bayi dengan Mary’s Way: menjawab “Ya” terhadap tawaran kasih Allah, memberi “daging” (wujud-nyata) terhadap Firman-Nya dan “melahirkan” sang Anak dalam sikap dan tindakan nyata!

(Hortensius Mandaru – Lembaga Alkitab Indonesia Jakarta)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Hidup doa: Semoga hubungan pribadi kita dengan Yesus Kristus diperkaya oleh Sada Allah dan hidup doa. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Berhati-hati terhadap konsumerisme: Semoga keluarga-keluarga Katolik diberanikan dalam membatasi konsumsinya hanya pada barang-barang yang memang diperlukan, sehingga rela membagikan sebagian miliknya pada mereka yang lebih membutuhkan. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami menggabungkan diri dengan Keluarga Kudus Nasaret untuk menggapai keadilan dengan Sang Sahabat, ialah Yesus Kristus, Tuhan kami. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s