“Ayo, Ikutlah di Belakang-Ku!”

Renungan Harian Misioner
Minggu, 24 Januari 2021
HARI MINGGU BIASA III

Yun. 3:1-5,10; Mzm. 25:4bc-5ab,6-7bc,8-9; 1Kor. 7:29-31; Mrk. 1:14-20

Setelah Yesus dibaptis (1:9-11) dan mengalahkan Iblis (1:13), penginjil merangkum inti karya Yesus, yaitu untuk memberitakan Injil Allah. Isinya: pemerintahan Allah di dunia ini sudah dimulai lewat pewartaan, karya dan hidup Yesus. Inisiatif Allah ini harus ditanggapi manusia dengan sikap yang sepadan, yaitu: bertobat dan percaya kepada berita gembira itu! Konkretnya bagaimana? Panggilan empat murid pertama menjadi modelnya.

Yesus berjalan, melihat dan memanggil. Yesus sudah mencari untuk memilih kita, sebelum kita berupaya mencari Dia! Berbeda dengan Yohanes Pembaptis yang menunggu orang datang, Yesus berjalan dan pergi mencari manusia. Pantai danau Galilea adalah tempat yang tepat. Di sana pelbagai manusia dari pelbagai daerah berkumpul dan berjumpa. Yesus ingin menyapa sebanyak mungkin manusia. “Berjalan” akan menjadi ciri-khas hidup Yesus selanjutnya: Ia senantiasa keluar mencari dan menemukan manusia yang hilang. Dia teladan kita para pewarta: tidak pernah mau menetap, apalagi melekat!

Yesus melihat para calon pengikut-Nya. Ini bukan pandangan biasa. Lewat pandangan-Nya, Yesus meneliti sebelum memilih. Ia memilah sebelum mengangkat mereka. Keempat calon murid itu sedang sibuk dengan pekerjaan mereka sebagai nelayan.Yesus memilih manusia yang sedang sibuk bekerja, bukan para pengangguran. Panggilan Tuhan terjadi dalam keseharian Saya, dalam kesibukan Anda, bukan di kala kita bermalas-malasan dan kebetulan tanpa kesibukan. Ah, betapa seringnya kita hanya memberi-Nya waktu dan tenaga “sisa”!

Yesus memanggil para murid-Nya secara singkat dan tanpa syarat. “Ayo, ikutlah di belakang-Ku!” Begitulah kira-kira terjemahan harfiahnya. Posisi seorang murid jelas ditegaskan: harus selalu berada di belakang sang Guru, untuk mendengar ajaran-Nya, menyaksikan karya-Nya dan mengikuti jalan hidup-Nya. Keempat murid pertama ini adalah dua pasang bersaudara: Simon dan Andreas, Yakobus dan Yohanes. Panggilan Yesus mempunyai dimensi personal sekaligus komunal. Keunikan-pribadi tetap dihargai, sekaligus mereka dipanggil ke dalam persaudaraan. Mereka dipanggil untuk “berjalan bersama Yesus”, sekaligus untuk berpatisipasi dalam tugas-Nya: “menjadi penjala manusia”. Prioritasnya jelas: hidup bersama Yesus dahulu (relasi), baru kemudian mendapat tugas-perutusan (misi). Misi yang berbobot didasarkan dan dijiwai oleh pengalaman “berelasi” dengan Yesus. Pengikut Yesus juga bukanlah kelompok tertutup. Para murid itu bertugas untuk menjala “manusia”: siapa saja, tanpa batas-batas!

Panggilan Yesus yang singkat ini sungguh berwibawa. Sabda-Nya berdaya dan tidak pernah sia-sia. Keempat nelayan kawakan langsung meninggalkan pekerjaan dan rutinitas harian mereka. Bukan hanya itu, Yakobus dan Yohanes bahkan meninggalkan ayah mereka. Tentu panggilan Tuhan tidak berarti menelantarkan orang tua. Masih ada perahu dan orang upahan yang menjamin kelangsungan hidup ayah mereka! Panggilan Tuhan berarti “meninggalkan” yang lain untuk “mengikuti Dia”. Ikatan dengan profesi, penunjang hidup, kerabat, dll, sekarang diganti dengan ikatan yang baru dengan Yesus. Bagi para murid, relasi dengan Yesus jauh lebih kuat dari semua ikatan lainnya. Sekarang mereka punya profesi baru, sebagai pengikut tetap Yesus. Hanya itulah “penunjang hidup” mereka selanjutnya!

(Hortensius Mandaru – Lembaga Alkitab Indonesia Jakarta)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Persaudaraan antarsesama manusia: Semoga Tuhan menganugerahi kita rasa persaudaraan yang kuat agar kita bisa hidup berdampingan bersama saudara-saudara kita yang berlainan agama dengan saling terbuka dan mendoakan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Solidaritas masyarakat: Semoga, kita sebagai bangsa, dapat melanjutkan dan makin mengembangkan solidaritas, terlebih bagi mereka yang miskin dan menderita oleh karena wabah Covid-19. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Perkenankanlah kami mempercayakan seluruh tahun ini dalam cinta-Mu, sebagaimana nampak dalam persembahan diri Santo Yoseph, yang menyertai Bunda Maria dalam memelihara Sang Putera, dalam pelbagai duka derita maupun sukacita di Nasaret. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s