Apakah Kita Telah Memberi Diri Sepenuhnya pada Allah?

Renungan Harian Misioner
Selasa, 02 Februari 2021
Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah

Mal. 3:1-4; Mzm. 24:7,8,9,10; Ibr. 2:14-18; Luk. 2:22-40

Setiap anak sulung lelaki dipersembahkan kepada Allah, dengan suatu upacara di Bait Allah. Tradisi ini ingin menggarisbawahi syukur para anak cucu Abraham atas karunia Allah memberi anak (sulung!), dan kesediaan untuk mempertanggungjawabkan arah bangsa pada kebaktian kepada Allah (lelaki). Selanjutnya, “persembahan kepada Allah” mau mengungkapkan “syukur dan kesediaan untuk berbakti kepada Allah”. Itulah sebabnya, dalam Gereja Katolik ada tradisi untuk merayakan “persembahan diri total kepada Allah”, berupa pengucapan kaul dan perayaan hidup-bakti. Dalam bahasa sehari-hari, pada tanggal 2 Februari secara khusus orang memperingati sumpah-sumpah khusus dan teristimewa kaul para biarawan-biarawati, atau persembahan hidup awam yang secara istimewa mengucapkan “kaul privat”.

BACAAN PERTAMA: MAL 3:1-4
Tuhan dikisahkan sebagai menyambut Allah yang mendatangi umat-Nya secara istimewa, karena orang mempersiapkan diri dengan khusus, untuk mempersembahkan ‘kurban khas’. Oleh sebab itu, persembahan itu disambut, tidak hanya sebagai pemberian diri perseorangan, melainkan dipandang sebagai ‘persembahan umat’.

Cara pandang di atas dalam Gereja sekarang dirangkum dalam pengucapan kaul biara dan kaul khusus, yang memang merupakan ungkapan bakti pribadi, namun disatukan dalam seluruh Gereja. Salah satu bentuknya adalah bahwa kaul-kaul itu diucapkan resmi di hadapan wakil Gereja, dicatat dalam peristiwa gerejawi serta membutuhkan izin Gereja apabila nantinyan ‘dicabut kembali’ (entah karena sebab apa pun).
Refleksi: sejauh manakah kita siap untuk memberi ‘persembahan diri khas’ kepada Allah?

BACAAN KEDUA: Ibr 2: 14-18
Persembahan diri orang yang secara istimewa masuk dalam ‘sikap hidup bakti kepada Allah’ diintegrasikan dalam persembahan Diri Yesus Kristus. Hal itu mencakup dua hal: yang pertama, persembahan itu sendiri dimasukkan dalam Persembahan Diri Yesus Kristus; dari sisi lain, persembahan diri si manusia disatukan dengan penjelmaan Sang Putera, yang ‘mengosongkan Diri menjadi manusia’ (Fil 2:1-11). Maka keilahian Sang Putera mewarnai persembahan ‘Hidup bakti’ dan ‘dimuliakan karenanya’; kelemahan manusiawi yang mengucapkan sembah bakti itu juga dipadukan pada persembahan diri Yesus Kristus.

Refleksi: sejauh manakah sembah-bakti manusiawi benar-benar kita hunjukkan kepada Allah dengan pengantaraan Sang Putera, bukan hanya sebagai upacara saja?

BACAAN INJIL: Lk 2:22-40
Dengan disaksikan oleh wakil-wakil Perjanjian Lama, Yesus dipersembahkan oleh Kedua Orang tua, kepada Allah secara istimewa, sebagai tanda bahwa Anak ini seutuhnya adalah “Anak Bagi Allah”. Dengan demikian, sekian banyak sikap yang diberikan oleh si Ibu dan si Bapak sejak disapa Gabriel dan dengan Impian berkali-kali itu, dipersembahkan secara nyata kepada Allah, dalam kesatuan dengan Perjanjian Lama, sejak Adam, melalui Abraham-Ishak-Yakub, Musa, Daud sampai Maria-Yoseph.

Keutuhan Persembahan Kanak-kanak itu akan menjadi utuh, ketika Yesus semakin menunjukkan kesiapan-Nya menjalani pengutusan kepada Allah Bapa: Wafat dan Kebangkitan-Nya.

Refleksi: sejauh manakah persembahan diri kita, saat Baptis, Sakramen Krisma, Sakramen Tobat, Sakramen Ekaristi dan Kaul serta Tahbisan benar-benar membawa kita menjadi “Persembahan Diri habis-habisan” kepada Allah? Sejauh manakah cinta kasih menjadi isi utama seluruh persembahan diri kita itu?

(RP. B.S. Mardiatmadja, SJ – Dosen STF Driyarkara)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Perempuan korban kekerasan: Kita berdoa bagi kaum perempuan korban kekerasan, agar mendapat perlindungan dan penderitaan mereka benar-benar dirasakan dan diperhatikan oleh masyarakat. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Kasih sayang keluarga: Semoga keluarga-keluarga Katolik makin berani belajar menghayati spiritualitas tinggal di rumah yang menuntut anggota-anggota keluarga untuk saling memahami kelemahan dan saling menguatkan dalam menghadapi setiap masalah. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Sudilah meneguhkan hati kami dalam berbakti pada sesama, seperti Santo Yoseph, sepanjang Kau perkenankan ikut membesarkan Sang Putera, dalam Keluarga Kudus Nasaret. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s