Keluarga Kudus Teladan Keluarga Umat Manusia

Renungan Harian Misioner
Minggu, 27 Desember 2020
PESTA KELUARGA KUDUS
(Yesus, Maria, Yusuf)
Kej. 15:1-6; 21:1-3; Mzm. 105:1b-2,3-4,5-6,8-9; Ibr. 11:8,11-12,17-19; Luk. 2:22-40 (panjang) atau Luk. 2:22,39-40 (pendek)

Setelah Hari Raya Natal, kita merayakan Pesta Keluarga Kudus. Urutan ini tidak kebetulan. Gereja ingin menegaskan pentingnya keluarga bagi tumbuh-kembang anak. Bahkan, sang Anak Allah pun membutuhkan lingkungan keluarga yang baik. Dia tidak saja terlahir sebagai manusia, tetapi juga sebagai manusia yang dibesarkan dalam sebuah keluarga. Akan tetapi, keluarga Nasaret ini bukan keluarga yang biasa. Bayangkan, si ibu adalah seorang perawan yang berstatus mama. Yusuf, sang Ayah, bagaikan seorang bisu. Tidak sekalipun ia membuka mulut. Tentu ia tidak bisu, melainkan patuh melaksanakan rencana Bapa. Sang Anaklah yang menjadi pusat. Kelahiran-Nya menarik perhatian, bukan hanya gembala, tetapi juga malaikat. Jadi, “Keluarga Kudus” ini unik, justru karena kehadiran Sang Bayi!

Pertama, kehadiran-Nya mendorong Yusuf dan Maria untuk patuh-hukum dan taat-Taurat. Mereka menjadi orang-tua Yahudi yang baik dan saleh. Setelah melahirkan seorang bayi laki-laki, si Ibu menjadi tidak tahir selama 7 hari. Setelah itu, ia tetap harus tinggal di dalam rumah selama 33 hari, baru menjalankan upacara pentahiran (Im. 12:2-6). Maria dan Yusuf taat pada aturan ketahiran ini.

Kedua, bayi Yesus juga harus disunat. Sunat membuat sang Bayi menjadi anggota Umat Allah yang sah. Selain itu, Ia juga dipersembahkan kepada Allah, sebagai anak laki-laki sulung. Hal ini tidak saja memperlihatkan ketaatan orang tua-Nya (Kel. 13), tetapi juga iman mereka akan TUHAN sebagai Pemilik dan Pemberi segalanya. Seperti Samuel dahulu (1Sam. 1:24-28), demikian juga Yesus dipersembahkan kepada Allah oleh kedua orang-tua-Nya. Hidup-Nya akan diabdikan seluruhnya untuk melayani Allah. Dengan rumusan lain: Ia “dikuduskan bagi Tuhan” (ay. 23). Ini sesuai dengan kabar Malaikat kepada Maria bahwa “anak yang kau lahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah” (Luk. 1:35).

Ketiga, persembahan anak sulung biasanya “ditebus” (diganti) dengan cara membayar 5 syikal/uang perak (Bil. 3:47). Hal ini tampaknya tidak dilakukan oleh orang tua Yesus. Fokus Lukas lebih pada pengudusan/persembahan diri Yesus kepada Allah. Lebih dari itu: Yesus memang tidak perlu ditebus, sebab Dialah yang akan menebus umat-Nya dari dosa-dosa mereka.

Keempat, keluarga kudus ini disambut oleh sepasang lansia: Simeon dan Hana. Keduanya menjadi pewarta tentang jati-diri sang Bayi. Yesus adalah pemenuhan janji-janji para Nabi. Dalam diri-Nya, terpenuhi semua harapan Umat Allah akan keselamatan. Para sepuh ini mengajarkan Saya dan Anda tentang sikap yang tepat menyambut sang Bayi: Memohon bantuan Roh Kudus agar tekun mendambakan-Nya, serta dibimbing untuk berjumpa dan menyambut-Nya.

Kelima, Simeon dan Hana juga mewartakan jati-diri Yesus sebagai Mesias yang sejati. Ia bukanlah Mesias pejuang yang mengalahkan lawan demi memenangkan golongan-Nya. Dia adalah Penyelamat bagi semua manusia (ay. 31-32). Akan tetapi, Ia juga adalah Penyelamat yang akan tetap menjadi batu ujian dan sandungan. Dia akan terus menimbulkan perdebatan dan perlawanan. Hanya lewat jalan itulah Ia akan mengangkat kita kepada hidup mulia bersama-Nya.

(Hortensius Mandaru – Lembaga Alkitab Indonesia Jakarta)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Hidup doa: Semoga hubungan pribadi kita dengan Yesus Kristus diperkaya oleh Sada Allah dan hidup doa. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Berhati-hati terhadap konsumerisme: Semoga keluarga-keluarga Katolik diberanikan dalam membatasi konsumsinya hanya pada barang-barang yang memang diperlukan, sehingga rela membagikan sebagian miliknya pada mereka yang lebih membutuhkan. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Kami menggabungkan diri dengan Keluarga Kudus Nasaret untuk menggapai keadilan dengan Sang Sahabat, ialah Yesus Kristus, Tuhan kami. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s