Kuasa ILAHI Lahirkan KASIH Bukan Ambisi

Renungan Harian Misioner
Minggu, 30 Mei 2021
HARI RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS

Ul. 4:32-34,39-40; Mzm. 33:4-5,6,9,18-19,20,22; Rm. 8:14-17; Mat. 28:16-20

Amanat Agung: itulah sebutan yang lazim bagi teks ini. Sebutan yang terlalu menekankan pesannya. Padahal, penginjil Matius justru lebih berfokus pada sang Pemberi pesan. Jati-diri Yesuslah yang menjadi tekanan utamanya. Pertama, Yesus mendapat kuasa dari Bapa. Yesus sendiri menegaskan hal ini: “kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi” (ay. 18). Yesus, sang Anak yang taat, sudah dibangkitkan Allah dan mendapat kekuasaan penuh dari Allah atas surga dan bumi. Bapa sudah memberikan kuasa itu lewat Roh Kudus yang turun saat Yesus dibaptis, sehingga Yesus pun mengajar dan mengusir setan “dalam kuasa Roh Kudus” (Mat. 12:28). Setelah Ia bangkit, kuasa itu dipertegas dan diperluas. Bapa berbagi kuasa-Nya dengan Sang Anak. Itulah sebabnya, mengapa adegan ini terjadi di sebuah bukit: latar yang lazim berkaitan dengan kuasa ilahi (seperti saat Transfigurasi), dan kuasa pengajaran (seperti dalam Khotbah di Bukit).

Kedua, Yesus menyertai umat-Nya. Dengan indah Matius memuncaki injilnya dengan kata-kata terakhir Yesus: “Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman” (ay. 20). Sebelum kelahiran-Nya, sudah dinubuatkan bahwa Yesus adalah “Imanuel”: Allah yang beserta kita (1:23). Sang Anak adalah penyertaan Allah di tengah jemaat-Nya. Dialah shekinah Allah di tengah umat-Nya. Ia selalu menyertai Gereja selamanya. Maka Injil Matius tidak berakhir dengan Yesus naik ke Surga. Ia harus tetap mendampingi para murid-Nya, berziarah bersama mereka selamanya.

Ketiga, Yesus memberdayakan para murid-Nya. Kuasa ilahi berkaitan dengan kasih bukan ambisi. Maka, kuasa itu selalu dibagi. Bapa berbagi dengan Anak, Anak berbagi dengan para murid-Nya. Misi para murid, dengan demikian, berakar dan mengalir dari kuasa Yesus sendiri. Inti misi mereka sama dengan panggilan mereka dahulu. Karena mereka sudah menjadi murid Yesus, maka merekapun harus “memuridkan sesama”. Dalam perjalanan misi, tugas utama mereka adalah menjadikan semua orang pengikut Yesus: yang mengalami sapaan-Nya, mengikuti dan terlibat dalam misi-Nya untuk memberitakan Injil, mengajar dan menyembuhkan.

Misi itu dimulai di Galilea: tempat Tuhan ‘menemukan’ dan memanggil mereka. Misi sejati selalu berakar pada konteks nyata dan pada perjumpaan dengan Tuhan. Perhatikan juga jumlah para murid: hanya tersisa sebelas. Kelompok 12 tidak lagi lengkap! Itu sinyal bahwa misi kitapun tidak selalu sempurna. Pengkhianatan dan kegagalan siap menghadang. Di hadapan Yesus yang bangkit, sikap sebelas murid perdana itu pun tidak sempuna: ada yang menyembah, ada yang bimbang. Itu cerita lama yang selalu nyata. Kadang kita menyembah-Nya, kadang kita meragukan-Nya. Lalang dan gandum selalu bertumbuh bersama, dalam jemaat dan dalam diri setiap kita. Hal itu tidak menciutkan langkah kita untuk menjadikan semua orang “murid-Nya”. Mengapa? Karena Yesuslah yang pertama “mendekati kita” (ay. 18). Dia membagi kuasa-Nya kepada semua murid-Nya: yang rapuh dan yang teguh, yang menyembah dan yang ragu. Bukan hanya itu, Ia pun berjanji untuk “menyertai” kita. Selamanya!

(Hortensius Mandaru – Lembaga Alkitab Indonesia Jakarta)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Dunia Keuangan: Marilah kita berdoa bagi mereka yang bertanggung jawab dalam keuangan agar bekerja sama dengan pemerintah untuk mengatur bidang keuangan dan melindungi warga dari bahaya. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Para buruh: Semoga pemerintah dan pengusaha dapat segera menemukan jalan untuk mengatasi krisis pengangguran dan berusaha untuk sedapat mungkin mencegah terjadinya Pemutusan Hubungan Kerja. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Sudilah menjadikan Santo Yoseph pelindung para pekerja kami, sehingga mampu melaksanakan tugas mereka dalam keluarga dan masyarakat luas, sehingga menemukan kebahagiaan dalam tugas mereka. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s