Allah yang Mengasihi Bukan yang Pilih Kasih

Renungan Harian Misioner
Minggu, 14 Februari 2021
HARI MINGGU BIASA VI

Im. 13:1-2,44-46; Mzm. 32:1-2,5,11; 1Kor. 10:31 – 11:1; Mrk. 1:40-45

Apa dasar atau prinsip hidup beragama: tahir-najis atau belas-kasih? Agama Yahudi pada zaman Yesus lebih menekankan prinsip tahir-najis. Mengimani TUHAN yang Mahakudus, berarti juga mengupayakan hidup yang kudus. Demi menjaga kekudusan, semua yang najis harus dijauhi atau menjauhkan diri. Yang halal dan haram didaftar dan dipetakan. “Semua harus pada tempatnya!”, itu logikanya. Batas dan pintu keluar-masuk “tubuh fisik” seperti kulit, mulut, gerbang, tembok kota, harus diawasi; begitupun batas-batas “tubuh sosial” seperti: perkawinan dan keturunan. Kusta adalah tanda batas tubuh yang tidak terjaga. Cairan yang seharusnya berada di dalam tubuh dapat keluar. Ini menajiskan, bukan hanya orang tersebut tetapi juga sesamanya. Karena itu, seorang kusta harus dijauhkan dan menjauhkan diri. Dia tidak boleh berpartisipasi dalam ibadat maupun kehidupan sosial (Ul. 28:27). Ia adalah orang yang dipinggirkan, secara sosial dan keagamaan. Agama yang menganut sistem tahir-najis memang cenderung meminggirkan siapa saja yang dicap “najis”. Pokoknya, kesucian harus dijaga, kenajisan dan orang najis harus dijauhi. Semuanya itu diyakini sebagai Hukum TUHAN!

Sistem keagamaan berdasarkan tahir-najis jelas tidak manusiawi dan tidak adil. Sang korban harus mulai melawan dan bersuara. Jangan pernah diam dan membiarkan ketidakadilan! Itulah yang dibuat oleh si kusta. Ia datang menghadap Yesus, melanggar batas dan bersuara. Ia melanggar Hukum Taurat yang mengizinkannya bersuara hanya untuk mengingatkan orang akan kustanya (Im. 13:45-46). Inisiatif si korban penindasan sosial dan keagamaan ini langsung ditanggapi Yesus. Ia mengulurkan tangan dan menyentuh si najis itu. Dengan itu, Yesus juga melanggar Taurat (Im. 5:3; Bil. 5:2). Tetapi Yesus tidak peduli. Hukum yang merendahkan manusia pasti bukan demi kemuliaan TUHAN! Bagi Yesus, agama harus didasarkan pada belas-kasih. Dengan itu, Yesus hari ini menampilkan wajah keibuan Allah, TUHAN yang maha-rahim. Dalam agama yang berdasarkan belas kasih, kekudusan tidak perlu lagi diproteksi dengan pelbagai aturan tahir-najis, tetapi harus dibagi lewat pelbagai sentuhan dan tindakan kasih.

Sentuhan Yesus seharusnya membuat Dia menjadi najis. Ternyata sebaliknya yang terjadi. Sentuhan-Nya menjadi sarana berbagi kekudusan, bukan kenajisan. Si kusta menjadi sembuh dan tahir. Tempatnya dalam masyarakat dipulihkan: dari seorang yang dipinggirkan menjadi pribadi yang diakui. Secara religius pun ia diterima kembali menjadi anggota penuh Umat Allah. Yesus menghadirkan Allah yang merangkul bukan Allah yang meminggirkan manusia, Allah yang mengasihi bukan yang pilih kasih!

Yesus dengan keras meminta orang itu untuk tidak berkoar-koar tentang mukjizat yang dialaminya. Mengapa? Karena kerajaaan Allah sering dipersempit sebagai kesejahteraan jasmani belaka. Yesus inginkan kita berfokus bukan pada penyembuhan, tetapi pada keterbukaan untuk menerima kedaulatan Allah dalam diri dan dunia kita. Dampaknya pasti akan nyata: kita beragama tanpa mengharamkan sesama. Belas kasih akan merombak pelbagai batas dan tembok pemisah ciptaan manusia. Kesucian Allah harus diekspansi, bukannya diproteksi dalam kesalehan pribadi dan kesempitan kelompok kita sendiri.

(Hortensius Mandaru – Lembaga Alkitab Indonesia Jakarta)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Perempuan korban kekerasan: Kita berdoa bagi kaum perempuan korban kekerasan, agar mendapat perlindungan dan penderitaan mereka benar-benar dirasakan dan diperhatikan oleh masyarakat. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Kasih sayang keluarga: Semoga keluarga-keluarga Katolik makin berani belajar menghayati spiritualitas tinggal di rumah yang menuntut anggota-anggota keluarga untuk saling memahami kelemahan dan saling menguatkan dalam menghadapi setiap masalah. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Sudilah meneguhkan hati kami dalam berbakti pada sesama, seperti Santo Yoseph, sepanjang Kau perkenankan ikut membesarkan Sang Putera, dalam Keluarga Kudus Nasaret. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s