Dia Bukan Korban, Namun Memilih Menjadi Kurban

Renungan Harian Misioner
Minggu, 06 Juni 2021
HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS

Kel. 24:3-8; Mzm. 116:12-13,15,16bc,17-18; Ibr. 9:11-15; Mrk. 14:12-16,22-26.

Peristiwa ini mungkin terjadi pada Kamis 6 April tahun 30 M, sehari sebelum Paskah. Yerusalem sudah penuh dengan peziarah. Sekitar jam 3 petang, domba Paskah disembelih di Bait Allah. Lemaknya dibakar di atas altar, darah diperciki di dasarnya. Sisa domba itu dikembalikan kepada pemiliknya untuk dipanggang dan disantap di rumah, penginapan, atau di mana saja di dalam batas kota Yerusalem. Konon untuk menampung banyaknya peziarah, batas-batas Kota Suci itu diperluas. Semua ragi harus dibuang, sebab mereka hanya boleh makan roti tidak beragi. Mereka harus kembali ke fitrah: kepada kesejatian-diri yang belum tercemar oleh ragi dunia ini.

Pada latar Paskah Yahudi inilah Yesus memaknai Perjamuan-Nya bersama para murid. Ia merayakan Paskah yang baru untuk menggantikan perjamuan Paskah yang lama. Ada beberapa ciri utamanya. Pertama, Yesus sendiri menyiapkan Perayaan Paskah ini. Dengan tepat perjamuan ini selanjutnya disebut Perjamuan Tuhan. Inilah perayaan Paskah-Nya (14:12,14): Dialah yang menjadi tuan rumah. Ia sadar apa yang bakal terjadi; Ia sepenuhnya mengendalikan situasi (14:16). Nasib akhir-Nya bukanlah takdir, tetapi konsekuensi. Salib adalah akhir yang disiapi, bukan dideritai. Dia bukan korban, justru Dialah yang memilih menjadi kurban. Biasanya, manusia yang membawa kurban ke hadirat Allah. Dalam Paskah yang baru: justru Allah yang berkurban bagi manusia!

Kedua, Perjamuan Paskah yang baru ini berfokus pada tindakan dan kata-kata Yesus atas roti dan anggur. Unsur-unsur Paskah Yahudi lainnya: domba, sayur pahit dan narasi Eksodus tidak disebut. Lewat Perjamuan itu Yesus memaknai penderitaan dan wafat-Nya. Roti yang Ia pecah-pecahkan adalah lambang tubuh-Nya yang akan mengalami penderitaan dan kematian penuh kekerasan. Roti itu juga Ia bagi-bagikan kepada para murid-Nya. Ia memberi mereka bagian dalam berkat yang Ia peroleh dari serah-diri itu. Yesus mau mengatakan bahwa Ia wafat demi orang lain, demi penebusan dosa manusia (bdk. Mrk. 10:45).

Ketiga, anggur yang diberikan Yesus kepada para murid adalah “darah perjanjian”. Perjanjian Lama disahkan secara ‘luaran’: melalui darah binatang yang diperciki Musa atas umat Israel (Kel. 24:8). Perjanjian Baru disahkan oleh Yesus dengan darah-Nya yang ‘masuk ke dalam’ (diminum) Umat-Nya yang baru. Para murid minum dari satu piala (14:23). Mereka mau berbagi hidup dan nasib dengan Yesus dan sesama. Karena darah berarti “hidup”, maka meminum darah Yesus berarti juga mengambil bagian dalam hidup Yesus yang akan Ia berikan di salib.

Keempat, Perjamuan Tuhan diakhiri dengan warna optimis: minum anggur baru dalam Kerajaan Surga. Saat sedih dan kecewa karena dikhianati, Yesus tetap yakin bahwa akhirnya Ia akan dipulihkan oleh Allah (14:28). Para murid harus optimis. Kesatuan jasmani mereka dengan Tuhan akan diganti dengan kesatuan rohani. Kita dihidupi oleh sang Hidup yang kita santap. Kita diubah menjadi seperti Dia yang kita santap. Dengan menyantap sang Anak, kita menjadi anak-anak Allah.

(Hortensius Mandaru – Lembaga Alkitab Indonesia Jakarta)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Keindahan Perkawinan: Marilah kita berdoa bagi kaum muda yang sedang mempersiapkan perkawinan dengan dukungan komunitas Kristiani: semoga mereka bertumbuh dalam cinta, dengan kemurahan hati, kesetiaan dan kesabaran. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Pegiat dan pengguna media sosial: Semoga semua pegiat dan pengguna media sosial dikaruniai keutamaan untuk dapat terus berkreasi menebarkan hal-hal positif dan terhindar dari hal-hal yang merugikan diri sendiri, keluarga, maupun masyarakat. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Berkenanlah memberi kami hati, seperti Hati Putera dari Bapak Yoseph, untuk mengambil bagian secara tulus dalam membangun Paguyuban Umat Beriman dalam keluarga-keluarga dan komunitas-komunitas kami. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s