Kuasa Allah Melampaui Status Sosial

Renungan Harian Misioner
Rabu, 03 Februari 2021
P. S. Blasius, S. Ansgarius

Ibr. 12: 4-7,11-15; Mzm. 103:1-2,13-14,17-18a; Mrk. 6:1-6

Misi: Mengokohkan iman dan kepercayaan pada kuasa dan kebaikan Allah bukan pada status sosial seseorang, karena setiap mukjizat membuktikan kuasa serta kebesaran Allah.

Meremehkan status sosial seseorang merupakan penyakit sosial yang selalu menghalangi seseorang untuk melakukan kebaikan serta membawa perubahan yang diperlukan.

Yesus melalui Injil Markus hari ini, mengajak kita untuk meneropong persoalan sosial dan persoalan iman yang kita hadapi.

Persoalan sosial yang dimaksud adalah dalam kehidupan bermasyarakat. Tidak sedikit orang yang meremehkan kemampuan sesama bahkan menurunkan harga diri sesama. Yesus yang telah melakukan banyak mukjizat dan menyembuhkan banyak orang di berbagai tempat, justru dipandang remeh oleh orang-orang sekampung-Nya, karena mereka hanya memandang latar belakang keluarga Yesus.

Persoalan iman juga dibonceng dalam persoalan sosial ini. Mereka tidak percaya bahwa Yesus yang adalah anak seorang tukang kayu sederhana, bisa mengajar dengan kata-kata penuh kuasa dan melakukan banyak mukjizat yang menakjubkan banyak jemaat. Akhir dari semua tindakan peremehan itu, menghantar mereka pada cacat iman yakni kecewa dan menolak Yesus.

Alasan kekecewaan mereka adalah karena di luar dugaan mereka, Yesus tampil dengan kuasa yang melampaui status sosial-Nya. Mereka telah terperangkap dalam ruang kebencian, dendam serta iri, yang akhirnya melumpuhkan ketahanan serta kecerdasan iman mereka untuk mengalami kuasa serta kehadiran Allah di dalam Diri Yesus Kristus.

Sesama sahabat Misioner yang terkasih, Yesus melalui kisah-Nya hari ini mengajak kita untuk menyadari sungguh bahwa setiap pengajaran, karya serta mukjizat yang dilakukan-Nya, sama sekali tidak terlepas dari iman dan kepercayaan. Setiap kali Yesus menyembuhkan orang dari berbagai penyakit, Yesus selalu melihat kekuatan iman dari mereka yang memerlukan kasih dan kebaikan-Nya.

Pengalaman perjumpaan Yesus dengan orang-orang sekampung-Nya juga menjadi pengalaman kita. Kerap kali kita melihat sesama dari status sosial mereka. Sehingga kita pun tergiring ke dalam sikap meremehkan, menghina, menolak bahkan mengucilkan orang lain.

Panggilan kemuridan menggugat kita untuk menghargai dan menerima sesama apa adanya, serta menyadarkan kita bahwa ruang serta kekuatan iman akan senantiasa mempersatukan kita untuk saling menerima dan saling mengakui.

Maka yang menjadi keprihatian Kristus dan Misi-Nya bukan terletak pada “tidak terjadinya mukjizat” melainkan pada lemah, susut serta gersangnya iman kita ketika berhadapan dengan Tuhan.

Kecermatan iman mengingatkan kita bahwa karya-karya agung Tuhan termasuk mukjizat terjadi atas kehendak serta kuasa Tuhan, namun iman adalah kunci bagi kita untuk: berjalan sejurus dengan Kristus dan masuk ke dalam karya keselamatan Kristus.

Iman pun menjadi tumpuan serta kekuatan kita untuk menghadapi berbagai tantangan serta penderitaan hidup, sebagaimana yang diserukan Rasul Paulus kepada Komunitas Ibrani. Kesadaran dan cita rasa kaum beriman adalah mengakui dan percaya bahwa sepanjang ziarah hidup selalu diselingi dengan berbagai penderitaan, namun di penghujung semua derita itu, tersimpan kasih, kesetian dan kebaikan Tuhan. Dengan demikian kaum harus beriman berjuang untuk tidak goyah, tidak menyerah di tengah perjalanan hidup, dan setia mengejar kekudusan agar berjumpa dengan Tuhan karena di akhir setiap pertarungan, Tuhan senantiasa menunggu kita untuk memberi hadiah dan mahkota kemenangan.

Sesama sahabat misioner yang terkasih, akhirnya dengan sukacita, kebanggaan serta tanggung jawab iman kita tidak meremehkan atau bersikap acuh tak acuh terhadap kehendak Tuhan melainkan membuka diri untuk mendengarkan perintah, nasihat serta pengajaran Tuhan. Amin.

(RP. Hiasintus Ikun, CMF – Dirdios KKI Keuskupan Palangka Raya)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Perempuan korban kekerasan: Kita berdoa bagi kaum perempuan korban kekerasan, agar mendapat perlindungan dan penderitaan mereka benar-benar dirasakan dan diperhatikan oleh masyarakat. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Kasih sayang keluarga: Semoga keluarga-keluarga Katolik makin berani belajar menghayati spiritualitas tinggal di rumah yang menuntut anggota-anggota keluarga untuk saling memahami kelemahan dan saling menguatkan dalam menghadapi setiap masalah. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Sudilah meneguhkan hati kami dalam berbakti pada sesama, seperti Santo Yoseph, sepanjang Kau perkenankan ikut membesarkan Sang Putera, dalam Keluarga Kudus Nasaret. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s