Memahami Makna Karya Misi

Renungan Harian Misioner
Kamis, 27 Mei 2021
P. S. Agustinus dr Canterbury

Sir. 42:15-25; Mzm. 33:2-3,4-5,6-7,8-9; Mrk. 10:46-52

Memahami Makna Karya Misi Bersama Putra Sirakh, Bartimeus, Yesus, dan Agustinus dari Canterbury

Ren-Har Misioner dari Yung-Fo, Pangkalpinang

Para Sahabat Misioner terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus: Shalom! Firman Tuhan hari ini mempertemukan kita dengan Putra Sirakh, Pemazmur, dan Bartimeus serta Tuhan kita Yesus Kristus bersama para murid-Nya dan banyak orang lain yang mengikuti mereka dalam Injil Markus. Selain itu, Liturgi Ekaristi juga mempertemukan kita dengan Uskup Santo Agustinus dari Canterbury. Dari perjumpaan dengan para tokoh ini, kita mendapatkan kesempatan mendalami sejumlah hal penting tentang Karya Misi, yang saat ini merupakan tanggung jawab Gereja dan para anggotanya, termasuk saudara dan saya. Poin-poinnya sebagai berikut:

1.Dari Allah melalui Para Misioner kepada Umat Manusia
Dari Putra Sirakh dan Pemazmur, Karya Misi itu pertama-tama adalah “mengenangkan karya penciptaan Tuhan yang dilakukan lewat Firman-Nya,” dan kemudian memberikan kesaksian tentang apa saja yang telah dilakukan Tuhan pada manusia, yang menjadi subyek-peserta dari Karya Misi. Putra Sirakh memberi kesaksian: “Karya Tuhan hendak kukenangkan, dan apa yang telah kulihat hendak kukisahkan. Segala karya Tuhan dijadikan dengan Sabda-Nya” (Sir. 42:15). Pemazmur menegaskan hal yang sama, “Oleh Firman Tuhan, langit telah dijadikan, oleh nafas dari mulut-Nya diciptakan segala tentara-Nya. Ia mengumpulkan air laut seperti dalam kantung, samudera raya ditaruh-Nya dalam bejana” (Mzm. 33:6-7.8-9).

Karya Misi berawal dari Allah sendiri. Allahlah yang pertama-tama membuka rahasia penciptaan-Nya kepada manusia, dan bahwa apa yang diungkapkan Allah itu hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang cinta kepada-Nya (Sir. 1:1.10). Awal-mula Karya Misi yang dari Tuhan itu diungkap Sirakh sebagai berikut, “Yang sudah-sudah diberitahukan-Nya, dan apa yang akan datang dimaklumkan oleh-Nya; dan bekas dari apa yang tersembunyi pun disingkapkan-Nya” (Sir. 42:19).

Oleh karena Karya Misi berawal dan datang dari Allah, maka seorang misionaris yang dipilih untuk mengungkapkan semua yang sudah, yang sedang dan yang akan dilakukan Tuhan ini, sepenuhnya bergantung kepada Tuhan. Ketergantungan mutlak perlu, supaya warta yang disampaikan kepada umat Allah itu, sungguh-sungguh datang dari Allah, bukan dari si pewarta itu sendiri. Kesatuan seorang misionaris dengan Tuhan, sumber dan dasar Karya Misi itu merupakan hal yang wajib. Kesadaran seorang Sirakh bahwa misionaris sepenuhnya bergantung kepada Tuhan, yakni bahwa Allah tidak membutuhkan seorang pun sebagai penasihat, untuk menambahkan atau mengurangi apapun yang telah diatur oleh Allah (Sir. 42:21).

2.Hasrat yang kuat untuk berjumpa dengan Tuhan
Kita tahu banyak hal yang ingin Allah bagikan kepada umat manusia, yakni semua yang diciptakan-Nya, dan melalui ciptaan-Nya itu Allah juga mengalirkan kebaikan-Nya kepada manusia (Sir. 42:24-24. Mzm. 33:4-5). Apa sikap yang tetap dari manusia terhadap semua yang disediakan dan ditawarkan Allah ini? Mari kita lihat dari pengalaman perjumpaan Bartimeus dengan Yesus dan para murid serta orang-orang yang mengikuti-Nya.

Bartimeus adalah seorang pengemis yang buta. Kontaknya dengan dunia di luar dirinya lebih banyak terjadi melalui indera pendengarannya. Dalam Injil Markus hari ini, Bartimeus yang duduk mengemis di pinggiran jalan, mendengar Yesus sedang lewat. Hasratnya untuk bertemu dengan Yesus segera muncul dan menjadi semakin kuat. Orang-orang berusaha untuk membungkamnya, namun ia berteriak semakin lantang. Pada Nama Yesus, Bartimeus meletakkan seluruh harapan hidupnya, supaya dapat meminta belas-kasih Tuhan (Mrk. 10:47-48).

Menempatkan pengalaman Bartimeus ke dalam konteks Karya Misi, kita teringat akan kata-kata Paulus, bahwa “iman timbul dari pendengaran.” Anak Daud, Sang Firman yang telah menjadi manusia itu sedang lewat di hadapannya, maka Bartimeus tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk menjumpai-Nya. Pada Bartimeus kita menemukan bahwa Karya Misi itu dapat juga bermakna sebagai sebuah karya yang olehnya para misionaris membuka hati dan pikiran orang untuk menjumpai Tuhan Yesus. Dengan demikian, hasrat untuk menjumpai Tuhan merupakan “lahan yang subur” untuk Karya Misi, untuk memperkenalkan Allah dan apa saja yang dikerjakan-Nya bagi umat manusia lewat Firman-Nya.

3.“Dia memanggil engkau!”
Pengalaman Bartimeus ini juga mengingatkan kita tentang bagaimana sikap misioner yang seharusnya dimiliki oleh para pengikut Kristus, yang dipilih dan diutus-Nya untuk memberitakan Injil Kerajaan-Nya. Banyak orang bersikap kontra-produktif terhadap Bartimeus mengenai kemungkinan untuk berjumpa dengan Tuhan. Mereka membungkam Bartimeus dan melarangnya supaya berhenti berteriak memanggil Nama Yesus (Mrk. 10:48).

Larangan memanggil nama Tuhan Yesus dapat dikategorikan sebagai tantangan bagi Karya Misi. Ada orang-orang yang tidak suka kalau Nama Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat dipanggil-panggil dan dimintai pertolongan. Kegiatan-kegiatan doa dan ibadah para pengikut Kristus sering mendapatkan larangan. Dan kalau upaya pembungkaman ini datang dari para pengikut Kristus sendiri, hal ini bukanlah sikap misioner yang tepat.

Bartimeus ini buta, tidak melihat sosok Yesus dengan mata jasmaninya. Namun, mata imannya justru terbuka lebar. Tindakannya yang tanpa henti berteriak-teriak memanggil Nama Yesus itu, akhirnya bertemu dengan sikap misioner yang benar, yaitu ketika orang-orang menyemangati dan mengarahkannya kepada perjumpaan dengan Yesus. “Kuatkanlah hatimu. Berdirilah, Ia memanggil engkau” (Mrk. 10:49). Inilah aspek kedua dari Karya Misi: “mendukung dan menyemangati atau membesarkan hati orang untuk masuk ke dalam perjumpaan dengan Allah.” Lalu, setelah berkisah tentang Allah dan apa yang telah dikerjakan-Nya melalui Yesus Kristus, Firman-Nya, setiap misionaris perlu menjadikan dirinya sebagai “jembatan penghubung” yang mempertemukan orang-orang dengan Allah, di dalam Yesus Kristus Putera-Nya itu!

4.Keselamatan: buah manis dari sebuah Karya Misi
Bartimeus menentukan sikap, bahwa perjumpaan dengan Yesus harus ia perjuangkan. Ia melawan orang-orang yang berusaha membungkamnya, dan terus-menerus berteriak hingga akhirnya orang-orang bersimpati, mendorong dan menyemangati bahkan mengantar Bartimeus untuk berjumpa dengan Yesus.

Di dalam perjumpaan Anak Daud dengan “si Buta, anak Timeus” ini, hal yang dicari Yesus adalah iman Bartimeus. Tanpa ragu dan malu Bartimeus langsung menyerahkan dirinya kepada Yesus, dengan berkata “Rabuni, semoga aku dapat melihat” (Mrk. 10:51). Doa dan penyerahan diri Bartimeus ini akhirnya mendapat belas kasih Yesus, yang menyampaikan Sabda Penyembuhan dan Pembebasan ini kepadanya, “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan dikau. Pada saat itu juga melihatlah ia! Lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya” (Mrk. 10:52). Pengalaman Bartimeus ini membuka mata hati kita untuk dapat memahami Karya Misi, yakni karya di mana orang-orang dibawa kepada iman akan Yesus, Anak Daud, yang adalah sekaligus Tuhan dan Juruselamat dunia, dan di dalam iman itu, orang-orang boleh mendapatkan keselamatan yang utuh. Perjumpaan di dalam iman itu, menjadikan diri Bartimeus sembuh secara fisik dari kebutaan, dan dipulihkan secara rohani untuk menjadi pengikut Yesus.

5.Santo Augustinus dari Canterbury: mengantar orang-orang Inggris kepada iman
St. Agustinus dari Canterbury, kelahiran Italia pada abad keenam, dipilih dan diutus oleh Paus Gregorius Agung ke Inggris, untuk mewartakan Injil di Kerajaan Kent. St. Augustinus memenangkan banyak jiwa orsang Inggris bagi Kristus, hingga dirinya digelari sebagai ‘Apostle to the English.’ Sebagai Uskup, St. Augustinus mendirikan sejumlah Keuskupan seperti di Canterbury, di Rochester, dan di London. St. Augustinus wafat pada 26 Mei antara tahun 604 atau 605, dan dihormati baik oleh orang Katolik maupun orang Anglikan, sebagai Pendiri Keuskupan Metropolit Canterbury. Sebagaimana Bartimeus diantar kepada iman akan Yesus dan memperoleh keselamatan, demikian St Augustinus mengantar orang-orang Inggris kepada iman akan Yesus dan diselamatkan. Nah, sampai dengan saat ini, sudah berapa orang yang saudara antar kepada iman akan Yesus? [RMG].

(RD. Marcel Gabriel – Imam Keuskupan Pangkalpinang)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Dunia Keuangan: Marilah kita berdoa bagi mereka yang bertanggung jawab dalam keuangan agar bekerja sama dengan pemerintah untuk mengatur bidang keuangan dan melindungi warga dari bahaya. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Para buruh: Semoga pemerintah dan pengusaha dapat segera menemukan jalan untuk mengatasi krisis pengangguran dan berusaha untuk sedapat mungkin mencegah terjadinya Pemutusan Hubungan Kerja. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Sudilah menjadikan Santo Yoseph pelindung para pekerja kami, sehingga mampu melaksanakan tugas mereka dalam keluarga dan masyarakat luas, sehingga menemukan kebahagiaan dalam tugas mereka. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s