Hukum yang Paling Utama

Renungan Harian Misioner
Kamis, 03 Juni 2021
P. S. Karolus Lwanga, dkk

Tb. 6:10-11; 7:1,6,8-13; 8:1,5-9a; Mzm. 128:1-2,3,4-5; Mrk. 12:28b-34. atau dr Ruybs

Setelah mendengar percakapan antara Yesus dan orang-orang Saduki soal kebangkitan, salah seorang dari ahli Taurat menjadi sangat kagum. Sebagai seorang ahli hukum, rupanya ia belum puas dengan pengetahuannya tentang hukum. Karena itu ia ingin bertanya secara pribadi kepada Yesus tentang hukum yang paling utama, bukan untuk mencobai atau menjerat Yesus seperti yang sering dilakukan oleh para ahli Taurat lainnya, melainkan untuk mendapat jawaban yang pasti dan melegakan hatinya.

Yesus menjawabnya dengan kutipan dari Kitab Ulangan, “Hukum yang utama adalah: “Dengarlah , hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu” (Ul. 6:4-5).

Kutipan ini sebenarnya juga merupakan doa harian orang Israel yang terkenal dengan “Shema Israel” (“Dengarlah hai Israel…”) . Mereka sudah mengenal doa ini sejak kecil. Dalam doa itulah bangsa Israel diingatkan secara terus menerus akan satu hal yang fundamental, yakni bahwa Tuhan Allah tidak boleh terlupakan dalam kehidupan. Allah harus menjadi pusat pikiran, hati dan segala usaha manusia. Karena itu kasih yang sejati merupakan suatu keputusan untuk terus berjuang menjadikan Allah sebagai yang pertama dan utama.

Kasih yang diajarkan Yesus bukan sekadar kasih romantika dan kasih persaudaran yang sifatnya sementara dan ekslusif, melainkan kasih abadi dan inklusif. Kasih abadi tiada duanya. Ia tidak layu oleh waktu dan tidak lekang oleh zaman. Ia tanpa tanpa batas, tidak tergantung warna kulit, waktu, umur, gender, asal-usul, pangkat atau derajat. Kasih ini yang membuat seseorang tetap mencintai walau dibenci, tetap melayani walau disakiti. Inilah sesungguhnya kasih Allah kepada umat manusia. Kasih semacam ini terasa berat untuk dilakukan, tetapi bukan berarti tidak mngkin.. Adanya para kudus dan para martir yang selalu diperingati dalam kalender liturgi Gereja, merupakan bukti bahwa apa yang tidak mungkin menjadi mungkin karena kedekatan mereka dengan Allah. Kasih semacam inilah yang diperjuangkan oleh St. Karolus Lwanga dan juga para pengikutnya. Kebenaran akan ajaran Yesus mereka bela mati-matian, yang mengakibatkan mereka sendiri dimartir oleh Raja Mwanga.

Hukum utama yang kedua adalah: “Kasihilah sesamamu mansia seperti dirimu sendiri”. Kasih yang berakar dalam Allah tampak dalam sikap yang tepat terhadap sesama manusia. Sesama adalah ciptaan yang juga ingin bersatu dengan-Nya. Ketika kasih akan Allah dinyatakan kepada sesama, maka kasih itu menjadi murah hati, lemah lembut, sabar, sederhana, dan mengampuni, seperti syair lagu yang sering kita dengar.

Buah percakapan Yesus dengan salah seorang Ahli Taurat akhirnya menjadi sebuah kabar gembira: “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah”.

(RP. Anton Rosari, SVD – Imam Keuskupan Bogor)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Keindahan Perkawinan: Marilah kita berdoa bagi kaum muda yang sedang mempersiapkan perkawinan dengan dukungan komunitas Kristiani: semoga mereka bertumbuh dalam cinta, dengan kemurahan hati, kesetiaan dan kesabaran. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Pegiat dan pengguna media sosial: Semoga semua pegiat dan pengguna media sosial dikaruniai keutamaan untuk dapat terus berkreasi menebarkan hal-hal positif dan terhindar dari hal-hal yang merugikan diri sendiri, keluarga, maupun masyarakat. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Berkenanlah memberi kami hati, seperti Hati Putera dari Bapak Yoseph, untuk mengambil bagian secara tulus dalam membangun Paguyuban Umat Beriman dalam keluarga-keluarga dan komunitas-komunitas kami. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s