Melawan Logika Religius yang Sesat

Renungan Harian Misioner
Selasa, 9 Februari 2021
P. S. Paulinus Aquileia

Kej. 1:20 – 2:4a; Mzm. 8:4-5,6-7,8-9; Mrk. 7:1-13

Setiap masyarakat atau suatu kesatuan sosial mewarisi suatu kebiasaan tertentu. Kebiasaan atau adat istiadat itu, menurut pengalaman, memungkinkan semua anggotanya mempunyai kepastian dalam bertindak. Di samping itu, mereka juga memiliki kebanggaan, misalnya, karena mereka mewarisi nilai-nilai adiluhung yang membedakan mereka dari komunitas-komunitas sosial dan kelompok-kelompok keagamaan yang lain. Begitulah yang berlaku di kalangan komunitas Yahudi, seperti yang diwartakan oleh Injil Markus pada hari ini.

Yang menjadi persoalan kita di sini, bukanlah adat istiadat atau tradisi itu dalam dirinya sendiri, melainkan sikap para pemuka agamanya. Dalam hal ini orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Sebagaimana kita ketahui, kelompok-kelompok ini memiliki pengaruh sangat besar dalam masyarakat Yahudi, baik dalam bidang sosial, kultural, politik maupun religius. Kedua kelompok ini menempatkan diri sebagai ‘anjing penjaga’ adat istiadat nenek moyang, yang paling bertanggung jawab dalam melestarikan tradisi mereka. Secara positif, peran mereka adalah memelihara rasa bangga sebagai bangsa yang memiliki karakter khusus dan kebiasaan-kebiasaan adiluhung yang mereka warisi turun-temurun. Secara negatif, mereka berhak menghakimi dan menghukum siapa saja yang tidak mentaati adat istiadat itu, baik kebiasaan-kebiasaan etis pada umumnya, maupun adat kebiasaan religius pada khususnya. Sebagai para pemuka masyarakat dan agama yang sangat berpengaruh, mereka tidak bisa mentoleransi bentuk-bentuk penyelewengan atau pelanggaran yang dilakukan oleh anggota masyarakat, meski kecil sekalipun. Ketaatan murni itu bersifat wajib. Setiap pelanggar harus disanksi secara tegas dan berat.

Dalam konteks Injil hari ini, sikap tegas mereka itu agaknya menunjukkan bukanlah rasa terganggu melihat pelanggaran-pelanggaran, tetapi lebih-lebih arogansi mereka. Penginjil Markus memberikan ilustrasi ini: “Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas tembaga” (ay. 4). Intinya, mereka menambahkan hal-hal yang tidak esensial untuk hidup bersama, baik hal-hal etis-moral maupun religius.

Lalu, siapakah yang melakukan penyelewengan? Santo Markus mengutip kata-kata Tuhan Yesus yang pedas ini: “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri” (ay. 9). Selanjutnya Tuhan Yesus menunjukkan kebusukan logika mereka. Misalnya, mereka membenarkan tindakan tidak (sempat) menghormati ‘ayah dan ibu’, karena biaya pemeliharaan bagi mereka telah dipakai untuk persembahan kepada Allah (ay. 11-13). Secara implisit namun jelas, Tuhan Yesus menekankan bahwa persembahan yang benar kepada Allah ialah menghormati ‘ayah dan ibu’. Dengan kata lain, kesalehan religius (ibadah kepada Allah) mempunyai resonansinya pada kesalehan sosial, yakni hormat kepada sesama.

Singkatnya, tidak menghormati sesama manusia atau membiarkan mereka binasa atau bahkan melanggar hak-hak azasi mereka demi ‘menghormati Allah’ (!), sama sekali tidak bisa diterima. Ibadah kepada Allah –karena itu adalah hak Allah– tidak bisa dibenarkan lewat pelanggaran terhadap hak-hak azasi sesama manusia.

Logika religius yang sesat dari orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat ini bukan melulu kebiasaan buruk para pemuka masyarakat pada zaman Tuhan Yesus saja. Manipulasi religius semacam ini agaknya masih hidup subur dan tetap dipelihara dalam masyarakat kita dewasa ini.

Saudara-saudari, kita semua dipanggil untuk menata ulang dunia ini (bdk. Bacaan I) bersama dengan Tuhan, Sang Pencipta. Cara paling mendasar ialah dengan menanggalkan logika sesat kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat dan menata ulang pola-pikir, pola-rasa, dan perilaku kita sehari-hari.

(RP. Raymundus Sudhiarsa, SVD – Bekerja di Seminari Tinggi SVD Surya Wacana, Malang)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Perempuan korban kekerasan: Kita berdoa bagi kaum perempuan korban kekerasan, agar mendapat perlindungan dan penderitaan mereka benar-benar dirasakan dan diperhatikan oleh masyarakat. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Kasih sayang keluarga: Semoga keluarga-keluarga Katolik makin berani belajar menghayati spiritualitas tinggal di rumah yang menuntut anggota-anggota keluarga untuk saling memahami kelemahan dan saling menguatkan dalam menghadapi setiap masalah. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Sudilah meneguhkan hati kami dalam berbakti pada sesama, seperti Santo Yoseph, sepanjang Kau perkenankan ikut membesarkan Sang Putera, dalam Keluarga Kudus Nasaret. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s