Menjadi Misionaris Belas Kasih

Renungan Harian Misioner
Sabtu Prapaskah II, 6 Maret 2021
P. S. Hesikios

Mik. 7:14-15.18-20; Mzm.103:1-2.3-4.9-10.11-12; Luk. 15:1-3.11-32

Sahabat misioner terkasih,
Kutipan Injil hari ini dalam Alkitab diberi judul “Perumpamaan tentang anak yang hilang” (Luk. 15:11-32). Setelah membaca dan merenungkannya, ada orang yang merasa lebih tepat memberinya judul “Perumpamaan tentang Bapa yang murah hati atau Bapa yang berbelas kasih.” Atau, bisa juga orang memberinya judul, “Perumpamaan tentang anak sulung yang baper.” Dalam bahasa Inggris, kisah perumpamaan tentang anak yang hilang tersebut dikenal dengan “the prodigal son.”

Kata “prodigal” berarti boros atau royal. Sekarang pertanyaannya adalah siapa yang royal, yang boros? Apakah anak bungsu yang dikenal sebagai anak yang hilang? Bukan! Ternyata yang royal, boros itu semuanya: anak bungsu, anak sulung, dan bahkan sang bapa sendiri juga boros. Koq bisa semuanya?!

Pertama, anak bungsu. Si bungsu ini royal boros dalam hal dosa. Apa saja dosanya? Dia minta warisan atau lebih tepatnya menuntut harta warisan, padahal bapanya masih hidup, “Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku.” Selama orang tua atau bapanya masih hidup, harta tersebut tidak bisa disebut warisan atau bagian harta milik sang anak. Semua harta sepenuhnya milik sang bapa. Semua harta itu adalah hak milik bapanya, bukan milik anak-anak. Terserah bapanya mau memberi atau tidak, mau mewariskan atau tidak. Tetapi, si anak bungsu mengklaim harta tersebut dan menuntutnya. Berikutnya, si bungsu memboroskan harta tersebut dan berfoya-foya.

Dalam kehidupan real sehari-hari masyarakat kita pun tidak jarang dijumpai peristiwa serupa. Ada anak yang tidak tahu diri dengan menuntut harta warisan bahkan tega memenjarakan orang tuanya hanya demi harta warisan. Ada juga yang saling melukai atau membunuh antar saudara sendiri gara-gara warisan.

Kedua, anak sulung. Si sulung itu royal boros dalam hal kerja dan baper (bawa perasaan). Ia gila kerja, tapi egois tanpa memedulikan hati keluarganya. Seolah-olah dengan bekerja keras, ia melayani keluarganya. Ia merasa diri sebagai anak yang taat, alim, saleh, pekerja keras. Ia mengklaim diri bahwa dirinya lebih baik dari adiknya dan telah melayani bapanya dengan taat dan bekerja keras. Ia katakan, “Telah bertahun-tahun aku melayani Bapa, dan belum pernah aku melanggar perintah Bapa.” Si anak sulung merasa sudah sepantasnya dan seharusnya, kalau telah bekerja dan taat melayani bapanya, ia mendapatkan bagian yang terbaik dan lebih disayang bapanya. Oleh karena itu, ia baper, emosi dan marah-marah ketika tahu adiknya yang telah memboroskan harta itu dipestakan.

Dalam kehidupan sehari-hari baik yang rohani maupun profan pun, sering kita jumpai sikap anak sulung itu. Ada orang yang merasa telah rajin berdoa, ke gereja, dan berbuat baik, menganggap diri paling hebat. Tanpa sadar kemudian timbul sikap menganggap rendah yang lain. Mudah mencap negatif mereka yang tidak rajin doa, tidak rajin beribadah, tidak suka berbuat baik, dsb. Mereka ini merasa diri paling layak masuk surga dan terdepan dalam hal kebaikan. Sikap yang tumbuh adalah sombong rohani.

Ketiga adalah sang bapa. Bapa itu boros dalam hal kemurahan hati dan belas kasih. Sang Bapa jor-joran dalam hal kerahiman dan belas kasih. Ia sungguh murah hati dan berlimpah kerahiman. Ketika anak bungsunya meminta harta warisan, ia memberikannya. Ketika ia pulang dengan keadaan yang mengenaskan, sang bapa pun cepat-cepat menyambut dan memeluknya. Tiada kemarahan dan umpatan mengusir pergi pada si bungsu karena telah memboroskan harta dan mengecewakannya. Sebaliknya, sang bapa memestakan kepulangan si bungsu dan mendadaninya bak pangeran. Ia perintahkan, “Lekaslah bawa kemari jubah yang terbaik, dan pakaikanlah kepadanya, kenakanlah cincin pada jarinya, dan sepatu pada kakinya. Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dan marilah kita makan dan bersukacita.”

Sahabat misioner terkasih,
Bagaimana dengan kita? Apakah kita juga hidup boros? Boros yang mana, boros dosa, boros baper, atau boros belas kasih? Masa Prapaskah ini, saatnya kita berbenah untuk menjadi berkat. Kita berbenah dan berubah dari boros dosa dan baper menuju royal belas kasih dan kemurahan hati. Kita menempa diri menjadi misionaris belas kasih supaya semakin banyak orang merasakan cinta Allah.***(NW)

(RD. M Nur Widipranoto – Dirnas Karya Kepausan Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Sakramen rekonsiliasi: Marilah kita berdoa agar melalui sakramen rekonsiliasi, kita membarui diri lebih dalam, sehingga dapat merasakan belaskasih Allah yang tiada batasnya. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Perhatian pada yang pokok: Semoga umat katolik selalu belajar untuk lebih memperhatikan hal-hal yang pokok, baik jiwa maupun raga. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Dalam bulan yang dipersembahkan kepada Santo Yoseph ini, izinkanlah kami mendapat Roh, yang terbuka untuk mendengarkan Kehendak-Mu, supaya dapat mengabdi Keluarga Kudus. Kami mohon…

Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s