“Mati” Untuk Berbuah Limpah

Renungan Harian Misioner
Minggu Prapaskah V, 21 Maret 2021

Yer. 31:31-34; Mzm. 51:3,4,12-13,14-15; Ibr. 5:7-9; Yoh. 12:20-33

Berita kematian sering berbunyi “telah meninggal dengan tenang…” atau “telah dipanggil ke pangkuan Bapa…”. Saudara-i dari gereja-gereja Reformasi sering mempunyai rumusan lain: “telah dimuliakan oleh Bapa…”. Rumusan ini jelas dipengaruhi injil Yohanes. Dalam injil keempat ini, wafat Yesus dilihat sebagai saat peninggian atau pemuliaan. Dalam wafat-Nya – sebagaimana dalam seluruh sabda dan karya-Nya – Yesus dimuliakan oleh Bapa, sekaligus Bapa dimuliakan oleh Dia, Sang Anak. Dalam atau lewat tiga hal, Anak memuliakan Bapa. Pertama, lewat seluruh hidup dan karya-Nya yang menghadirkan Bapa di dunia. Kedua, lewat sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya. Ketiga, lewat dampak kematian-Nya, yaitu: keselamatan semua orang. Dengan demikian, relasi unik dan erat antara Bapa dan Anak ditekankan sejak “pada mulanya” sampai kekal. Maut bukanlah pemisahan, melainkan peralihan. Mati bukanlah nasib akhir yang dideritai, tetapi awal hidup sejati yang memberkati.

Kedatangan beberapa orang Yunani, oleh Yesus dilihat sebagai tanda bahwa “saat” pemuliaan-Nya telah tiba (ay. 23). Hasil dan dampak wafat-Nya sudah mulai kelihatan dari sekarang. Bukan saja orang Yahudi, tetapi orang Yunani juga datang mencari Dia. Itulah makna wafat Yesus, seperti yang Ia tegaskan di akhir: “apabila Aku ditinggikan di bumi, Aku akan menarik semua orang kepada-Ku” (ay. 32). Salib Yesus punya daya-tarik global: menarik dan menyelamatkan seluruh umat manusia. Biji gandum memang harus mati, agar bertumbuh dan menghasilkan secara berlimpah! Tetapi selain menyelamatkan, salib Yesus juga bermakna pengadilan. Karena lewat kematian-Nya, Yesus melemparkan “penguasa dunia ini”, yaitu Iblis, yang menyebabkan dunia menjadi tidak percaya. Kematian Yesus adalah penghukuman atas manusia yang tidak percaya, sekaligus pelucutan kuasa Iblis atas dunia (ay. 31).

Memberi nilai begitu tinggi pada salib benar-benar “kegilaan” kita, orang Kristiani. Sejak awal, salib sudah menjadi “penghalang” untuk percaya: dianggap sandungan oleh umat Yahudi dan kebodohan oleh orang Yunani (1Kor. 1:23-24). Padahal bagi kita, seperti bagi Yesus, salib dan kematian adalah jalan untuk memuliakan Bapa, sekaligus jalan untuk memuliakan hidup kita yang fana. Caranya? Dengan mengabdikan hidup kita demi Dia. Yesus bahkan memakai ungkapan yang lebih ekstrim: “siapa saja yang membenci nyawanya di dunia ini, akan memeliharanya untuk hidup kekal” (ay. 25). Hari ini kita diajak untuk siap memberi diri dan mengabdikan hidup demi keselamatan dan kebaikan sesama, terutama yang paling membutuhkannya. Hanya dengan jalan pelayanan dan pemberian-diri, kita sudah memulai hidup bersama Kristus dalam kemuliaan Bapa.

“Orang Yunani” dalam Injil hari ini dapat dilihat sebagai pralambang semua pengikut Yesus dari kelompok non-Yahudi, termasuk kita sekarang ini. Sebagai pengikut Yesus, Saya dan Anda adalah buah pewartaan para Rasul. Kita adalah hasil “lobi” Filipus dan Andreas. Misi kitalah untuk sekarang melobi dan memfasilitasi aneka perjumpaan iman. Giliran kitalah untuk “mati” agar berbuah melimpah: membawa sebanyak mungkin orang untuk berjumpa dengan Dia, sang Pemberi hidup sejati dan kekal.

(Hortensius Mandaru – Lembaga Alkitab Indonesia Jakarta)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Sakramen rekonsiliasi: Marilah kita berdoa agar melalui sakramen rekonsiliasi, kita membarui diri lebih dalam, sehingga dapat merasakan belaskasih Allah yang tiada batasnya. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Perhatian pada yang pokok: Semoga umat Katolik selalu belajar untuk lebih memperhatikan hal-hal yang pokok, baik jiwa maupun raga. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Dalam bulan yang dipersembahkan kepada Santo Yoseph ini, izinkanlah kami mendapat Roh, yang terbuka untuk mendengarkan Kehendak-Mu, supaya dapat mengabdi Keluarga Kudus. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s